Showing posts with label Technique. Show all posts
Showing posts with label Technique. Show all posts

Saturday, November 11, 2017

Dasar Bermain Harmonika Tremolo

Banyak juga pertanyaan datang ke saya, soal cara bermain harmonika Tremolo.

Wah, jujur, saya agak susah menjawabnya, karena memang saya secara pribadi lebih cenderung fokus di harmonika diatonik. Saya juga nggak punya harmonika Tremolo. Beberapa kali beli, selalu saya jadikan hadiah buat anak-anak, ketika saya "jualan" EO...hehehehhe....
Nah, daripada susah, mending kita dengar nasehat dan petuah dari yang sering mainin harmonika jenis ini deh...Agak telat sih tayangnya, cuma daripada enggak sama sekali ya...? Hehehehe...

Berikut pak Arif Sidarta akan memberikan penjelasan mengenai dasar bermain harmonika jenis Tremolo.

Terima kasih banyak untuk pak Arif, bro Helmy Fairuz, dek Rona Telam Selliy dan masbro R'Van Hermawan yang datang jauh-jauh dari Semarang untuk nggonjrengin dan kasih backing sound...wkwkww...

Sila dinikmati!






Sunday, October 29, 2017

Jagalah Kebersihan (Harmonika) !

Hei!

Slogan "Jagalah Kebersihan" ternyata nggak cuma berlaku untuk lingkungan hidup.
Harmonikapun harus tetap dijaga kebersihannya. Kita tahu bahwa harmonika adalah alat musik yang dimainkan dengan menggunakan mulut. Artinya, mulut kita bersinggungan langsung dengan alat musik ini. Beda tentunya dengan gitar atau piano yang menggunakan tangan. Kalau harmonika kita tidak dijaga kebersihannya, lantas bagaimana nasib mulut kita ya?
Aduh, amit-amit deh, mendingan dijaga kebersihannya....
Daripada mulut kita kenapa-kenapa,.. Ya nggak?

Nah, video ini saya buat untuk mengingatkan teman-teman supaya rajin menjaga kebersihan harmonika masing-masing. Sepele sih, tapi jangan salah, justru hal yang sederhana ini kalau terlalu sering dilewatkan, kita sendiri yang akan rugi.



Jadi, tak ada salahnya bukan...?

Selamat menjaga kebersihan harmonikamu, kawan!

Saturday, June 11, 2016

Two Holes Blues

Hai!

Kalau pas lagi di luar kota, terus kepengen ngajak kopdaran sesama pencinta harmonika, tapi gak ada yang nanggepin, itu rasanya gimanaaaa gitu...ehehehehe....

Tapi, woles lah...kita mah yang penting enjoy. Nah, ceritanya kali ini, daripada manyun gara-gara batal kopdaran, saya ingin berbagi tentang Blues Scale, khususnya kalau kita mau main Blues hanya dengan menggunakan beberapa lubang pada harmonika diatonik.

Ada yang pernah nanya :"Emang bisa ya, main Blues cuma di lubang 1 & 2?"
Kali ini, saya akan menjawabnya ;"BISA!"

Meski hanya dengan menggunakan 2 lubang saja, kita masih bisa kok memainkan musik Blues...
Kita simak ya video berikut ini..maaf kalau TKP nya di kamar mandi...hahahahah....

Semoga berguna ya....Salam Sedot Sebul!




Tuesday, April 19, 2016

Blues Scale pada Harmonika Diatonik

Fiuuhhh…

Setelah sekian lama, akhirnya saya bisa kembali membuat video tutorial tentang
harmonika. Kali ini saya ingin berbagi satu pemahaman dasar mengenai Blues
Scale
. Sebenarnya video ini saya buat karena banyak teman menanyakan cara
memainkan musik Blues dengan menggunakan harmonika diatonik. Nah, sebelum bisa
memainkan musik Blues, pertama kali kita harus tahu tangga nada atau Scale nya
terlebih dahulu. Khusus pada video ini saya hanya membahas tentang nada-nada
yang terdapat dalam Blues Scale pada oktaf pertama.

Oke, tanpa harus banyak cingcong lagi, segera kita simak
video berikut ini. Tetap semangat dan Salam Sedot Sebul!!!


Sunday, August 30, 2015

Contoh pola Chugging

Hai hai....Kali ini saya ingin mengajak teman-teman untuk belajar teknik Chugging. Pada prinsipnya teknik Chugging itu menirukan suara lokomotif kereta api, namun bisa juga dimodifikasi menjadi beberapa pola lain.

Nah, pada video saya kali ini, variasi yang ingin saya bagikan menggunakan pola "Chak-a-Chak-a". Apa itu ya?

Ya, itulah rangkaian suku kata yang diucapkan sembari kita menyedot atau meniup harmonika kita. Lidah memainkan peran penting dalam memotong aliran udara, dengan menyebutkan rangkaian suku kata tersebut.

Berikut contoh pola variasi Chugging yang saya mainkan dalam video ini :

"Chak-a-Chak-a | Chak-a-Chak-a | Chak-a-Chak-a | Duuu-Duuu |"

Penerapannya sama saja saat meniup atau menyedot, bedanya, saat menyedot, kata "Chak-a" seolah diucapkan sambil menghisap udara, sementara kata "Duuu-Duuu" kita ucapkan saat meniup. Sebaliknya, saat meniup, kata "Chak-a" kita ucapkan sembari meniup, sedangkan kata "Duuu-Duuu" kita ucapkan sambil menghisap. Ini perlu dilakukan karena sebenarnya bermain harmonika pada prinsipnya sama seperti kita bernafas. Kita tak bisa terus menerus menyedot, tanpa meniup, karena paru-paru kita akan keburu penuh dengan udara. Begitu juga saat meniup, kita tak bisa melakukannya terus menerus, karena paru-paru kita akan keburu kehabisan udara. Nah, dalam contoh pola di atas, kata "Duuu-Duuu" menjadi semacam mekanisme penyeimbang. Saat kita menyedot, "Duuu-Duuu" menjadi mekanisme pembuang udara, sedangkan saat meniup, menjadi mekanisme pengambil udara.

Bingung? Coba kita lihat pola berikut ini :

# Menyedot :

"Chak-a-Chak-a | Chak-a-Chak-a | Chak-a-Chak-a | Duuu-Duuu |"
         (sedot)                 (sedot)                  (sedot)              (tiup)

# Meniup :

"Chak-a-Chak-a | Chak-a-Chak-a | Chak-a-Chak-a | Duuu-Duuu |"
         (tiup)                     (tiup)                     (tiup)              (sedot)

Cobalah dengan tempo yang sangat lambat, lalu makin lama makin dipercepat.

Baiklah, selamat mencoba, semoga berguna ya! Salam Sedot Sebul!

Saturday, December 27, 2014

Tips Harmonika : WahWah, Hand Tremolo & Tongue Blocking

Hai!
Pergantian tahun 2014 ke 2015 sebentar lagi tiba. Sebelum masa itu datang, saya kok rasanya kepengen bikin video tutorial lagi, tapi bingung mau bikin apa.

Nah, akhirnya terpikir untuk berbagi mengenai beberapa tips sederhana dalam bermain harmonika diatonik. Ada beberapa teknik, yaitu teknik "WahWah", Hand Tremolo dan Tongue Blocking.

O iya, video ini saya buat sekalian dalam rangka uji coba smartphone saya yang baru beli (ahahaah....pamer nih ceritanya...), yaitu Acer Liquid E700. Saya penasaran dengan kemampuannya merekam video. Ada kelemahan yaitu autofokus nya berubah-ubah, sehingga mengganggu tampilan bila Anda lihat di video ini. Namun soal audio justru lumayan bersih, lho....

Ah, tapi bukan itu intinya....Intinya saya ingin berbagi sesuatu kepada teman-teman Pencinta Harmonika, sebelum tutup tahun 2014 ini. Sekali lagi, semoga bermanfaat dan tetap semangat!

Salam Sedot Sebul!








Sunday, December 15, 2013

Teknik Vibrato pada Harmonika Diatonik

Ah, akhirnya satu hutang sudah bisa saya lunasi!

Sudah lama saya hendak membuat video tutorial tentang salah satu teknik bermain harmonika diatonik yang ditanyakan oleh beberapa teman, baik di grup FB maupun di blog ini.

Teknik tersebut adalah teknik Vibrato. Teknik Vibrato pada harmonika diatonik pada intinya akan menghasilkan perubahan pada suara yang dihasilkan. Perubahan yang terjadi adalah perubahan tinggi rendah nada atau pitch nada secara berulang-ulang. Perubahan itu sebenanya tak perlu terlalu besar, namun cukup dapat memberikan warna pada permainan harmonika kita.

Sejauh yang saya tahu, ada dua macam teknik dasar vibrato, yaitu vibrato yang menggunakan lidah (Tongue Vibrato) dan tenggorokan (Throat Vibrato). Biasanya vibrato digunakan pada akhir suatu baris lagu, dan karena berfungsi sebagai pemanis, vibrato justru tidak disarankan untuk dilakukan di sepanjang baris atau bahkan lagu....:)

Hmmm...tanpa perlu berpanjang-panjang, lebih baik saksikan video singkat berikut ini. Keraskan sedikit volume speaker Anda, karena (mohon maaf) audionya mungkin agak kurang keras. Mohon maaf pula bila masih terdapat kekurangan di sana-sini. Saya hanya sekedar ingin berbagi, dan semoga teman-teman semua dapat merasakan manfaatnya.

O, ya, pada video ini saya menggunakan harmonika kunci A, sehingga, saat saya memainkan 2nd Position, maka nada dasarnya adalah do= E.

Selamat menyaksikan!



Friday, August 9, 2013

Posisi dalam Bermain Harmonika Diatonik: 1st Position

Menakjubkan!

Mungkin itu yang bisa mewakili perasaan saya ketika pertama kali berkenalan dengan harmonika diatonik. Bagaimana tidak, setelah membaca berbagai artikel, dan melihat video di sana-sini, saya tercengang mengetahui fakta bahwa alat musik sekecil itu bisa memainkan berbagai macam kunci/nada dasar. Padahal sebelumnya, saya berpikir, sebuah harmonika diatonik hanya bisa memainkan satu nada dasar saja, yaitu nada dasar yang tertulis di badannya. Fiiuuhhh....bahkan dengan teknik bermain tingkat dewa yang sering disebut teknik Overbend, kita bisa memainkan lagu dengan SEMUA nada dasar, termasuk nada dasar kromatik!

Yah, rahasianya terletak pada hal yang kita sebut dengan Posisi Bermain. Mirip dengan piano, kitapun sebenarnya bisa memainkan sebuah lagu dalam beberapa nada dasar, dengan cara mengubah posisi bermain kita. Posisi yang dimaksud di sini adalah posisi atau letak nada dasar/nada akar (rootnote) kaitannya dengan lubang-lubang pada harmonika, dan cara membunyikannya (sedot/tiup). Ada beberapa posisi bermain harmonika diatonik, namun kali ini saya ingin membagikan sekilas mengenai posisi pertama, atau yang dalam bahasa Inggris disebut 1st Position, atau juga Straight Harp.

Dengan menggunakan posisi pertama ini, berarti kita bermain dalam nada dasar seperti yang tertulis pada badan harmonika diatonik yang kita pakai. Misalkan, pada sebuah harmonika diatonik, ada tertulis kunci C. Bila kita menggunakan posisi pertama, berarti kita bermain dalam nada dasar do=C. Rootnote atau nada dasarnya terletak di lubang 1 tiup, lubang 4 tiup, lubang 7 tiup dan lubang 10 tiup. Ada 3 oktaf yang dapat kita mainkan, yaitu oktaf bawah, oktaf tengah dan oktaf atas. Namun hanya pada oktaf tengahlah, dapat kita temui nada-nada diatonis lengkap yang terangkai dalam tangga nada Mayor. Istilah gampangnya : SOLMISASInya lengkap, yaitu: do-re-mi-fa-so-la-si-do.

Pada oktaf bawah dan oktaf atas, akan ditemui fakta bahwa kita "kehilangan" beberapa nada. Misalkan, pada oktaf bawah,  kita kehilangan nada "fa" dan nada "la". Begitu juga pada oktaf atas, nada yang hilang adalah "si". Sebagai informasi, nada-nada yang "hilang" tadi dapat diperoleh dengan menggunakan teknik Bending, baik Bending Sedot (drawbend) maupun Bending Tiup (blowbend). Namun untuk pemula, saya rasa menggunakan oktaf tengah saja sudah cukup, mengingat semua nada diatonis tersedia di sana.

Diagram sederhana dari susunan nada dengan menggunakan posisi pertama adalah sebagai berikut:

Sementara, saya juga telah membuat sebuah video tutorial (amatir) mengenai posisi pertama ini. Video ini saya unggah sebagai sebuah alat bantu yang diharapkan dapat memberi pemahaman yang lebih baik, karena ada dimensi audio visualnya.

Semoga membantu ya...tapi mohon maaf, bila kualitas videonya kurang baik. Maklum, saya hanya menggunakan sebuah handycam sederhana. Untuk posisi yang lain, tunggu saja tulisan saya berikutnya.



SalamSedotSebul!

Saturday, July 20, 2013

Reed Gapping

Pernah mengalami hal seperti berikut ini?

Anda membeli sebuah harmonika, lalu mencoba memainkannya, tetapi pada beberapa lubang, nampaknya Anda mengalami kesulitan untuk membunyikannya? Seperti tertahan, tercekik, atau bahkan terasa berat? Padahal menurut Anda, teknik yang digunakan sudah benar...

Tenang!...Hal seperti ini jamak dialami. Terutama ketika kita membeli harmonika diatonik yang murah, katakanlah seharga kurang dari Rp. 100.000,00. Tapi jangan salah, dengan harmonika yang lebih mahal, Anda juga bisa mengalami hal yang sama. Jangan kuatir, tak usah terburu-buru memvonis bahwa harmonika yang Anda beli itu cacat! Biasanya, masalah seperti itu dapat diatasi dengan satu cara mudah, yang kerap disebut dengan teknik "Reed Gapping". Bagi pemain harmonika, sangat disarankan untuk dapat menguasai teknik ini.

Reed Gapping artinya melakukan penyesuaian jarak kerenggangan (gap) antara Reed dengan Reed Slot. Kesulitan dalam menghasilkan suatu nada pada lubang tertentu, kemungkinan karena kerenggangan reed yang dimaksud itu masih terlalu sempit. Hasilnya tentu saja, reed akan susah bergetar, dan sulit menghasilkan bunyi.

Teknik Reed Gapping sebenarnya gampang. Anda hanya perlu menambah sedikit saja jarak antara reed dengan slot nya. Alat yang dibutuhkan sangatlah sederhana : Struk ATM! Ya! Kertas yang keluar dari mesin ATM, setiap kali kita melakukan transaksi. Mengapa struk ATM? Coba Anda perhatikan, kertas ATM memiliki tingkat kelenturan yang cukup baik, tak mudah sobek, dan permukaannya cenderung licin. Karakter ini sangat memudahkan kita dalam melakukan Reed Gapping. Karena perubahan jarak kerenggangan yang akan kita raih tak terlalu besar, maka kita harus berhati-hati dalam melakukan teknik ini. Sampai-sampai ada yang menyebutnya seolah-olah kita me"massage" atau memijat Reed yang ada.

Nah, kertas ATM tadi sangat cocok untuk kita pakai. Kelenturannya yang bagus akan meminimalisir kemungkinan kita mematahkan Reed. Permukaannya yang licin juga akan membantu kita "memijat" secara halus dan merata. Cara melakukannya, dapat Anda lihat pada gambar di atas. Ingat, tak usah terlalu keras menekan kertasnya. Cukup selipkan kertas sampai ke pangkal Reed, lalu tarik perlahan sambil sedikit diangkat. Lakukan ini secara searah dan berulang-ulang. Berhati-hatilah supaya kerenggangan yang dihasilkan tak terlampau lebar, karena ini akan menyebabkan harmonika menjadi "ngempos".

Biasanya, bagi pemula, setelah membeli harmonika, lubang-lubang yang berpotensi mendatangkan masalah adalah lubang 2 dan 3. Namun tak tertutup kemungkinan ada lubang yang lain juga. Oleh karena itu, teknik ini layak dicoba. Untuk lebih lengkapnya, silakan simak video dari Adam Gussow berikut ini :

Baiklah, semoga tips ini berguna untuk Anda yang mengalami masalah seperti yang sudah saya sebutkan di awal. Ingat, sebisa mungkin latihlah kepekaan Anda dalam melakukan teknik ini, supaya dapat meraih jarak kerenggangan yang pas!
Selamat mencoba, dan berhati-hatilah!

Tuesday, June 11, 2013

Utak-atik Harmonika...

Sebagai seorang pemain harmonika, sepertinya lebih asyik bila kita memiliki pengalaman dalam melakukan beberapa perubahan terhadap harmonika kita. Istilahnya : Modifikasi!
Tak perlu yang rumit-rumit, kadang yang sederhana saja bisa menjadi satu pengalaman yang seru. Hanya butuh sedikit keberanian untuk berpikir kreatif, dan tak lama, hasilnya akan terwujud...

Kali ini saya ingin sedikit membagikan pengalaman saya dalam melakukan beberapa modifikasi terhadap harmonika diatonik milik saya. Kebetulan, modifikasi tersebut saya terapkan pada harmonika saya yang murah, supaya saya tak terlalu menyesal bila hasilnya tak sesuai harapan...hahahaha...

Modifikasi ini hanya sebatas komponen luar, tak termasuk modifikasi reed plate, reed ataupun comb, yang menurut saya sudah termasuk kategori modifikasi "berat". Maklum, masih ngeri melakukan yang begituan...wkwkwk..

Modifikasi pertama saya dilandasi oleh rasa kesal pada harmonika merk ANGEL yang saya beli dan ternyata fals itu! Saya sempat ingin membuangnya, tetapi terinspirasi oleh percobaan teman saya, maka saya berniat untuk menggunakan cover plate harmonika ANGEL itu untuk dipasang pada harmonika saya yang lain.
Setelah mencermati bentuk dan ukurannya, akhirnya saya mendapati bahwa ukuran cover plate harmonika ANGEL sangat pas untuk dipasang di Suzuki Easy Rider saya. Selain itu, menurut saya bahannya lebih tebal dan kokoh ketimbang yang dimiliki oleh EZR tersebut. Pada gambar terlihat, harmonika ANGEL yang asli berada di sebelah bawah, dan Suzuki EZR dengan cover plate ANGEL pada bagian atas. Sangat pas bukan?
Untuk contoh suaranya, dapat Anda lihat di rekaman yang saya buat saat saya terbangun di suatu pagi dan tiba-tiba merasa ingin memainkan harmonika saya. Jadi maaf kalau banyak "polusi suara" dan muka yang masih acak adut...hahahaha...

Berikutnya, juga masih terkait dengan harmonika diatonik Suzuki tipe EasyRider. Bila Anda tahu, bagian belakang harmonika ini memiliki lubang coverplate yang tak terlalu lebar. Nah, yang saya lakukan adalah memperlebar lubang ini supaya lebih "mangap". Asumsi saya, volume suara yang dihasilkan dapat menjadi lebih besar. Cara saya memperbesar lubang tersebut adalah dengan membengkokkan coverplate bagian belakang menggunakan tang jepit. Kebetulan bahan coverplate Suzuki EZR cukup lunak untuk dapat ditekuk. Namun saya musti berhati-hati supaya cover plate-nya tak patah.
Ingin tahu seperti apa suaranya? Silakan simak video berikut ini, asal jangan protes ya..hehehe..karena rekaman ini dibuat saat saya masih baru belajar harmonika, jadi masih banyak "ngarang"-nya :
Sekali lagi ini hanya sekedar contoh modifikasi ringan. Modifikasi yang lain tentunya dapat Anda lakukan sendiri sesuai dengan daya imajinasi Anda. Oleh karena itu, selamat mengutak-atik harmonika Anda!


Wednesday, May 8, 2013

Teknik Bending pada Harmonika (bag. III)

Melanjutkan tulisan saya sebelumnya, kali ini saya ingin berbagi mengenai tips dan trik untuk melakukan teknik Bending.

Seperti yang sudah pernah saya bahas, ketika seorang pemain harmonika melakukan teknik Bending, sebenarnya dia sedang mengendalikan arah aliran udara yang melewati lubang dan reed. Perubahan arah aliran udara ini dapat terjadi dengan mengubah kombinasi posisi bibir, rongga mulut dan lidah. 

Selanjutnya, kita harus paham reed mana saja yang bisa di"bend". Berdasarkan jenisnya, ada dua jenis Bending, yaitu Draw Bend (bending sedot) dan Blow Bend (bending tiup). Pembagian lubang berdasarkan jenis bending yang dapat diterapkan adalah sebagai berikut : 

  1. Draw Bend : lubang 1, 2, 3, 4, 5 dan 6
  2. Blow Bend : lubang 8, 9 dan 10
>> DRAW BEND

Dalam melakukan Draw Bend, ada salah satu cara yang dapat diterapkan. Bayangkan Anda mengucapkan suku kata ini : "Iiiiii......" lalu dalam sekejap ganti kata itu dengan suku kata ini : "Oooo.....". Coba rasakan betul-betul. Ketika Anda mengubah vokal dari "Iiiii..." ke "Oooo..." secara cepat, dapat Anda rasakan seolah-olah ada bunyi konsonan "Y" di antara vokal "I" dan "O" tersebut. Jadi, secara utuh, Anda seperti mengucapkan kata : "IiiiiiYyyyOoooo....". 
Nah, sekarang, coba Anda lakukan hal itu, tetapi dengan arah udara masuk ke dalam, alias sambil menghirup udara lewat mulut.  Lakukan hal yang sama, ucapkan kata "IiiiiYyyyOoooo....". Rasakan perubahan posisi lidah Anda ketika mengucapkan kata tersebut. Usahakanlah untuk dapat berdiri di depan cermin supaya Anda dapat melihat perubahan posisi antara rongga mulut, rahang dan bibir. Lalu ambil harmonika Anda, dan coba pilih salah satu lubang yang dapat di-Draw Bend, misalnya lubang ke 3. Praktekkan hal sebelumnya, dengan tetap menjaga kekedapan udara di rongga mulut dan seputar bibir. Coba juga untuk dapat menggerakkan rahang Anda ke bawah. Hal ini dilakukan untuk memperbesar rongga mulut Anda. Lakukan secara perlahan dan tak perlu terburu-buru. Ingat, Anda harus rileks dan tak usah bernafsu! Bila Anda belum dapat melakukannya, jangan menyerah! Tetap lakukan, dan lakukan, dan lakukan lagi.....! Ambil istirahat sejenak bila perlu. Setiap orang memiliki kecepatan belajarnya sendiri-sendiri.
Hal yang perlu Anda sadari adalah, perubahan posisi lidah dan rahang itulah yang akan mengubah arah aliran udara yang melewati reed. Anda mungkin tak dapat langsung menghasilkan nada yang akurat, alias hanya bisa membunyikan nada bending secara tak sengaja. Tapi tak jadi masalah, teus mencoba adalah kuncinya!

O ya, saya perlu memberitahu Anda bahwa semakin rendah nada nya (semakin mengarah ke lubang sebelah kiri) maka rongga mulut harus semakin besar, karena butuh "ruang vakum" yang lebih besar untuk menghisap, daripada ketika Anda melakukan Bending pada lubang-lubang  bernada lebih tinggi (misalnya lubang nomor  4 dan 5). Ingat saja prinsip alat suntik seperti yang sudah pernah saya muat dalam tulisan saya sebelumnya.

>> BLOW BEND

Pada prinsipnya, Blow Bend dapat dilakukan juga dengan mengubah posisi bibir, rongga mulut dan lidah. Menurut pengalaman saya, keberhasilan dalam melakukan Blow Bend lebih banyak dipengaruhi oleh perubahan posisi lidah dan bibir. Buatlah seolah-olah bibir dan lidah Anda menjadi keran bagi aliran udara yang Anda tiupkan ke dalam lubang harmonika. Cobalah untuk dapat mengubah-ubah besarnya celah bibir dan juga posisi lidah Anda. Latihan dengan mengucapkan vokal "O" dan "U" mungkin dapat membantu. Intinya sih, volume dan arah aliran udaralah yang harus Anda kendalikan. O ya, bagi pemula, mungkin akan lebih susah melakukan Blow Bend pada lubang ke 10, ketimbang lubang no 8 atau 9. Tapi tak apa...tetaplah mencoba!

Alangkah lebih baik juga bila sembari Anda berlatih, Anda membandingkan nada-nada yang dicari, dengan alat musik lain, seperti gitar atau piano. Ini dapat membantu Anda untuk memastikan apakah nada yang Anda cari sudah betul atau belum.

Berikut ini ada sebuah video tentang tips dan trik melakukan teknik Bending, yang saya buat dengan salah seorang teman di grup Pencinta Harmonika, yaitu mas Risky Virga :


Nah....kalau Anda sudah mencoba berkali-kali namun belum berhasil juga, jangan kecil hati! Saya sendiri baru dapat melakukan teknik Bending setelah 3-4 bulan berlatih terus menerus. Sedangkan, ada teman saya (yang jauh lebih muda) yang sudah dapat melakukannya hanya dalam waktu 2 minggu sejak pertama ia mencobanya....Yah, tiap orang mempunyai waktunya sendiri-sendiri bukan?

Baiklah, semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi Anda yang sedang belajar teknik Bending. Sekali lagi, seperti orang belajar naik sepeda, sekali Anda bisa, saya yakin Anda tak akan pernah lupa caranya. Jadi tetaplah semangat, rileks, jangan tegang dan jangan terburu-buru. Enjoy saja!


SalamSedotSebul!

Wednesday, May 1, 2013

Teknik Bending pada Harmonika (bag. II)

Setelah mengetahui secara sekilas awal mulanya teknik Bending pada harmonika muncul, mari kita membahasnya lebih lanjut. Ini perlu, supaya kita tak hanya sekedar bisa menggunakan teknik tersebut, tetapi juga tahu proses kerja yang terjadi pada sebuah harmonika diatonik, saat teknik ini dilakukan.

Coba kita kembali melihat skema nada-nada yang ada pada sebuah harmonika diatonik.


Kita ambil contoh, pada sebuah harmonika diatonik kunci C, lubang ke 3 bila ditiup akan menghasilkan nada G, sedangkan bila disedot akan menghasilkan nada B. Di antara dua nada itu ada beberapa nada yang hilang. Nah, dengan menggunakan teknik Bending, kita bisa mendapatkan  nada-nada yang hilang tersebut.

Dengan asumsi bahwa Anda sudah memiliki pengetahuan soal nada dan interval nada, sebetulnya bisa dikatakan demikian: teknik Bending adalah sebuah teknik bermain harmonika, untuk mendapatkan nada-nada yang hilang, di antara DUA nada yang tersedia dalam 1 lubang, yang memiliki SELISIH/JARAK/INTERVAL nada. Perlu dipahami bahwa penerapan teknik Bending pada lubang tertentu, akan selalu menghasilkan nada yang lebih rendah daripada nada tertinggi yang dapat dihasilkan pada lubang tersebut.

[Pada contoh sebelumnya, bisa dipahami seperti ini : 
Lubang ke 3 menghasilkan nada tertinggi yaitu nada B (sedot), sedangkan nada terrendahnya adalah nada G (tiup). Dua nada ini mempunyai selisih sebesar 2 nada (B ke A = 1 nada, A ke G = 1 nada),  sehingga dengan teknik Bending, kita bisa membunyikan nada yang lebih rendah dari nada B. Dalam hal ini sebenarnya ada 3 nada KROMATIS yang bisa dihasilkan, yaitu nada A#, A dan G#.]

>> PRINSIP DASAR BENDING <<

Ketika seorang pemain harmonika melakukan teknik Bending, sebenarnya dia sedang mengendalikan aliran udara yang mengalir melewati reed. Pengendalian yang dimaksud adalah pengendalian terhadap arah aliran dan kekedapan udaranya. Bayangkan Anda sedang meminum air menggunakan sedotan. Atau mungkin perhatikan sebuah alat suntik ketika seorang dokter mengambil darah Anda. Proses seperti itulah yang terjadi ketika Anda melakukan Bending. Satu kondisi yang mutlak dipenuhi adalah soal kekedapan udara. Pernahkah Anda meminum air dengan menggunakan sedotan bocor? Susah sekali bukan? Nah, sama juga saat Anda melakukan Bending, Anda harus menjaga supaya aliran udara dalam rongga mulut dan harmonika tidak bocor, alias kedap. Tetapi tidak hanya itu saja. Anda juga harus dapat mengendalikan arah aliran udara yang mengenai reed, dengan mengubah kombinasi posisi lidah, bibir dan rongga mulut.

>> APA YANG SEBENARNYA TERJADI? <<

Ada dua jenis Bending, yang pertama adalah Bending sedot (Draw Bend), yang kedua adalah Bending tiup (Blow Bend). Dari namanya sudah jelas, bahwa Draw Bend diterapkan pada reed sedot, sedangkan Blow Bend pada reed tiup. Namun Anda mungkin akan merasa heran saat mengetahui proses yang sebenarnya terjadi. Ketika Draw Bend dilakukan, reed yang bergetar dan menghasilkan suara justru reed tiup, dan ketika Blow Bend dilakukan, sebaliknya, yang bergetar dan berbunyi adalah reed sedot. Inilah yang perlu dipahami, kaitannya dengan arah aliran udara seperti yang saya sebutkan sebelumnya. Kedengaran aneh? Kalau tak percaya, mari kita simak video dari sang maestro harmonika diatonik, Howard Levy, berikut ini :



Nah, sekarang Anda sudah mendapatkan gambaran mengenai proses yang terjadi saat teknik Bending dilakukan. Berikutnya, akan saya bahas mengenai cara-cara dasar melakukan teknik Bending. Tentunya di tulisan saya selanjutnya. Jadi silakan terus menyimak...!


Teknik Bending pada Harmonika (bag. I)

Hei!

Saya rasa sekarang saatnya untuk membahas salah satu teknik bermain harmonika diatonik, yang paling spektakuler, dan membuat harmonika diatonik menjadi alat musik yang mencengangkan banyak orang.

Teknik itu disebut teknik Bending. Bending berarti menekukkan atau membengkokkan. Dalam hal ini yang di"bengkok"kan adalah nada...uhm, walaupun pengertiannya tak seharafiah demikian. Tapi mari kita selidiki bersama mengenai teknik yang kerapkali membuat penasaran para pemula.

Pada tulisan sebelumnya, saya pernah membahas mengenai susunan nada yang dapat dihasilkan oleh sebuah harmonika diatonik, yaitu susunan nada Richter (Richter Tuning). Dengan menggunakan susunan nada tersebut, sebuah harmonika ternyata mempunyai kekurangan, yaitu ada beberapa nada pada tangga nada mayor, yang "hilang" atau tak dapat dihasilkan dengan hanya menggunakan cara sedot & tiup biasa.


Pada awalnya, ketiadaan nada-nada tersebut dianggap sebagai sebuah cacat. Namun saat harmonika-harmonika buatan Jerman dibawa masuk ke Amerika (sekitar akhir abad 19-awal abad 20) dan dimainkan oleh orang-orang kulit hitam di sana, sesuatu yang ajaib terjadi. Dengan mengubah posisi bermain dari yang sebagian besar menggunakan nada tiup, menjadi sebagian besar nada sedot (belakangan inilah yang disebut dengan 2nd Position), ada lubang-lubang yang dapat menghasilkan nada lain.
Nada ini didapat dengan mengubah kombinasi posisi antara rongga mulut, bibir dan lidah. Inilah yang kemudian disebut "Teknik Bending". Dengan menggunakan teknik Bending, nada-nada yang tidak dapat diraih dengan cara sedot tiup "polos" biasa, dapat dihasilkan. Secara menakjubkan juga, tangga nada yang didapat dari 2nd Position ini adalah tangga nada yang sangat pas dengan Blues Scale, karena mengandung nada flatted 7th (gampangnya seperti ini: pada tangga nada mayor, nada "Si" diturunkan setengah-red). Jadi, yang awalnya sempat dianggap sebagai sebuah cacat, (karena ketiadaan beberapa nada) dengan adanya teknik ini justru mengubah segalanya. Teknik ini membuka  kunci pintu menuju ke sebuah dimensi baru dalam bermain harmonika. Boleh dikatakan, mungkin hal ini tak direncanakan sebelumnya oleh para pembuat harmonika. Blessing in disguise, maybe......hahahaa...

Tapi itulah uniknya harmonika....makin penasaran? Terus ikuti tulisan saya berikutnya....!

Sunday, April 7, 2013

Tak usah buru-buru...

Hey...

Saya yakin semua orang yang sedang belajar harmonika, terutama jenis diatonik, pasti ingin segera bisa memainkan harmonika dengan teknik bending, pada posisi 2, atau 3, dan sebagainya, demi mengejar nuansa musik "Blues" yang memang dapat dihasilkan secara unik oleh alat musik ini.
Tapi kebanyakan pemula justru seringkali merasa frustrasi ketika harus belajar teknik bending tersebut, atau ketika mereka harus memahami pola nada yang digunakan pada posisi 2.

Nah, menurut saya, bagi Anda yang sedang belajar tentang alat musik ini, tak usahlah terburu-buru untuk melesat ke tahap berikutnya, yaitu tahap penggunaan teknik bending, dan sebagainya. Nikmati saja dulu proses belajar tahap dasarnya. Sekali lagi, kuasailah dahulu cara mendapatkan nada tunggal (single note) secara bersih, rapi dan dengan kondisi rileks (jangan tegang). Gunakanlah dahulu posisi 1, yaitu posisi memainkan lagu dengan nada dasar lagu adalah sama dengan kunci yang tercetak pada harmonika.
Lancarkanlah dahulu teknik bernafas Anda. Gunakan diafragma dan maksimalkan ruang dalam rongga mulut Anda, supaya suara yang dihasilkan menjadi lebih sempurna.

O ya, ada sebuah video tutorial yang dibuat oleh seorang pemain harmonika handal (atau kalau boleh saya bilang : Maestro Harmonika Diatonik se-dunia) yang bernama Howard Levy. Beliau memberi contoh penggunaan 1 lagu yang dapat dimainkan secara mudah oleh pemula, tanpa harus pusing dengan teknik bending dan sebagainya. Pemula dapat berlatih memainkan lagu ini untuk membiasakan diri bermain secara bersih, rapi dan rileks. Intinya, tak perlu tergesa-gesa untuk "naik kelas". Nikmati dulu saja prosesnya, hehehe....

Nah, maka dari itu silakan simak video berikut ini...


Uhm...sebelumnya saya perlu memberitahu, untuk teknik bending, dan posisi bermain dalam harmonika, akan saya bagikan pada tulisan-tulisan saya berikutnya. Jadi jangan dulu terburu-buru, sobat! :)



Tuesday, March 26, 2013

First Kiss!

Setelah terkena sihir harmonika, saya segera memutuskan untuk membeli harmonika. Sempat mengalami kebingungan, akhirnya saya memilih untuk membeli harmonika jenis diatonik. Waktu itu yang saya beli adalah  Suzuki Folkmaster, kunci C. Saya memilih kunci C, seperti yang lazim digunakan oleh pemula (gambar disamping adalah gambar Suzuki Folkmaster, namun dengan kunci berbeda).

Seperti yang disarankan oleh para pemain harmonika yang sudah berpengalaman, tahapan pertama yang saya coba adalah membunyikan nada tunggal, atau istilahnya "Single Note". Ternyata tahap ini tak semudah yang saya kira. Kesulitannya adalah karena saat saya berusaha membunyikan nada di suatu lubang, nada-nada di lubang-lubang sebelahnya ikut berbunyi juga. Selama beberapa waktu saya masih juga menemui kesulitan ini. Sampai akhirnya saya menemukan klip ini di Youtube :


Ternyata kunci supaya dapat membunyikan nada tunggal, adalah posisi mulut yang rileks dan tidak tegang. Istilah yang digunakan adalah "Deep Relax Embochoure". Butuh waktu yang tidak sebentar bagi saya untuk menguasai teknik ini. Kesalahan saya yang terbesar adalah membiarkan bibir dan rongga mulut dalam keadaan tegang, serta cenderung "monyong" ke depan, mirip seperti orang hendak mencium....hehehehe...:D
Teknik seperti yang saya lakukan mungkin bisa disebut dengan teknik "Lip Puckering". Sebenarnya ada teknik lain, yaitu "Tongue Blocking", namun menurut saya, teknik ini tidak sesuai untuk pemula. Karena dengan bibir dan rongga mulut saja sudah susah untuk mendapatkan nada tunggal yang bersih, apalagi kalau harus menggunakan lidah.....RIBET!..:p

Karena saya termasuk sangat awam dalam bermain harmonika, saya membutuhkan waktu cukup lama untuk dapat membunyikan nada tunggal yang betul-betul bersih. Intinya memang, bibir dan mulut tidak boleh berada dalam kondisi tegang. Sebisa mungkin bila Anda baru belajar bermain harmonika, biasakan untuk selalu mempraktekan hal ini : RILEKS!

Mungkin Anda pikir, walaupun bibir dan mulut Anda tegang, Anda akan tetap mendapatkan nada tunggal. Hmm, yah..bisa saja begitu...tetapi kebiasaan yang demikian akan merugikan Anda di masa depan. Terutama ketika Anda dituntut untuk bermain melodi-melodi yang panjang, ditambah dengan tempo yang cepat, tak pelak Anda akan segera merasa lelah dan tak bisa menikmati permainannya.

Jadi sekali lagi, bila Anda baru mulai belajar untuk bermain harmonika, biasakanlah diri Anda untuk selalu rileks. Nikmati saja setiap prosesnya dan tak usah terburu-buru. Selamat mencoba!