Hey Friends,
Pernah ngerasa gini gak : di kamar sendirian, hujan gerimis di luar dan perasaan hati lagi nggak terlalu enak, lalu rasanya pengen gitu mengungkapkannya lewat sebuah melodi?
Nah, itulah yang saya alami beberapa waktu yang lalu. Entah kenapa rasanya pengen menuangkan lewat alunan nada bernuansa Blues, dan akhirnya terjadilah video ini. Lagu yang belum saya kasih judul ini memang murni instrumental, enakan gitu daripada nanti saya nyanyi malah pada bubar...ahahahahh...
Pada video ini saya menggunakan harmonika diatonik merk Hohner, tipe ProHarp, kunci E.
Silakan dinikmati ya...Semoga bisa mewakili perasaan teman-teman yang juga pernah mengalami hal yang sama.
Salam Sedot Sebul!
Showing posts with label Harmonica Jamming. Show all posts
Showing posts with label Harmonica Jamming. Show all posts
Sunday, November 12, 2017
Sunday, October 29, 2017
Harmonika dan Kreasi Anak Bangsa.....
Eh, gak sengaja ngubek-ngubek file lama...
Ternyata ada juga kenangan bersama rekan-rekan harmonika yang ada di Jogja, yaitu masbro Mujib dan masbro Pay.
Waktu itu saya bersama Sunu kebetulan sedang sama-sama di Jojga, lalu kami janjian berempat ketemu.
Sebenarnya bukan pada main harmonikanya, tapi lebih kepada kreativitas mas Mujib bikin satu alat yang sungguh revolusioner, yang...yang....
ah, sudahlah...saya nggak kuat ceritanya....abis, mo ketawa mulu....hahahaha.....
Mending liat langsung deh ya....
Ternyata ada juga kenangan bersama rekan-rekan harmonika yang ada di Jogja, yaitu masbro Mujib dan masbro Pay.
Waktu itu saya bersama Sunu kebetulan sedang sama-sama di Jojga, lalu kami janjian berempat ketemu.
Sebenarnya bukan pada main harmonikanya, tapi lebih kepada kreativitas mas Mujib bikin satu alat yang sungguh revolusioner, yang...yang....
ah, sudahlah...saya nggak kuat ceritanya....abis, mo ketawa mulu....hahahaha.....
Mending liat langsung deh ya....
Thursday, January 28, 2016
NgeBlues Sek Ben Ora Edan.....
Ya...itu kata orang Amerika...hehehehe...
Gak ding...itu sebenarnya bahasa Jawa yang artinya kurang lebih demikian :
"Nge-Blues dulu biar tidak Gila....!"
Di sela-sela kesibukan dan di antara banyaknya tekanan hidup dan badai yang mendera (lebay yah? hahahah...), paling enak untuk meluapkannya ya lewat Blues.
Kebetulan sudah lama nggak ketemu sama Kongko Cadillac, jadi akhirnya saya putuskan untuk nongkrong bareng pas Kongko main reguleran di salah satu kafe di bilangan Kemang. Janjian sama Sunu, dan ternyata kita cuma berdua yang dari Pencinta Harmonika, maka malam pun terlewatkan dengan sangat manis, ditemani alunan musik Blues dari Kongko Cadillac & Friends.
Jamming-jamming dikit lah ya biar gak stres.....udah lama juga ga sedot sebul, jadi ya, ikutan mejeng di video ini deh...heheheh..
Terima kasih buat Sunu yang udah ngerekamin pake action-cam nya yang baru...wkwkwkwk....
Gak ding...itu sebenarnya bahasa Jawa yang artinya kurang lebih demikian :
"Nge-Blues dulu biar tidak Gila....!"
Di sela-sela kesibukan dan di antara banyaknya tekanan hidup dan badai yang mendera (lebay yah? hahahah...), paling enak untuk meluapkannya ya lewat Blues.
Kebetulan sudah lama nggak ketemu sama Kongko Cadillac, jadi akhirnya saya putuskan untuk nongkrong bareng pas Kongko main reguleran di salah satu kafe di bilangan Kemang. Janjian sama Sunu, dan ternyata kita cuma berdua yang dari Pencinta Harmonika, maka malam pun terlewatkan dengan sangat manis, ditemani alunan musik Blues dari Kongko Cadillac & Friends.
Jamming-jamming dikit lah ya biar gak stres.....udah lama juga ga sedot sebul, jadi ya, ikutan mejeng di video ini deh...heheheh..
Terima kasih buat Sunu yang udah ngerekamin pake action-cam nya yang baru...wkwkwkwk....
Friday, January 22, 2016
Leaving on A Jet Plane (Cover by Eucharistik)
Hai hai....
Sudah lama nggak nulis nih...
Sebenarnya beberapa waktu yang lalu saya dan teman-teman sedang punya project iseng yaitu rekaman di studio rekaman. Project yang sudah lama kami rencanakan namun tertunda lama.
Akhirnya kami berhasil juga menyelesaikan rekaman dan harmonika boleh menjadi salah satu bagiannya...hehehehhe...Numpang mejeng aja lah yang penting...
Dan jika sebelumnya kami merekam dengan alat seadanya, kali ini kami merekam dengan peralatan yang mumpuni, dan dibantu teman-teman yang berpengalaman juga.
Nah, inilah rekamannya. Silakan dinikmati ya...
Sudah lama nggak nulis nih...
Sebenarnya beberapa waktu yang lalu saya dan teman-teman sedang punya project iseng yaitu rekaman di studio rekaman. Project yang sudah lama kami rencanakan namun tertunda lama.
Akhirnya kami berhasil juga menyelesaikan rekaman dan harmonika boleh menjadi salah satu bagiannya...hehehehhe...Numpang mejeng aja lah yang penting...
Dan jika sebelumnya kami merekam dengan alat seadanya, kali ini kami merekam dengan peralatan yang mumpuni, dan dibantu teman-teman yang berpengalaman juga.
Nah, inilah rekamannya. Silakan dinikmati ya...
Wednesday, September 30, 2015
Jakarta Harpist @ Indonesia Morning Show, NET TV
![]() |
| Aduy... |
Undangan yang mendadak itu kami dapatkan setelah kami membuat acara sederhana di Pasar Santa, 3 hari sebelumnya. Salah seorang anggota grup FB Pencinta Harmonika, yang kebetulan adalah admin akun Twitter @harmonicalovers, yaitu mas Eko, memberitahu saya kalau dia dihubungi pihak NET TV tentang undangan tersebut. Dan dalam waktu singkat akhirnya teman-teman segera bergerak untuk menyiapkan diri memenuhi undangan acara talkshow "Indonesia Morning Show" di NET TV.
![]() |
| Andra... |
Singkat kata, akhirnya setelah sempat ragu, kami memberanikan diri untuk memenuhi undangan tersebut. Total ada 5 orang perwakilan dari Jakarta Harpist, yaitu : Bagus & Sunu (admin grup FB Pencinta Harmonika), Helmy (Jakharp), Fajri "Mehonk" Aziz (anggota Bandung Harp Project yang kini tinggal di Jakarta) dan saya sendiri.
Dan......tanpa banyak ucap, inilah rekamannya....silakan disimak!
Sunday, September 20, 2015
Nggak punya Backing Track?
Hai hai....
Pengen ngeBlues pake harmonika tapi pas lagi nggak punya backing track? Kalau di dekat Anda ada electric piano atau keyboard, kenapa Anda tidak membuat sendiri sendiri backing track nya? Tinggal mainkan sesuai dengan selera Anda, mau irama shuffle atau basic blues, mau tempo cepat atau lambat, mau yang singkat atau yang panjang, terserah.....
Kadang saya juga begitu. Mau streaming Youtube, koneksi sedang lelet. Sedangkan koleksi backing track di handphone saya juga nggak banyak. Maklum, isinya sudah penuh. Kalau sudah begini, biasanya saya cari keyboard atau electric piano yang bisa buat ngerekam permainan kita. Kita tinggal mainkan sesuai dengan keinginan kita, daannnn....putar ulang sambil sedot sebul.....!
Nah, di bawah ini adalah contohnya...Eh, iya, ini sekalian sambil nyanyi sedikit ya...ngarang-ngarang aja lah...hehehehhehe....biar isinya nggak cuma permainan harmonika saja. Sila disimak....dan silakan dihujani dengan kritikan atau masukan.....
Salam Sedot Sebul!
Pengen ngeBlues pake harmonika tapi pas lagi nggak punya backing track? Kalau di dekat Anda ada electric piano atau keyboard, kenapa Anda tidak membuat sendiri sendiri backing track nya? Tinggal mainkan sesuai dengan selera Anda, mau irama shuffle atau basic blues, mau tempo cepat atau lambat, mau yang singkat atau yang panjang, terserah.....
Kadang saya juga begitu. Mau streaming Youtube, koneksi sedang lelet. Sedangkan koleksi backing track di handphone saya juga nggak banyak. Maklum, isinya sudah penuh. Kalau sudah begini, biasanya saya cari keyboard atau electric piano yang bisa buat ngerekam permainan kita. Kita tinggal mainkan sesuai dengan keinginan kita, daannnn....putar ulang sambil sedot sebul.....!
Nah, di bawah ini adalah contohnya...Eh, iya, ini sekalian sambil nyanyi sedikit ya...ngarang-ngarang aja lah...hehehehhehe....biar isinya nggak cuma permainan harmonika saja. Sila disimak....dan silakan dihujani dengan kritikan atau masukan.....
Salam Sedot Sebul!
Thursday, August 27, 2015
Woles Selow Blues
Oke!
Sekali-sekali nyobain belajar main gitar sambil main harmonika juga. Kira-kira bisa nggak ya? Nah, karena bingung mau nyanyi lagu apa, akhirnya saya mencoba bikin lagu sendiri...
Judulnya "Woles Yang Nggak Bisa Dibawa Selow"..hhahahahaha.....biar dibilang kekinian dikit lah....
Dan, ternyata main harmonika sambil memetik gitar itu susahnya minta ampun! Mulut saya bersusah payah "mengejar" harmonika yang terpasang di holdernya. Sampai monyong-monyong pun kadang masih belum bersih single note nya...
Baiklah, tanpa banyak ucap, silakan disimak video berikut ini dan silakan hujani dengan kritikan...saya terima seikhlas-ikhlasnya...hahahahahhaa....
Sekali-sekali nyobain belajar main gitar sambil main harmonika juga. Kira-kira bisa nggak ya? Nah, karena bingung mau nyanyi lagu apa, akhirnya saya mencoba bikin lagu sendiri...
Judulnya "Woles Yang Nggak Bisa Dibawa Selow"..hhahahahaha.....biar dibilang kekinian dikit lah....
Dan, ternyata main harmonika sambil memetik gitar itu susahnya minta ampun! Mulut saya bersusah payah "mengejar" harmonika yang terpasang di holdernya. Sampai monyong-monyong pun kadang masih belum bersih single note nya...
Baiklah, tanpa banyak ucap, silakan disimak video berikut ini dan silakan hujani dengan kritikan...saya terima seikhlas-ikhlasnya...hahahahahhaa....
Tuesday, February 10, 2015
Harmonika Mahal = Mainnya Bagus?
Suatu hari saya mendapatkan pertanyaan dari seorang teman, yang cukup menggelitik saya.
Pertanyaannya adalah seperti ini : "Kenapa hampir dalam setiap video, Papa Monique selalu menggunakan harmonika yang harganya lumayan mahal? Kenapa tidak menggunakan harmonika yang murah?"
Berdasarkan pertanyaan itu saya jadi berpikir, apa jangan-jangan banyak orang menganggap bahwa permainan harmonika yang bagus itu mutlak ditentukan dari mahal murahnya harmonika yang digunakan, atau dari bagus tidaknya harmonika itu?
Eh, tapi bukan berarti permainan saya bagus lho...hehehehe.....Dan bukan berarti pula saya mau pamer harmonika mahal. Justru ketika awal saya belajar, saya hanya punya beberapa harmonika diatonik kelas bawah. Saya hanya ingin membuktikan bahwa kualitas permainan harmonika seseorang tidak mutlak ditentukan oleh bagus tidaknya,atau mahal murahnya harmonika yang digunakan.
Oleh karena itu saya mencoba membandingkan dua merk harmonika yang beda harganya bagaikan langit dan bumi :p Harmonika yang pertama adalah Hohner MarineBand Deluxe, yang sudah pasti berharga di atas Rp. 500.000,-. Sedangkan yang berikutnya adalah Angel keluaran lama, yang ketika saya beli harganya hanya Rp. 79.000,- Keduanya memiliki kunci yang sama, yaitu kunci F, dan saya gunakan untuk jamming dengan backing track yang sama pula.
O ya, sebagai catatan, harmonika diatonik merk Angel keluaran lama masih terjaga akurasi nadanya bila dibanding dengan produksi mulai sekitar tahun 2012. Seperti yang sudah pernah saya tulis dalam artikel di blog ini, Angel keluaran baru sangatlah parah kualitasnya.
Nah, tanpa perlu berpanjang lebar lagi, saya persilakan Anda menyimak video saya ini, dan ambillah kesimpulan sendiri.....hehehehe....
Salam Sedot Sebul!
Pertanyaannya adalah seperti ini : "Kenapa hampir dalam setiap video, Papa Monique selalu menggunakan harmonika yang harganya lumayan mahal? Kenapa tidak menggunakan harmonika yang murah?"
Berdasarkan pertanyaan itu saya jadi berpikir, apa jangan-jangan banyak orang menganggap bahwa permainan harmonika yang bagus itu mutlak ditentukan dari mahal murahnya harmonika yang digunakan, atau dari bagus tidaknya harmonika itu?
Eh, tapi bukan berarti permainan saya bagus lho...hehehehe.....Dan bukan berarti pula saya mau pamer harmonika mahal. Justru ketika awal saya belajar, saya hanya punya beberapa harmonika diatonik kelas bawah. Saya hanya ingin membuktikan bahwa kualitas permainan harmonika seseorang tidak mutlak ditentukan oleh bagus tidaknya,atau mahal murahnya harmonika yang digunakan.
Oleh karena itu saya mencoba membandingkan dua merk harmonika yang beda harganya bagaikan langit dan bumi :p Harmonika yang pertama adalah Hohner MarineBand Deluxe, yang sudah pasti berharga di atas Rp. 500.000,-. Sedangkan yang berikutnya adalah Angel keluaran lama, yang ketika saya beli harganya hanya Rp. 79.000,- Keduanya memiliki kunci yang sama, yaitu kunci F, dan saya gunakan untuk jamming dengan backing track yang sama pula.
O ya, sebagai catatan, harmonika diatonik merk Angel keluaran lama masih terjaga akurasi nadanya bila dibanding dengan produksi mulai sekitar tahun 2012. Seperti yang sudah pernah saya tulis dalam artikel di blog ini, Angel keluaran baru sangatlah parah kualitasnya.
Nah, tanpa perlu berpanjang lebar lagi, saya persilakan Anda menyimak video saya ini, dan ambillah kesimpulan sendiri.....hehehehe....
Salam Sedot Sebul!
Friday, January 30, 2015
Blues Nol Kilometer with Harmonika Jogja
Januari 2015 merupakan bulan yang sangat menyenangkan buat
saya karena saya berkesempatan untuk dapat bertemu dengan teman-teman Pencinta
Harmonika yang ada di kota Jogja,di sela-sela perjalanan dinas saya.
saya karena saya berkesempatan untuk dapat bertemu dengan teman-teman Pencinta
Harmonika yang ada di kota Jogja,di sela-sela perjalanan dinas saya.
Harmonika Jogja adalah sebutan bagi komunitas pencinta
harmonika yang ada di kota Gudeg ini. Miriplah dengan Jakarta Harpist itu,
heheheh…Meski beberapa kali saya sudah pernah bertemu dengan teman-teman pencinta harmonika
yang di Jogja, namun kali ini ternyata bukan mereka yang saya temui.
harmonika yang ada di kota Gudeg ini. Miriplah dengan Jakarta Harpist itu,
heheheh…Meski beberapa kali saya sudah pernah bertemu dengan teman-teman pencinta harmonika
yang di Jogja, namun kali ini ternyata bukan mereka yang saya temui.
Saya kebetulan menginap di daerah Prambanan, yang letaknya
lumayan jauh dari kota Jogja. Tapi ada satu orang sobat harmonika yang kekeuh
mau menjemput saya, namanya bro Harry. Yang lebih edannya, dia ini nge-kost di
Solo, tapi tetap mau ikut kopdaran harmonika di Jogja! Bahkan ternyata, bersama
Pay (Satria Rifai), bro Harry termasuk salah seorang yang menggagas dimulainya
pertemuan rutin harmonika di Jogja. Luar biasa!
lumayan jauh dari kota Jogja. Tapi ada satu orang sobat harmonika yang kekeuh
mau menjemput saya, namanya bro Harry. Yang lebih edannya, dia ini nge-kost di
Solo, tapi tetap mau ikut kopdaran harmonika di Jogja! Bahkan ternyata, bersama
Pay (Satria Rifai), bro Harry termasuk salah seorang yang menggagas dimulainyapertemuan rutin harmonika di Jogja. Luar biasa!
Nah, pada hari Minggu, 25 Januari 2015 yang lalu, ketika
kebetulan saya sedang “off”, saya dijemput Harry dan kami segera meluncur ke
TKP kopdar, yaitu di Taman Budaya. Letaknya di belakang pasar Beringharjo yang
terkenal itu. Jam menunjukkan pukul 3 sore dan hanya ada kami berdua, menunggu selama sekitar 30
menitan. Lalu muncul seseorang yang mengendarai motor dengan memanggul tas
gitar besar. Setelah diamat-amati, ternyata itu adalah masbro Akaa!
kebetulan saya sedang “off”, saya dijemput Harry dan kami segera meluncur ke
TKP kopdar, yaitu di Taman Budaya. Letaknya di belakang pasar Beringharjo yang
terkenal itu. Jam menunjukkan pukul 3 sore dan hanya ada kami berdua, menunggu selama sekitar 30
menitan. Lalu muncul seseorang yang mengendarai motor dengan memanggul tas
gitar besar. Setelah diamat-amati, ternyata itu adalah masbro Akaa!
Yak! Saya yakin beberapa dari Anda pernah melihatnya di
salah satu ajang lomba mencari bakat di televisi. Bila Anda penasaran, silakan
klik tautan ini untuk melihat cuplikannya di Youtube.
salah satu ajang lomba mencari bakat di televisi. Bila Anda penasaran, silakan
klik tautan ini untuk melihat cuplikannya di Youtube.
Berikutnya adalah pak Irwan, seorang pelukis sketsa yang
sangat berbakat. Dengan tampilannya yang khas dan unik, beliau segera menyambut
kami. Tak lama bergabung teman-teman lain seperti Tegar (dan pacarnya), Ardi
Youtube.
sangat berbakat. Dengan tampilannya yang khas dan unik, beliau segera menyambut
kami. Tak lama bergabung teman-teman lain seperti Tegar (dan pacarnya), Ardi
dan Enggal. Enggal inilah yang beberapa waktu lalu membuat film dokumenter
tentang harmonika sebagai satu persyaratan tugas kuliah dan diunggah diYoutube.
Seperti biasa, sedot sebul segera dilakukan! Dan setelahsekitar 3 jam nongkrong, kami semua kelaparan. Sepakat untuk mencari makan,
kami pindah tempat dan meluncur ke arah Kantor Pos Besar, di utara alun-alun.
Yang dituju ternyata sebuah warung angkringan sederhana. Yah, namanya sedang
“guyub” (bahasa Jawa, artinya : akrab), di sela-sela makan malam dan
setelahnyapun kami masih saja sedot sebul, nyanyi-nyanyi dan ketawa-ketawa.
Terutama karena ada mas Akaa Mapan yang (asliiiii) kocak banget!!!!
Seusai makan, tiba-tiba ada ide untuk pindah tempat (lagi!)
ke Nol Kilometer. Nol Kilometer yang dimaksud adalah ujung jalan Malioboro,
persis di perempatan lampu merah Kantor Pos Besar dan Benteng Vredenburg. Lokasi itu sangat ramai dengan orang-orang
yang sedang nongkrong, meski hujan baru saja reda. Nah, di situlah kami punya
ide untuk membuat satu video singkat, merekam semua peserta kopdar yang sedang
bermain harmonika. Berikut ini videonya.
ke Nol Kilometer. Nol Kilometer yang dimaksud adalah ujung jalan Malioboro,
persis di perempatan lampu merah Kantor Pos Besar dan Benteng Vredenburg. Lokasi itu sangat ramai dengan orang-orang
yang sedang nongkrong, meski hujan baru saja reda. Nah, di situlah kami punya
ide untuk membuat satu video singkat, merekam semua peserta kopdar yang sedang
bermain harmonika. Berikut ini videonya.
Tak terasa sudah jam 10 malam! Karena esoknya saya masih
harus bekerja lagi, maka saya segera pamit. Sedih juga ketika harus mengakhiri
keakraban dan kehangatan bersama teman-teman Pencinta Harmonika di Jogja. Namun di mana ada pertemuan, di situ juga
pasti ada perpisahan. Sungguh bersyukur saya berkesempatan untuk bertemu dengan
mereka. Melalui artikel ini saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya
untuk sobat-sobat Harmonika Jogja yang telah menerima saya dengan hangat.
Terima kasih untuk Pak Irwan, Tegar, Ardi, Enggal dan mas Akaa. Terima kasih
special untuk Harry yang sudah bersedia mengantarjemput saya, meski dia sendiri
berdomisili di SOLO!
harus bekerja lagi, maka saya segera pamit. Sedih juga ketika harus mengakhiri
keakraban dan kehangatan bersama teman-teman Pencinta Harmonika di Jogja. Namun di mana ada pertemuan, di situ juga
pasti ada perpisahan. Sungguh bersyukur saya berkesempatan untuk bertemu dengan
mereka. Melalui artikel ini saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya
untuk sobat-sobat Harmonika Jogja yang telah menerima saya dengan hangat.
Terima kasih untuk Pak Irwan, Tegar, Ardi, Enggal dan mas Akaa. Terima kasih
special untuk Harry yang sudah bersedia mengantarjemput saya, meski dia sendiri
berdomisili di SOLO!
Wow, semuanya spesial dan saya tak bisa berkata-kata lebih
banyak lagi! Semoga pertemuan rutin Harmonika Jogja terus berlangsung dan makin
dapat membuat sobat semua saling melengkapi dalam belajar memainkan harmonika.
banyak lagi! Semoga pertemuan rutin Harmonika Jogja terus berlangsung dan makin
dapat membuat sobat semua saling melengkapi dalam belajar memainkan harmonika.
Terima kasih Harmonika Jogja, dan sampai jumpa lagi!!!
Salam Sedot Sebul!
Saturday, January 17, 2015
Jakarta Harpist @Community Hour RRI Pro2FM
Wooohooo...Gerilya Harmonika dimulai lagi...
Kali ini saya bersama dengan beberapa teman mendapat undangan wawancara langsung di RRI Pro 2, dalam sebuah acara yang bertajuk "Community Hour".
Mewakili Jakarta Harpist (Twitter : @Jakartaharpist), ternyata kamilah yang diundang pertama kali di acara ini, di tahun 2015 (hahahah..bangga sedikit lah!). Tadinya kami akan datang berempat, yaitu saya sendiri, Sunu, Rama dan Putut. Namun mendadak Sunu tidak bisa, sehingga kami hanya datang bertiga.
Tapi meski demikian, tak mengurangi semangat kami dalam bergerilya harmonika. Dipandu oleh mbak Mariana dan mas Ferli, setiap pembicaraan berlangsung dengan sangat cair. Pokoknya menyenangkan, deh!
Terima kasih buat RRI Pro 2 yang telah mengijinkan kami ikutan on-air dan terima kasih juga buat mbak Mariana dan mas Ferli yang telah menyambut kami dengan hangat! Semoga berikutnya ada kesempatan bergerilya lagi di radio lain, atau bahkan di stasiun TV lain....wooohhooo....!!!
Salam Sedot Sebul!
*Oh iya, artikel dari RRI Pro 2 tentang wawancara ini bisa dilihat di tautan ini.
Kali ini saya bersama dengan beberapa teman mendapat undangan wawancara langsung di RRI Pro 2, dalam sebuah acara yang bertajuk "Community Hour".
Mewakili Jakarta Harpist (Twitter : @Jakartaharpist), ternyata kamilah yang diundang pertama kali di acara ini, di tahun 2015 (hahahah..bangga sedikit lah!). Tadinya kami akan datang berempat, yaitu saya sendiri, Sunu, Rama dan Putut. Namun mendadak Sunu tidak bisa, sehingga kami hanya datang bertiga.
Tapi meski demikian, tak mengurangi semangat kami dalam bergerilya harmonika. Dipandu oleh mbak Mariana dan mas Ferli, setiap pembicaraan berlangsung dengan sangat cair. Pokoknya menyenangkan, deh!
Terima kasih buat RRI Pro 2 yang telah mengijinkan kami ikutan on-air dan terima kasih juga buat mbak Mariana dan mas Ferli yang telah menyambut kami dengan hangat! Semoga berikutnya ada kesempatan bergerilya lagi di radio lain, atau bahkan di stasiun TV lain....wooohhooo....!!!
Salam Sedot Sebul!
*Oh iya, artikel dari RRI Pro 2 tentang wawancara ini bisa dilihat di tautan ini.
Tuesday, December 30, 2014
Harmonica Beatles!
Anda tahu Beatles? Tahukah Anda bahwa harmonika juga digunakan dalam beberapa lagu mereka?
Nah, terkait dengan pameran komik interpretasi The Beatles milik salah seorang teman, ternyata dia mendapat undangan wawancara langsung di radio D FM (103.4 FM) dalam acara Beatle Juice, yang dipandu oleh mas Budi Iskandar, awal Desember lalu. Hendy, sang pembuat komik akhirnya mengajak saya dan beberapa teman Pencinta Harmonika, yaitu Sunu & Rama, untuk ikut mengisi di wawancara itu.
Meski secara pribadi saya tak terlalu kenal dengan lagu-lagu The Beatles, tapi tetap saja rasanya seru ketika membawakan lagu-lagu mereka, apalagi dengan aransemen versi kami yang menggunakan harmonika. Berikut salah satu lagu yang kami bawakan, yaitu "In My Life".
O ya, ngomong-ngomong, Hendy kami daulat untuk berperan sebagai vokalis...hahahhaaha....
Sila disimak!
Nah, terkait dengan pameran komik interpretasi The Beatles milik salah seorang teman, ternyata dia mendapat undangan wawancara langsung di radio D FM (103.4 FM) dalam acara Beatle Juice, yang dipandu oleh mas Budi Iskandar, awal Desember lalu. Hendy, sang pembuat komik akhirnya mengajak saya dan beberapa teman Pencinta Harmonika, yaitu Sunu & Rama, untuk ikut mengisi di wawancara itu.
Meski secara pribadi saya tak terlalu kenal dengan lagu-lagu The Beatles, tapi tetap saja rasanya seru ketika membawakan lagu-lagu mereka, apalagi dengan aransemen versi kami yang menggunakan harmonika. Berikut salah satu lagu yang kami bawakan, yaitu "In My Life".
O ya, ngomong-ngomong, Hendy kami daulat untuk berperan sebagai vokalis...hahahhaaha....
Sila disimak!
Monday, December 8, 2014
1st & 2nd Position Harmonica
Mungkin ada yang bertanya, bagaimana sih bedanya permainan lick Blues dengan menggunakan posisi pertama (Straight Harp) dan posisi ke dua (Cross Harp)?
Nah, saya mencoba menjawabnya dengan memainkan satu lick Blues sederhana tetapi dengan 2 harmonika yang berbeda kunci. Dalam hal ini saya menggunakan Hohner Crossover kunci C dan Hohner MarineBand Deluxe kunci F. Dengan Crossover, saya bermain dalam posisi pertama, sedangkan dengan MB Deluxe, saya memainkan posisi ke dua/crossharp. Sehingga kesimpulannya, lick Blues yang saya mainkan nada dasarnya adalah do = C. Masih bingung? Coba baca artikel saya yang ini dan yang ini.
Saat saya bermain dalam posisi pertama, saya lebih banyak main di oktaf atas, karena di situlah saya bisa mendapatkan nada-nada kromatik dengan menggunakan teknik Bending, dalam hal ini Blow Bend. Pada oktaf tengah ini tidak dimungkinkan, kecuali Anda bisa melakukan teknik OverBending. Blow Bend lebih banyak saya lakukan pada lubang ke 9 & 10 tiup.
Sedangkan dengan MB Deluxe kunci F, saya lebih leluasa memainkan lick Blues karena memang posisi ke dua/crossharp adalah memang posisi yang paling pas untuk memainkan lick Blues, berkat adanya sensasi Bluesy akibat dari penerapan teknik Bending, dalam hal ini Draw Bend. Nuansa Blues lebih kental bila dibanding dengan saat saya menggunakan posisi pertama.
O iya, ada satu lagi bedanya. Untuk kord, saat saya memainkan posisi ke dua/crossharp, saya hanya bisa secara jelas membunyikan kord I dan IV, dalam hal ini kord C (lubang 1, 2, 3 sedot) dan kord F (lubang 1, 2, 3 tiup). Beda dengan posisi pertama, kord yang bisa saya dapatkan secara gamblang adalah kord I (kord C, lubang 4, 5, 6 tiup) dan kord V (kord G, lubang 3, 4, 5 sedot).
Jadi kesimpulannya, bahkan dengan menggunakan posisi pertama pun kita masih bisa memainkan lick Blues, meski mungkin tak semenawan posisi ke dua. Posisi Crossharp memang adalah posisi yang paling cocok untuk memainkan lick-lick Blues.
Untuk lebih jelasnya, silakan simak video berikut ini.
Nah, saya mencoba menjawabnya dengan memainkan satu lick Blues sederhana tetapi dengan 2 harmonika yang berbeda kunci. Dalam hal ini saya menggunakan Hohner Crossover kunci C dan Hohner MarineBand Deluxe kunci F. Dengan Crossover, saya bermain dalam posisi pertama, sedangkan dengan MB Deluxe, saya memainkan posisi ke dua/crossharp. Sehingga kesimpulannya, lick Blues yang saya mainkan nada dasarnya adalah do = C. Masih bingung? Coba baca artikel saya yang ini dan yang ini.
Saat saya bermain dalam posisi pertama, saya lebih banyak main di oktaf atas, karena di situlah saya bisa mendapatkan nada-nada kromatik dengan menggunakan teknik Bending, dalam hal ini Blow Bend. Pada oktaf tengah ini tidak dimungkinkan, kecuali Anda bisa melakukan teknik OverBending. Blow Bend lebih banyak saya lakukan pada lubang ke 9 & 10 tiup.
Sedangkan dengan MB Deluxe kunci F, saya lebih leluasa memainkan lick Blues karena memang posisi ke dua/crossharp adalah memang posisi yang paling pas untuk memainkan lick Blues, berkat adanya sensasi Bluesy akibat dari penerapan teknik Bending, dalam hal ini Draw Bend. Nuansa Blues lebih kental bila dibanding dengan saat saya menggunakan posisi pertama.
O iya, ada satu lagi bedanya. Untuk kord, saat saya memainkan posisi ke dua/crossharp, saya hanya bisa secara jelas membunyikan kord I dan IV, dalam hal ini kord C (lubang 1, 2, 3 sedot) dan kord F (lubang 1, 2, 3 tiup). Beda dengan posisi pertama, kord yang bisa saya dapatkan secara gamblang adalah kord I (kord C, lubang 4, 5, 6 tiup) dan kord V (kord G, lubang 3, 4, 5 sedot).
Jadi kesimpulannya, bahkan dengan menggunakan posisi pertama pun kita masih bisa memainkan lick Blues, meski mungkin tak semenawan posisi ke dua. Posisi Crossharp memang adalah posisi yang paling cocok untuk memainkan lick-lick Blues.
Untuk lebih jelasnya, silakan simak video berikut ini.
Wednesday, November 26, 2014
SOblue - Love Me Do
Love....Love Me Do!
Itulah sepenggal lirik lagu dari The Beatles yang dibawakan oleh Sunu saat saya dan dia "ngamen" di Pasar Santa, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, mewakili komunitas Pencinta Harmonika di Jakarta, yang disebut Jakarta Harpist.
Ya! Ngamen! Numpang ngamen di lapak pameran "komik indie" milik rekan Sunu, yaitu bro Hendy Adhitya, yang membuat komik-komiknya berdasarkan inspirasi dari band The Beatles tersebut.
Di kios berukuran kira-kira 3x5 m itulah karya-karya bro Hendy dipamerkan. Dan di sela-sela benda-benda itulah kami membawakan beberapa lagu dari The Beatles, dan lagu lain, tentunya dengan tetap memasukkan suara harmonika!
Rasanya senang bisa menghibur pengunjung yang datang, atau juga pengunjung warung mie di seberang kios pameran (eheheehehe.....seberang-sebarangan sama warung mie soalnya).
Terima kasih buat bro Hendy karena mengijinkan kami : saya dan Sunu untuk boleh mengisi di pameran Anda. Semoga sukses selalu dalam dunia perkomikan!
Berikut secuil cuplikan ketika kami, SOBlue, membawakan lagu "Love Me Do".
*SOBlue : Sunu & Oki Blue
Itulah sepenggal lirik lagu dari The Beatles yang dibawakan oleh Sunu saat saya dan dia "ngamen" di Pasar Santa, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, mewakili komunitas Pencinta Harmonika di Jakarta, yang disebut Jakarta Harpist.
Ya! Ngamen! Numpang ngamen di lapak pameran "komik indie" milik rekan Sunu, yaitu bro Hendy Adhitya, yang membuat komik-komiknya berdasarkan inspirasi dari band The Beatles tersebut.
Di kios berukuran kira-kira 3x5 m itulah karya-karya bro Hendy dipamerkan. Dan di sela-sela benda-benda itulah kami membawakan beberapa lagu dari The Beatles, dan lagu lain, tentunya dengan tetap memasukkan suara harmonika!
Rasanya senang bisa menghibur pengunjung yang datang, atau juga pengunjung warung mie di seberang kios pameran (eheheehehe.....seberang-sebarangan sama warung mie soalnya).
Terima kasih buat bro Hendy karena mengijinkan kami : saya dan Sunu untuk boleh mengisi di pameran Anda. Semoga sukses selalu dalam dunia perkomikan!
Berikut secuil cuplikan ketika kami, SOBlue, membawakan lagu "Love Me Do".
*SOBlue : Sunu & Oki Blue
Friday, October 3, 2014
Rega Dauna dan Reyharp lagi-lagi "bikin ulah"....
Ya! Setelah lama tak berjumpa Rega dan Reyharp, ternyata mereka kembali bikin ulah...hahahhaa....
Maksudnya, ada lagi kejutan dari dua anak muda yang luar biasa ini.
Pertama, Rega Dauna. Bocah ajaib ini mencuri perhatian publik karena menjadi peserta kontes Indonesia Mencari Bakat (IMB) dan tampil sebagai pemain harmonika kromatik satu-satunya dan pertama kalinya!!!
Luar biasa, Rega tampil semakin dewasa, meski gayanya tak berubah. Apalagi kalau bicara soal per-jomblo-an itu, hahahahhahahha........
Meski sudah sering berkolaborasi dengan banyak musisi Indonesia, Rega masihlah seorang muda yang rendah hati. Dan teknik permainannyapun makin matang. Berikut ini cuplikan videonya ketika tampil di IMB.
Kedua, Reyharp. Bocah ajaib satu lagi ini juga diam-diam mulai menyentak dunia. Setelah tahun lalu sempat memenangi kontes Asia Pacific Harmonika Festival, kali ini Rey, begitu panggilan akrabnya, menyasar Australia. Bahkan salah satu media Australia memuat artikel tentangnya di sini .
Wew......sebagai seorang pencinta harmonika, saya sangat bangga dengan apa yang mereka berdua lakukan. Dan sepertinya mereka telah berbagi tugas dengan baik. Rega bertugas meracuni masyarakat Indonesia dengan harmonika kromatiknya, sedangkan Reyharp menjadi duta besar harmonika Indonesia ke luar negeri. Wah, salut buat mereka!!!
Harapan saya, mereka dapat menjalani proses bermusik dengan baik dan tetap rendah hati. Semangat buat Rega dan Reyharp! I'm very proud of you guys!
Berikut ini juga saya tampilkan secuplik rekaman ketika saya "nongkrong" bareng bersama dua sobat asyik ini, dan meminta mereka membawakan sebuah lagu. Rega, ternyata punya bakat musik yang yahud : memainkan piano dengan sangat baik! Sedangkan Reyharp, teknik "speed playing" nya jangan ditanya lagi...hehehehehe.......
Kangen nongkrong bareng mereka lagi, euy.....!
Maksudnya, ada lagi kejutan dari dua anak muda yang luar biasa ini.
Pertama, Rega Dauna. Bocah ajaib ini mencuri perhatian publik karena menjadi peserta kontes Indonesia Mencari Bakat (IMB) dan tampil sebagai pemain harmonika kromatik satu-satunya dan pertama kalinya!!!
Luar biasa, Rega tampil semakin dewasa, meski gayanya tak berubah. Apalagi kalau bicara soal per-jomblo-an itu, hahahahhahahha........
Meski sudah sering berkolaborasi dengan banyak musisi Indonesia, Rega masihlah seorang muda yang rendah hati. Dan teknik permainannyapun makin matang. Berikut ini cuplikan videonya ketika tampil di IMB.
Kedua, Reyharp. Bocah ajaib satu lagi ini juga diam-diam mulai menyentak dunia. Setelah tahun lalu sempat memenangi kontes Asia Pacific Harmonika Festival, kali ini Rey, begitu panggilan akrabnya, menyasar Australia. Bahkan salah satu media Australia memuat artikel tentangnya di sini .
Wew......sebagai seorang pencinta harmonika, saya sangat bangga dengan apa yang mereka berdua lakukan. Dan sepertinya mereka telah berbagi tugas dengan baik. Rega bertugas meracuni masyarakat Indonesia dengan harmonika kromatiknya, sedangkan Reyharp menjadi duta besar harmonika Indonesia ke luar negeri. Wah, salut buat mereka!!!
Harapan saya, mereka dapat menjalani proses bermusik dengan baik dan tetap rendah hati. Semangat buat Rega dan Reyharp! I'm very proud of you guys!
Berikut ini juga saya tampilkan secuplik rekaman ketika saya "nongkrong" bareng bersama dua sobat asyik ini, dan meminta mereka membawakan sebuah lagu. Rega, ternyata punya bakat musik yang yahud : memainkan piano dengan sangat baik! Sedangkan Reyharp, teknik "speed playing" nya jangan ditanya lagi...hehehehehe.......
Kangen nongkrong bareng mereka lagi, euy.....!
Monday, April 28, 2014
ASTAGA!
Astaga!
Saya tak pernah menyangka akhirnya bisa bertemu dengan salah satu teman di Pencinta Harmonika, yang kerap kali membawakan lagu-lagu dengan harmonikanya. Salah satu yang pernah dia bawakan secara luar biasa adalah lagu dari Ruth Sahanya, yang berjudul "Astaga".
Ya! Sobat itu adalah mas Robertus Budi, sang jagoan Folkmaster dari Semarang. Secara kebetulan, pada bulan Februari 2014 yang lalu, saya memiliki kesempatan untuk berkunjung ke Semarang (lebih tepatnya sih, mampir...) dan segera saya membuat janji dengan beliau. Ternyata beliau menyanggupinya dan kami sepakat bertemu di hotel tempat saya menginap. Tadinya saya berharap akan ada beberapa teman dari Pencinta Harmonika wilayah Semarang yang akan ikut bergabung bersama kami, namun ternyata hanya mas Robert yang datang.
Waktu pertemuan memang sudah cukup malam, dan kamipun sempat kebingungan mencari lokasi yang pas untuk nongkrong, sekaligus tentu saja nge-jam bersama. Secara tak sengaja kami melihat di seberang hotel ada tukang jualan soto gerobak dan dia menyediakan tikar-tikar yang digelar di sepanjang trotoar. Akhirnya kami memutuskan untuk nongkrong di situ saja.
Obrolan demi obrolan dan diskusi serius tapi santai berjalan dengan seru. Sampai pada akhirnya kami sudah tak tahan untuk nge-jam. Kebetulan saya juga membawa gitar (niat banget! hahahaha...) dan kamera DSLR. Nah, akhirnya kita putuskan untuk membawakan salah satu lagu yang pernah mas Robert bawakan di Youtube, yaitu lagu "Astaga". Mas Robert sempat agak ragu karena dia mengaku sudah vakum memainkan harmonika selama 2 tahun. Percobaan demi percobaan dilakukan sampai beliau merasa siap betul. Hahaha....mirip seperti audisi saja! Nah, akhirnya kami berhasil membawakan lagu ini, dan berikut adalah rekamannya :
Dalam diskusi kami juga tersirat kerinduan mas Robert untuk bisa berkumpul dengan sesama pencinta harmonika di kota Semarang dan sekitarnya. Beberapa tahun sebelumnya sempat ada 2-3 orang yang berkumpul, kalau tak salah ketika om Iman Budi Santosa (pembuat grup Pencinta Harmonika) datang mengunjungi kota Semarang, dan mas Robert adalah salah satu pesertanya. Namun setelah itu tak pernah lagi ada pertemuan di antara mereka. Hmmmm....semoga teman-teman Pencinta Harmonika di wilayah Semarang bisa berkumpul lagi ya....!
Pertemuan malam itu sungguh sangat menyenangkan. Sempat merasa sedikit bangga juga ketika ada beberapa orang yang bertanya-tanya kepada kami soal harmonika, dan juga menonton kami saat kami membawakan lagu "Astaga". Berasa jadi artis jalanan juga ini.....hihihihihihi....
Akhir kata, saya ingin mengucapkan terima kasih banyak buat mas Robertus yang sudah bersedia meluangkan waktu untuk bertemu saya. Sukses selalu buat mas Robert, dan semoga teman-teman pencinta harmonika di Semarang juga bisa segera bergabung dengan beliau untuk melakukan kembali "kopdar" harmonika di kota ini. Saya tunggu juga kedatangan mas Robert ke Jakarta!
Salam Sedot Sebul!
Saya tak pernah menyangka akhirnya bisa bertemu dengan salah satu teman di Pencinta Harmonika, yang kerap kali membawakan lagu-lagu dengan harmonikanya. Salah satu yang pernah dia bawakan secara luar biasa adalah lagu dari Ruth Sahanya, yang berjudul "Astaga".
Ya! Sobat itu adalah mas Robertus Budi, sang jagoan Folkmaster dari Semarang. Secara kebetulan, pada bulan Februari 2014 yang lalu, saya memiliki kesempatan untuk berkunjung ke Semarang (lebih tepatnya sih, mampir...) dan segera saya membuat janji dengan beliau. Ternyata beliau menyanggupinya dan kami sepakat bertemu di hotel tempat saya menginap. Tadinya saya berharap akan ada beberapa teman dari Pencinta Harmonika wilayah Semarang yang akan ikut bergabung bersama kami, namun ternyata hanya mas Robert yang datang.
Waktu pertemuan memang sudah cukup malam, dan kamipun sempat kebingungan mencari lokasi yang pas untuk nongkrong, sekaligus tentu saja nge-jam bersama. Secara tak sengaja kami melihat di seberang hotel ada tukang jualan soto gerobak dan dia menyediakan tikar-tikar yang digelar di sepanjang trotoar. Akhirnya kami memutuskan untuk nongkrong di situ saja.
Obrolan demi obrolan dan diskusi serius tapi santai berjalan dengan seru. Sampai pada akhirnya kami sudah tak tahan untuk nge-jam. Kebetulan saya juga membawa gitar (niat banget! hahahaha...) dan kamera DSLR. Nah, akhirnya kita putuskan untuk membawakan salah satu lagu yang pernah mas Robert bawakan di Youtube, yaitu lagu "Astaga". Mas Robert sempat agak ragu karena dia mengaku sudah vakum memainkan harmonika selama 2 tahun. Percobaan demi percobaan dilakukan sampai beliau merasa siap betul. Hahaha....mirip seperti audisi saja! Nah, akhirnya kami berhasil membawakan lagu ini, dan berikut adalah rekamannya :
Dalam diskusi kami juga tersirat kerinduan mas Robert untuk bisa berkumpul dengan sesama pencinta harmonika di kota Semarang dan sekitarnya. Beberapa tahun sebelumnya sempat ada 2-3 orang yang berkumpul, kalau tak salah ketika om Iman Budi Santosa (pembuat grup Pencinta Harmonika) datang mengunjungi kota Semarang, dan mas Robert adalah salah satu pesertanya. Namun setelah itu tak pernah lagi ada pertemuan di antara mereka. Hmmmm....semoga teman-teman Pencinta Harmonika di wilayah Semarang bisa berkumpul lagi ya....!
Pertemuan malam itu sungguh sangat menyenangkan. Sempat merasa sedikit bangga juga ketika ada beberapa orang yang bertanya-tanya kepada kami soal harmonika, dan juga menonton kami saat kami membawakan lagu "Astaga". Berasa jadi artis jalanan juga ini.....hihihihihihi....
Akhir kata, saya ingin mengucapkan terima kasih banyak buat mas Robertus yang sudah bersedia meluangkan waktu untuk bertemu saya. Sukses selalu buat mas Robert, dan semoga teman-teman pencinta harmonika di Semarang juga bisa segera bergabung dengan beliau untuk melakukan kembali "kopdar" harmonika di kota ini. Saya tunggu juga kedatangan mas Robert ke Jakarta!
Salam Sedot Sebul!
Wednesday, February 26, 2014
Musafir Harmonika (bag. I)
Musafir artinya pengembara....
Musafir harmonika berarti, pengembara harmonika...hehehhe...
2 minggu terakhir ini saya mendapatkan tugas dari kantor untuk mengunjungi beberapa kota di Jawa Barat dan Jawa Tengah, dalam rangka menjual produk tempat saya bekerja. Hmm..mungkin tepatnya jadi sopir bagi staf marketing, hehehehe....
Nah, daripada hanya keliling jadi sopir, saya mempunyai ide untuk membuat janji pertemuan dengan beberapa teman Pencinta Harmonika di beberapa kota yang akan saya singgahi. Kebetulan ada 3 kota yang saya incar, yaitu Purwokerto, Jojga dan Semarang. Ketiga kota tersebut masuk dalam daftar kota yang akan kami kunjungi. Segera saya melakukan kontak dengan beberapa teman, dan untungnya saya mendapatkan respon yang positif.
Di Purwokerto saya akhirnya dapat bertemu dengan salah seorang anggota grup Pencinta Harmonika, yaitu mas Agus UAN Sutanto. Meskipun tidak bertempat tinggal di Purwokerto, beliau rela datang jauh-jauh dari kota Ajibarang, (dengan istrinya) untuk makan siang bersama saya. Salut buat beliau yang sudah mau meluangkan waktunya. Kami akhirnya makan siang di sebuah warung soto Sokaraja. Seusai makan, hasrat sedot sebul pun muncul, dan kami melakukan sedikit jamming..hehehehe.....
Berikut ini videonya :
Sungguh senang rasanya bisa bertemu kembali dengan mas Agus ini, karena sebelumnya saya sudah pernah bertemu tapi hanya sebentar, itupun karena mas Agus menyegat saya saat saya naik bus dari Jogja hendak pulang ke Jakarta. Sekali lagi salut buat mas Agus UAN, dan terima kasih banyak kepada beliau karena sudi menemani saya makan siang di warung soto.
O ya, menurut penuturan beliau, anggota PH di Purwokerto dan sekitarnya lumayan banyak dan sudah pernah melakukan beberapa kali kopdar. Wah, saya ikut senang mendengarnya. Semoga pertemuan semacam itu bisa lebih rutin, agar bisa menjadi ajang berbagi ilmu dan saling belajar.
Sampai ketemu lagi, mas Agus UAN...semoga lain kali teman-teman di Purwokerto, Ajibarang, dan sekitarnya bisa ikut ya....
Salam Sedot Sebul!
Musafir harmonika berarti, pengembara harmonika...hehehhe...
2 minggu terakhir ini saya mendapatkan tugas dari kantor untuk mengunjungi beberapa kota di Jawa Barat dan Jawa Tengah, dalam rangka menjual produk tempat saya bekerja. Hmm..mungkin tepatnya jadi sopir bagi staf marketing, hehehehe....
Nah, daripada hanya keliling jadi sopir, saya mempunyai ide untuk membuat janji pertemuan dengan beberapa teman Pencinta Harmonika di beberapa kota yang akan saya singgahi. Kebetulan ada 3 kota yang saya incar, yaitu Purwokerto, Jojga dan Semarang. Ketiga kota tersebut masuk dalam daftar kota yang akan kami kunjungi. Segera saya melakukan kontak dengan beberapa teman, dan untungnya saya mendapatkan respon yang positif.
Di Purwokerto saya akhirnya dapat bertemu dengan salah seorang anggota grup Pencinta Harmonika, yaitu mas Agus UAN Sutanto. Meskipun tidak bertempat tinggal di Purwokerto, beliau rela datang jauh-jauh dari kota Ajibarang, (dengan istrinya) untuk makan siang bersama saya. Salut buat beliau yang sudah mau meluangkan waktunya. Kami akhirnya makan siang di sebuah warung soto Sokaraja. Seusai makan, hasrat sedot sebul pun muncul, dan kami melakukan sedikit jamming..hehehehe.....
Berikut ini videonya :
Sungguh senang rasanya bisa bertemu kembali dengan mas Agus ini, karena sebelumnya saya sudah pernah bertemu tapi hanya sebentar, itupun karena mas Agus menyegat saya saat saya naik bus dari Jogja hendak pulang ke Jakarta. Sekali lagi salut buat mas Agus UAN, dan terima kasih banyak kepada beliau karena sudi menemani saya makan siang di warung soto.
O ya, menurut penuturan beliau, anggota PH di Purwokerto dan sekitarnya lumayan banyak dan sudah pernah melakukan beberapa kali kopdar. Wah, saya ikut senang mendengarnya. Semoga pertemuan semacam itu bisa lebih rutin, agar bisa menjadi ajang berbagi ilmu dan saling belajar.
Sampai ketemu lagi, mas Agus UAN...semoga lain kali teman-teman di Purwokerto, Ajibarang, dan sekitarnya bisa ikut ya....
Salam Sedot Sebul!
Saturday, January 4, 2014
From Jogja with Harmonica...
Yup!
Liburan Natal yang lalu saya berkesempatan untuk pergi ke Jogja, walau tak lama, hanya sekitar 3 hari saja. Tanpa banyak pikir, segera menghubungi beberapa teman pencinta harmonika yang ada di Jogja, maupun yang sedang pergi ke Jogja, tentu saja untuk melakukan kopdar, alias kopi darat.
Kopdar tersebut mengambil tempat di sebuah angkringan yang terletak di depan kantor harian Kedaulatan Rakyat, dan lebih dikenal dengan nama "Angkringan KR". Tongkrongan ini terletak di Jl. Mangkubumi, yang masih segaris dengan Jl. Malioboro, namun terpisah oleh rel kereta api Stasiun Tugu.
Agak repot juga mencari tempat nongkrong, karena malam itu masih dalam suasana liburan, sehingga tikar-tikar yang tersedia pun penuh sesak. Untung saja kami menemukan satu "kapling" yang kosong, dan langsung kami tempati. Yang jadi masalah adalah mencari orang-orang yang hendak datang. Ya, karena kami belum pernah saling bertemu, hanya lewat FB saja. Kecuali Sunu, yang asli Jogja namun sedang berdomisili di Jakarta dan sering nongkrong bareng saya (lihat video-video saya saat jamming bersamanya).
Namun ada satu orang yang kreatif memberikan tanda. Dia duduk di pinggir trotoar, dan membunyikan harmonikanya keras-keras. Sontak saja kami langsung mengenalinya. Hahahaha...sebuah cara yang ampuh untuk memanggil "kawanan" pencinta harmonika.
Dengan adanya 1 tambahan orang lagi, kami nongkrong berempat.
Kami bicara ngalor ngidul sambil menyantap nasi kucing ala angkringan, dan berdiskusi soal harmonika tentunya. Tak ketinggalan jamming bersama, yang sama sekali tak mengindahkan kaidah "solo jamming" ...hahahaha....Tak apalah, namanya juga masih amatir.
Namun yang menarik adalah saat kami menyaksikan salah seorang rekan menunjukkan sebuah alat sederhana untuk merekam permainan harmonikanya sendiri. Alat unik tersebut terbuat dari bahan sederhana yang mudah didapatkan. Lumayan ampuh juga, karena alat tersebut ditempelkan pada sebuah smartphone yang berfungsi sebagai perekamnya.
Singkat kata, pertemuan malam itu sungguh "guyub" (akrab) dan dipenuhi dengan canda tawa plus obrolan serius seputar harmonika. Mungkin yang datang hanya 4 orang, namun saya punya mimpi dan keyakinan, lain waktu peserta kopdar pasti akan lebih banyak lagi. Maklum, kopdar yang satu ini boleh dibilang agak dadakan.
Yah, saya berharap sih, para pencinta harmonika yang ada di Jogja dan sekitarnya dapat segera mewujudkan pertemuan rutin mereka.
Tentu saja saya juga ingin ikut bergabung...hehehhee......*asal dapat liburnya*.....:p
Terima kasih kepada mas Sunu, mas Mujib dan mas Rifai yang bersedia hadir dalam kopdar malam itu. Ke depannya, semoga virus sebul sedot dapat semakin meracuni masyarakan Jogja juga.
Lanjutkan!!!!
Salam Sedot Sebul
Liburan Natal yang lalu saya berkesempatan untuk pergi ke Jogja, walau tak lama, hanya sekitar 3 hari saja. Tanpa banyak pikir, segera menghubungi beberapa teman pencinta harmonika yang ada di Jogja, maupun yang sedang pergi ke Jogja, tentu saja untuk melakukan kopdar, alias kopi darat.
Kopdar tersebut mengambil tempat di sebuah angkringan yang terletak di depan kantor harian Kedaulatan Rakyat, dan lebih dikenal dengan nama "Angkringan KR". Tongkrongan ini terletak di Jl. Mangkubumi, yang masih segaris dengan Jl. Malioboro, namun terpisah oleh rel kereta api Stasiun Tugu.
Agak repot juga mencari tempat nongkrong, karena malam itu masih dalam suasana liburan, sehingga tikar-tikar yang tersedia pun penuh sesak. Untung saja kami menemukan satu "kapling" yang kosong, dan langsung kami tempati. Yang jadi masalah adalah mencari orang-orang yang hendak datang. Ya, karena kami belum pernah saling bertemu, hanya lewat FB saja. Kecuali Sunu, yang asli Jogja namun sedang berdomisili di Jakarta dan sering nongkrong bareng saya (lihat video-video saya saat jamming bersamanya).
Namun ada satu orang yang kreatif memberikan tanda. Dia duduk di pinggir trotoar, dan membunyikan harmonikanya keras-keras. Sontak saja kami langsung mengenalinya. Hahahaha...sebuah cara yang ampuh untuk memanggil "kawanan" pencinta harmonika.
Dengan adanya 1 tambahan orang lagi, kami nongkrong berempat.
Kami bicara ngalor ngidul sambil menyantap nasi kucing ala angkringan, dan berdiskusi soal harmonika tentunya. Tak ketinggalan jamming bersama, yang sama sekali tak mengindahkan kaidah "solo jamming" ...hahahaha....Tak apalah, namanya juga masih amatir.
Namun yang menarik adalah saat kami menyaksikan salah seorang rekan menunjukkan sebuah alat sederhana untuk merekam permainan harmonikanya sendiri. Alat unik tersebut terbuat dari bahan sederhana yang mudah didapatkan. Lumayan ampuh juga, karena alat tersebut ditempelkan pada sebuah smartphone yang berfungsi sebagai perekamnya.
Singkat kata, pertemuan malam itu sungguh "guyub" (akrab) dan dipenuhi dengan canda tawa plus obrolan serius seputar harmonika. Mungkin yang datang hanya 4 orang, namun saya punya mimpi dan keyakinan, lain waktu peserta kopdar pasti akan lebih banyak lagi. Maklum, kopdar yang satu ini boleh dibilang agak dadakan.
Yah, saya berharap sih, para pencinta harmonika yang ada di Jogja dan sekitarnya dapat segera mewujudkan pertemuan rutin mereka.
Tentu saja saya juga ingin ikut bergabung...hehehhee......*asal dapat liburnya*.....:p
Terima kasih kepada mas Sunu, mas Mujib dan mas Rifai yang bersedia hadir dalam kopdar malam itu. Ke depannya, semoga virus sebul sedot dapat semakin meracuni masyarakan Jogja juga.
Lanjutkan!!!!
Salam Sedot Sebul
Sunday, October 27, 2013
Bengawan Solo CongHar
CongHar?
Hahahaha....ya, CongHar itu Keroncong Harmonika....maksud saya adalah, memainkan lagu yang bernuansa Keroncong dengan menggunakan harmonika.
Saya iseng-iseng mencoba untuk memainkan lagu Bengawan Solo, yang notabene adalah sebuah lagu Keroncong ciptaan pak Gesang, dengan memakai harmonika diatonik saya, yaitu Suzuki Harpmaster.
Yah, mungkin kedengarannya kurang lazim, tapi tak apalah...namanya juga berusaha mengeksplorasi....Paling tidak, saya membuktikan bahwa lagu-lagu Indonesia bisa juga dibawakan dengan menggunakan harmonika.
Dalam video ini, backing track yang saya gunakan saya buat dengan bantuan gitar tua saya, yaitu Yamaha CG-50 dan sebuah Handycam sederhana. Tinggal cari tempat yang aman (aman dari omelan orang-orang rumah, maksudnya...hehehe...) dan sedot sebulpun bisa dimulai!
Silakan dinikmati, dan mohon maaf bila banyak terdengar salah di sana-sini...
Hahahaha....ya, CongHar itu Keroncong Harmonika....maksud saya adalah, memainkan lagu yang bernuansa Keroncong dengan menggunakan harmonika.
Saya iseng-iseng mencoba untuk memainkan lagu Bengawan Solo, yang notabene adalah sebuah lagu Keroncong ciptaan pak Gesang, dengan memakai harmonika diatonik saya, yaitu Suzuki Harpmaster.
Yah, mungkin kedengarannya kurang lazim, tapi tak apalah...namanya juga berusaha mengeksplorasi....Paling tidak, saya membuktikan bahwa lagu-lagu Indonesia bisa juga dibawakan dengan menggunakan harmonika.
Dalam video ini, backing track yang saya gunakan saya buat dengan bantuan gitar tua saya, yaitu Yamaha CG-50 dan sebuah Handycam sederhana. Tinggal cari tempat yang aman (aman dari omelan orang-orang rumah, maksudnya...hehehe...) dan sedot sebulpun bisa dimulai!
Silakan dinikmati, dan mohon maaf bila banyak terdengar salah di sana-sini...
SalamSedotSebul!
Wednesday, September 25, 2013
Reyharp & Rega Dauna : The Rising Stars
Siapa bilang Indonesia tak memiliki pemain harmonika yang mumpuni? Kalau tak banyak orang yang tahu, itu mungkin karena kurangnya publikasi. Tapi sebenarnya para pemain harmonika di Indonesiapun sudah terdengar gaungnya sampai ke luar negeri. Tak hanya pemain-pemain senior, seperti wak Hari Pochang, om Krisnablues, mas Oyo, om Benny Likumahuwa, om Iman Budi Santoso, dan yang lainnya. Tapi juga anak-anak muda yang mulai menampakkan tajinya dalam hal bermain harmonika.
Belakangan ada dua orang anak muda, sangat muda malahan, yang bintangnya mulai bersinar. Kebetulan mereka berdua adalah sahabat karib, dan sama-sama bergabung di grup FB Pencinta Harmonika. Mereka berdua punya kesamaan : belajar harmonika dari usia yang sangat muda, dan besar dalam keluarga pemusik. Uniknya meski sama-sama memilih harmonika sebagai instrumen utama mereka, masing-masing memutuskan untuk berbeda. Yang satu memainkan harmonika diatonik, sedangkan yang lain memilih untuk memainkan harmonika kromatik.
Mari kita berkenalan dengan dua orang anak muda yang luar biasa ini.
Reyharp
Reyharp besar di keluarga yang tak bisa jauh dari musik. Pamannya, adalah seorang pemain harmonik Blues terkenal dari Bandung, yaitu wak Hari Pochang. Tak heran bila Reyharp terkena "racun" diatonik dari pamannya itu. Reyharp rupanya sangat menyerap "racun" itu sehingga membuat dirinya mahir bermain harmonika diatonik...hahahaha....Kepiawaiannya memainkan harmonika diatonik membawanya melesat ke level internasional. Pada tahun 2012, hasilnya mulai nampak nyata. Reyharp mengikuti kejuaraan Asia Pacific Harmonica Festival di Kuala Lumpur, Malaysia, dan berhasil menyabet juara 1! Tambahan lagi, karena Reyharp lebih sering menggunakan harmonika diatonik merk Hohner, maka Hohnerpun menjadikannya salah satu endorsee bagi produk-produk mereka. Luar biasa bukan? Namanyapun masuk dalam daftar pemain harmonika kelas dunia, dan dapat dilihat di sini.
Reyharp terkenal dengan permainannya yang cepat dan ditaburi dengan teknik overblow dan overdraw yang sangat "ngeri". Buat dia, tak masalah bila harus memainkan beberapa lagu dengan nada dasar yang berbeda, dengan hanya 1 harmoika diatonik. Bayangkan, di usia muda, Reyharp sudah menguasai teknik overbend dengan sangat luwes. Berikut salah satu video yang menampilkan permainan maut Reyharp :
Rega Dauna
Rega Dauna juga lahir dan besar di keluarga yang "full music". Ayahnya, Glen Dauna, adalah seorang musisi jazz kenamaan negeri ini. Kakaknya juga adalah seorang pemain terompet berpengalaman. Sedangkan Rega memilih untuk memainkan harmonika kromatik. Anak muda yang energik dan ramah ini makin lama makin menunjukkan kematangannya dalam memainkan harmonika kromatik. Sejauh yang saya tahu, merk Suzuki adalah merk favoritnya, sehingga kadang terjadi sebuah adegan "cela-celaan" bila Rega dan Reyharp bertemu. Yang satu adalah endorsee Hohner, yang lain adalah pengikut setia Suzuki. Hahahahah....
O ya, pada Asia Pacific Harmonica Festival tahun 2012 yang lalu, Rega juga ikut di kategori harmonika kromatik, namun sayang belum berhasil mendapatkan juara. Meskipun menurut saya, bisa ikut di festival tersebut adalah hal yang luar biasa :)
Bersama dengan ayahnya, Rega kerap tampil memberikan sentuhan-sentuhan melodi dengan harmonika kromatiknya. Rega juga kerap terlibat dalam kolaborasi dengan banyak musisi. Salah satunya nampak pada video berikut, yang menampilkan salah satu lagu dalam album "Di Atas Rata-rata", produksi Erwin Gutawa dan Gita Gutawa.
Rega sering tampil di Java Jazz Festival, dan juga tampil rutin di beberapa tempat di Jakarta, seperti kafe ataupun mal. Kalau tidak salah, Rega punya jadwal tetap tampil di mal Pondok Indah 1, setiap akhir pekan. Bagi Anda yang tinggal di Jakarta, sekali-sekali saksikanlah penampilan Rega di mal tersebut, dan bila Anda sedang beruntung, Anda bisa menyaksikan 2 sahabat, Rega & Reyharp, tampil bersama.
Saya beruntung dapat berteman dengan 2 orang sahabat muda ini. Selain karena mereka tak segan membagi ilmu, tingkah lakunya yang polos dan kocak, khas anak muda, sungguh membuat saya betah ngobrol
bersama mereka. Saya berharap Rega dan Reyharp dapat menunjukkan kepada dunia, bahwa Indonesiapun memiliki anak-anak muda berbakat musik, khususnya harmonika, yang layak diperhitungkan. Semoga duet maut R2 (begitulah panggilan akrab buat mereka di grup Pencinta Harmonika) makin "maut" lagi di masa depan....hehehehe...
Go forward, the Harmonica-Rising Stars of Indonesia!
Belakangan ada dua orang anak muda, sangat muda malahan, yang bintangnya mulai bersinar. Kebetulan mereka berdua adalah sahabat karib, dan sama-sama bergabung di grup FB Pencinta Harmonika. Mereka berdua punya kesamaan : belajar harmonika dari usia yang sangat muda, dan besar dalam keluarga pemusik. Uniknya meski sama-sama memilih harmonika sebagai instrumen utama mereka, masing-masing memutuskan untuk berbeda. Yang satu memainkan harmonika diatonik, sedangkan yang lain memilih untuk memainkan harmonika kromatik.
Mari kita berkenalan dengan dua orang anak muda yang luar biasa ini.
Reyharp
Reyharp besar di keluarga yang tak bisa jauh dari musik. Pamannya, adalah seorang pemain harmonik Blues terkenal dari Bandung, yaitu wak Hari Pochang. Tak heran bila Reyharp terkena "racun" diatonik dari pamannya itu. Reyharp rupanya sangat menyerap "racun" itu sehingga membuat dirinya mahir bermain harmonika diatonik...hahahaha....Kepiawaiannya memainkan harmonika diatonik membawanya melesat ke level internasional. Pada tahun 2012, hasilnya mulai nampak nyata. Reyharp mengikuti kejuaraan Asia Pacific Harmonica Festival di Kuala Lumpur, Malaysia, dan berhasil menyabet juara 1! Tambahan lagi, karena Reyharp lebih sering menggunakan harmonika diatonik merk Hohner, maka Hohnerpun menjadikannya salah satu endorsee bagi produk-produk mereka. Luar biasa bukan? Namanyapun masuk dalam daftar pemain harmonika kelas dunia, dan dapat dilihat di sini.
Reyharp terkenal dengan permainannya yang cepat dan ditaburi dengan teknik overblow dan overdraw yang sangat "ngeri". Buat dia, tak masalah bila harus memainkan beberapa lagu dengan nada dasar yang berbeda, dengan hanya 1 harmoika diatonik. Bayangkan, di usia muda, Reyharp sudah menguasai teknik overbend dengan sangat luwes. Berikut salah satu video yang menampilkan permainan maut Reyharp :
Rega Dauna
Rega Dauna juga lahir dan besar di keluarga yang "full music". Ayahnya, Glen Dauna, adalah seorang musisi jazz kenamaan negeri ini. Kakaknya juga adalah seorang pemain terompet berpengalaman. Sedangkan Rega memilih untuk memainkan harmonika kromatik. Anak muda yang energik dan ramah ini makin lama makin menunjukkan kematangannya dalam memainkan harmonika kromatik. Sejauh yang saya tahu, merk Suzuki adalah merk favoritnya, sehingga kadang terjadi sebuah adegan "cela-celaan" bila Rega dan Reyharp bertemu. Yang satu adalah endorsee Hohner, yang lain adalah pengikut setia Suzuki. Hahahahah....
O ya, pada Asia Pacific Harmonica Festival tahun 2012 yang lalu, Rega juga ikut di kategori harmonika kromatik, namun sayang belum berhasil mendapatkan juara. Meskipun menurut saya, bisa ikut di festival tersebut adalah hal yang luar biasa :)
Bersama dengan ayahnya, Rega kerap tampil memberikan sentuhan-sentuhan melodi dengan harmonika kromatiknya. Rega juga kerap terlibat dalam kolaborasi dengan banyak musisi. Salah satunya nampak pada video berikut, yang menampilkan salah satu lagu dalam album "Di Atas Rata-rata", produksi Erwin Gutawa dan Gita Gutawa.
Rega sering tampil di Java Jazz Festival, dan juga tampil rutin di beberapa tempat di Jakarta, seperti kafe ataupun mal. Kalau tidak salah, Rega punya jadwal tetap tampil di mal Pondok Indah 1, setiap akhir pekan. Bagi Anda yang tinggal di Jakarta, sekali-sekali saksikanlah penampilan Rega di mal tersebut, dan bila Anda sedang beruntung, Anda bisa menyaksikan 2 sahabat, Rega & Reyharp, tampil bersama.
Saya beruntung dapat berteman dengan 2 orang sahabat muda ini. Selain karena mereka tak segan membagi ilmu, tingkah lakunya yang polos dan kocak, khas anak muda, sungguh membuat saya betah ngobrolbersama mereka. Saya berharap Rega dan Reyharp dapat menunjukkan kepada dunia, bahwa Indonesiapun memiliki anak-anak muda berbakat musik, khususnya harmonika, yang layak diperhitungkan. Semoga duet maut R2 (begitulah panggilan akrab buat mereka di grup Pencinta Harmonika) makin "maut" lagi di masa depan....hehehehe...
Go forward, the Harmonica-Rising Stars of Indonesia!
Harmonika Diatonik & Gitar = Duet Maut?
Harmonika diatonik itu buat kebanyakan orang hanya dianggap sebagai sebuah pelengkap. Bahkan ada juga yang menganggap harmonika hanyalah sebuah "mainan". Tapi saya berani bilang, itu semua salah!
Harmonika diatonik, bisa menjadi sebuah instrumen musik yang luar biasa hebat dalam memberikan aksen dan nuansa melodi unik. Bahkan ketika "hanya" ditemani satu alat musik saja, harmonika sudah bisa membuat orang tersihir. Apalagi bila sang pemain harmonika bisa menyanyi dengan baik dan memiliki suara yang khas pula.
Video berikut adalah sebuah contohnya. Grup musik MuddyShoesBlues hanya berisikan 2 personil. Satu orang sebagai gitaris, yang lainnya sebagai pemain harmonika diatonik sekaligus vokalis. Namun permainan mereka sungguh luar biasa. Terlihat betapa nuansa musik Blues sangat kental, ditambah lagi suara sang vokalis yang serak-serak basah. Tapi yang membuat saya tersihir adalah permainan harmonika diatoniknya. Lolongan harmonika yang dimainkan sungguh membuat bergetar hati ini (...agak sedikit lebay, ya...? wkwkwkw..). Coba bayangkan bila instrumen musik yang digunakan hanya gitar saja. Pasti akan terdengar "kering". Namun begitu ada lolongan harmonika diatonik, maka lagu "Key to the Highway"-nya Little Walter ini menjadi sangat ciamik!
Harmonika diatonik memang sangat pas bila ditemani oleh gitar, apalagi untuk memainkan lagu-lagu bernuansa Blues. Tanpa adanya tambahan instrumen lain pun rasanya sudah cukup. Nah, jadi bila Anda memiliki teman yang bisa bermain gitar, tak ada salahnya untuk mengajak dia duet. Mainkan saja chord I, IV dan V, lalu tiup sedotlah harmonika Anda...bila "soul"nya dapat, saya yakin permainan Anda berdua tak kalah bagusnya dari Duet Maut yang ada di video ini. Tak percaya? Coba saja!
Harmonika diatonik, bisa menjadi sebuah instrumen musik yang luar biasa hebat dalam memberikan aksen dan nuansa melodi unik. Bahkan ketika "hanya" ditemani satu alat musik saja, harmonika sudah bisa membuat orang tersihir. Apalagi bila sang pemain harmonika bisa menyanyi dengan baik dan memiliki suara yang khas pula.
Video berikut adalah sebuah contohnya. Grup musik MuddyShoesBlues hanya berisikan 2 personil. Satu orang sebagai gitaris, yang lainnya sebagai pemain harmonika diatonik sekaligus vokalis. Namun permainan mereka sungguh luar biasa. Terlihat betapa nuansa musik Blues sangat kental, ditambah lagi suara sang vokalis yang serak-serak basah. Tapi yang membuat saya tersihir adalah permainan harmonika diatoniknya. Lolongan harmonika yang dimainkan sungguh membuat bergetar hati ini (...agak sedikit lebay, ya...? wkwkwkw..). Coba bayangkan bila instrumen musik yang digunakan hanya gitar saja. Pasti akan terdengar "kering". Namun begitu ada lolongan harmonika diatonik, maka lagu "Key to the Highway"-nya Little Walter ini menjadi sangat ciamik!
Harmonika diatonik memang sangat pas bila ditemani oleh gitar, apalagi untuk memainkan lagu-lagu bernuansa Blues. Tanpa adanya tambahan instrumen lain pun rasanya sudah cukup. Nah, jadi bila Anda memiliki teman yang bisa bermain gitar, tak ada salahnya untuk mengajak dia duet. Mainkan saja chord I, IV dan V, lalu tiup sedotlah harmonika Anda...bila "soul"nya dapat, saya yakin permainan Anda berdua tak kalah bagusnya dari Duet Maut yang ada di video ini. Tak percaya? Coba saja!
Subscribe to:
Posts (Atom)





