Showing posts with label Harmonica Review. Show all posts
Showing posts with label Harmonica Review. Show all posts

Sunday, November 26, 2017

Tutorial : Posisi 12 Harmonika Diatonik (First Flat)

Helow,

Kali ini langsung saja, saya ingin membahas tentang posisi 12 atau yang sering disebut sebagai "First Flat". Posisi yang cocok buat mainin lagu jazzy ini menuntut kita untuk sudah memiliki kemampuan melakukan teknik Bending secara akurat dan stabil. Mirip dengan posisi ke 2 (CrossHarp), posisi ini pada oktaf pertama lebih banyak menggunakan teknik sedot. Nah, susunan tab harmonika nya pada oktaf pertama adalah seperti berikut :
Videonya bisa disimak di bawah ini, dan pada rekaman ini saya menggunakan harmonika kunci C, sehingga ketika menggunakan posisi 12, berarti saya bermain dalam nada dasar Do = F. O ya, sekaligus juga saya membahas tentang posisi 3 (Slant Harp) yang sebenarnya masih ada hubungan dengan posisi 12 tersebut.

Sedangkan untuk contoh penggunaan posisi ini ada di video berikut ini, dengan catatan, di lagu ini saya menggunakan harmonika kunci A, sehingga nada dasarnya adalah Do = D.

Sila dinikmati! Semoga berguna!

Saturday, November 11, 2017

Dasar Bermain Harmonika Tremolo

Banyak juga pertanyaan datang ke saya, soal cara bermain harmonika Tremolo.

Wah, jujur, saya agak susah menjawabnya, karena memang saya secara pribadi lebih cenderung fokus di harmonika diatonik. Saya juga nggak punya harmonika Tremolo. Beberapa kali beli, selalu saya jadikan hadiah buat anak-anak, ketika saya "jualan" EO...hehehehhe....
Nah, daripada susah, mending kita dengar nasehat dan petuah dari yang sering mainin harmonika jenis ini deh...Agak telat sih tayangnya, cuma daripada enggak sama sekali ya...? Hehehehe...

Berikut pak Arif Sidarta akan memberikan penjelasan mengenai dasar bermain harmonika jenis Tremolo.

Terima kasih banyak untuk pak Arif, bro Helmy Fairuz, dek Rona Telam Selliy dan masbro R'Van Hermawan yang datang jauh-jauh dari Semarang untuk nggonjrengin dan kasih backing sound...wkwkww...

Sila dinikmati!






Review : Suzuki Olive dan Comb Akrilik

Hai hai....

Wah, saya sungguh terkejut ketika suatu hari ada yang menghubungi saya untuk membicarakan masalah comb pada harmonika diatonik. Yes, nama orang tersebut adalah pak Wirjanto. Beliau menghubungi saya lewat Youtube, kemudian berlanjut lewat Whatsapp.

Ngobrol sedikit dengan beliau, dan ternyata Pak Wir ini termasuk orang yang suka koleksi harmonika, lho...

Nah, dari obrolan itu ternyata beliau menawarkan kepada saya untuk mencoba comb berbahan akrilik. Tanpa berpikir ulang saya langsung menyetujuinya, dan tak dinyana, Pak Wir langsung minta alamat rumah saya karena comb akrilik tersebut mau dikirim ke saya.

Wih, mimpi apa coba??? Jadi, saya harus berterima kasih kepada Pak Wir atas comb akriliknya.

Nah, setelah sampai tuh paketnya, dan kebetulan karena comb yang dikirim adalah untuk Suzuki Olive, maka Olive saya langsung saya bongkar.
Comb asli Olive berwarna hitam dan berbahan dasar resin langsung saya copot dan saya ganti dengan comb dari Pak Wir. Wuidiiihhh...Olive saya jadi kelihatan makin cantik, karena tembus pandang dan jadi makin cerah.
Tapi, bukan itu saja, saya juga ingin tahu apakah kualitas suaranya berubah. Nah, di video ini saya mencoba memberikan review tentang kualitas suara yang dihasilkan. Kalau menurut saya sih, ada perubahan sedikit, karena bagi saya suaranya terdengar sedikit lebih nyaring. Gak tau ya, apa memang perasaan saya aja atau gimana...Tapi secara umum saya katakan, penampilan Olive jadi makin ciamik karena comb nya tembus pandang.


Eniwei baswei, seru juga punya harmonika kelas premium tapi comb nya dari bahan akrilik. So, big thanks goes to Pak Wir yang bersedia mengirimkan comb tersebut. Keren pak!!!



Sunday, October 29, 2017

Jagalah Kebersihan (Harmonika) !

Hei!

Slogan "Jagalah Kebersihan" ternyata nggak cuma berlaku untuk lingkungan hidup.
Harmonikapun harus tetap dijaga kebersihannya. Kita tahu bahwa harmonika adalah alat musik yang dimainkan dengan menggunakan mulut. Artinya, mulut kita bersinggungan langsung dengan alat musik ini. Beda tentunya dengan gitar atau piano yang menggunakan tangan. Kalau harmonika kita tidak dijaga kebersihannya, lantas bagaimana nasib mulut kita ya?
Aduh, amit-amit deh, mendingan dijaga kebersihannya....
Daripada mulut kita kenapa-kenapa,.. Ya nggak?

Nah, video ini saya buat untuk mengingatkan teman-teman supaya rajin menjaga kebersihan harmonika masing-masing. Sepele sih, tapi jangan salah, justru hal yang sederhana ini kalau terlalu sering dilewatkan, kita sendiri yang akan rugi.



Jadi, tak ada salahnya bukan...?

Selamat menjaga kebersihan harmonikamu, kawan!

Wednesday, August 19, 2015

Mengenal Suzuki Olive

Seperti yang pernah saya utarakan, berkat seseorang yang sangat istimewa, saya berkesempatan untuk memiliki Suzuki Olive yang penampakannya kelihatan menggoda itu. Nah, kali ini saya ingin memberikan sedikit ulasan mengenai Olive, ketika digunakan untuk memainkan alunan melodi Blues.

Menurut saya, Suzuki Olive masih kurang "gahar" dan "nakal" untuk bermain Blues. Suaranya cenderung hangat, dan kurang kotor. Mungkin lebih cocok untuk memainkan lagu-lagu bernuansa Jazz. Cuma, suaranya yang empuk masih enak lah untuk memainkan Slow Blues. Mudah di-bending dan akurat nadanya.

Menggenggam Olive buat saya nyaman-nyaman saja. Seperti produk Suzuki yang lain, ergonomi memang sangat diperhatikan. Posisi bibir juga enak saja ketika mencumbui Olive ini...heheheheh...

Singkat kata, menurut saya Suzuki Olive masih kurang nakal untuk bermain Blues dan cenderung pas untuk memainkan lagu Jazzy. Akurasi nada yang pas, enak untuk memainkan lead melody.

Cuma yah, harganya lumayan juga buat kantong saya.....wkwkwkwkwk....

Tuesday, February 10, 2015

Harmonika Mahal = Mainnya Bagus?

Suatu hari saya mendapatkan pertanyaan dari seorang teman, yang cukup menggelitik saya.
Pertanyaannya adalah seperti ini : "Kenapa hampir dalam setiap video, Papa Monique selalu menggunakan harmonika yang harganya lumayan mahal? Kenapa tidak menggunakan harmonika yang murah?"

Berdasarkan pertanyaan itu saya jadi berpikir, apa jangan-jangan banyak orang menganggap bahwa permainan harmonika yang bagus itu mutlak ditentukan dari mahal murahnya harmonika yang digunakan, atau dari bagus tidaknya harmonika itu?

Eh, tapi bukan berarti permainan saya bagus lho...hehehehe.....Dan bukan berarti pula saya mau pamer harmonika mahal. Justru ketika awal saya belajar, saya hanya punya beberapa harmonika diatonik kelas bawah. Saya hanya ingin membuktikan bahwa kualitas permainan harmonika seseorang tidak mutlak ditentukan oleh bagus tidaknya,atau mahal murahnya harmonika yang digunakan.

Oleh karena itu saya mencoba membandingkan dua merk harmonika yang beda harganya bagaikan langit dan bumi :p  Harmonika yang pertama adalah Hohner MarineBand Deluxe, yang sudah pasti berharga di atas Rp. 500.000,-. Sedangkan yang berikutnya adalah Angel keluaran lama, yang ketika saya beli harganya hanya Rp. 79.000,- Keduanya memiliki kunci yang sama, yaitu kunci F, dan saya gunakan untuk jamming dengan backing track yang sama pula.

O ya, sebagai catatan, harmonika diatonik merk Angel keluaran lama masih terjaga akurasi nadanya bila dibanding dengan produksi mulai sekitar tahun 2012. Seperti yang sudah pernah saya tulis dalam artikel di blog ini, Angel keluaran baru sangatlah parah kualitasnya.

Nah, tanpa perlu berpanjang lebar lagi, saya persilakan Anda menyimak video saya ini, dan ambillah kesimpulan sendiri.....hehehehe....

Salam Sedot Sebul!




Saturday, January 17, 2015

Segara Harmonika....!

Oi...Selamat Tahun Baru 2015 dulu lah ya...! Maaf baru sempat nulis lagi nih...

Artikel kali ini berisi tentang salah satu usaha dalam rangka mengenalkan alat musik Harmonika kepada orang banyak. Usaha kali ini dilakukan oleh masbro Segara "Ega", putra dari penyanyi kenamaan, mas Ebiet G.Ade.

Rupanya masbro Ega yang adalah seorang penyanyi ini  juga memainkan harmonika dalam salah satu (atau beberapa?) lagunya...Dalam video singkat di bawah ini, mas Ega dengan cukup jelas menjelaskan tentang harmonika kromatik. Wah, koleksinya lumayan, ada Hohner CX12 dan Suzuki CX-48 kalau tidak salah.

Well, senang bila melihat ada orang yang juga mengenalkan instrumen unik ini kepada khalayak umum. Semoga harmonika makin dikenal oleh masyarakat Indonesia. Sekali lagi ijinkan saya menguacapkan terima kasih kepada masbro Ega yang telah membuat video berikut ini.

Sila disimak!

Salam Sedot Sebul!!!








Tuesday, December 30, 2014

Hohner MarineBand Crossover

Dalam artikel ini saya ingin membahas mengenai harmonika diatonik merk Hohner, dari keluarga MarineBand yang sangat legendaris itu. Sebenarnya dalam keluarga MarineBand, ada beberapa tipe yang diproduksi oleh Hohner, antara lain MarineBand Classic, MarineBand Deluxe dan MarineBand Crossover. Nah, kebetulan saya punya MarineBand Deluxe dan Crossover. Maka ijinkan saya untuk memberikan pendapat saya mengenai ke dua tipe MarineBand tersebut. Kali ini yang saya bahas adalah Hohner MarineBand Crossover.
Crossover adalah favorit saya sampai sejauh ini. Pertama, karena comb nya terbuat bukan dari kayu ataupun plastik, yang ke dua karena suaranya bikin merinding!
Ya! Comb Crossover terbuat dari bambu! Bambu yang diberi lapisan (laminated bamboo), lebih tepatnya. Anda dapat dengan mudah melihat pola serat bambu pada comb nya.Lapisan ini diberikan supaya comb Crossover tidak mudah lembab karena cairan, dalam hal ini air liur si pemain. Percaya atau tidak, meski comb Crossover terbuat dari bambu, namun kualitas suaranya dapat dikatakan mirip dengan harmonika yang memiliki comb dengan material kayu, seperti MarineBand Classic contohnya. Warna suara yang dihasilkan oleh Crossover ini sangat khas. Kalau boleh dibilang, termasuk “nakal & kotor”…hehehehe…Kata orang Jawa, “Kemranyas”! Ditambah lagi dengan cover plate yang memiliki bukaan belakang yang lebih “mangap”, membuat Crossover sangat enak untuk memainkan musik Blues. Namun demikian, memainkan musik Jazz dengan menggunakan Crossover juga tak kalah asyiknya. Rupanya Crossover dibuat untuk dapat cocok dengan musik lain selain Blues.
Satu keunggulan Crossover dibanding MarineBand Classic ataupun Deluxe terletak pada cover plate nya. Cover plate Crossover dipasang dengan menggunakan baut. Artinya, kita dapat lebih leluasa membongkarpasang cover plate harmonika ini. Tak seperti saudara-saudaranya yang menggunakan paku untuk memasang cover platenya.
Bila Anda membeli Crossover, maka Anda akan mendapatkan kantong khusus lengkap dengan retsleting, yang dapat dipasang pada ikat pinggang Anda. Enaknya adalah, Anda dapat membawa si Crossover ini ke manapun Anda pergi.
Semua hal tersebut membuat saya lebih sering membawa Crossover ke mana-mana, karena memang saya sangat menyukai harmonika ini. Satu-satunya yang sedikit membuat saya keberatan, seperti biasa adalah harganya! Hahahahah……Tapi memang ada harga, ada kualitas….Sangat memuaskan sih, jadi ya tak perlu menyesal…
Untuk lebih dapat mengetahui kualitas suara Crossover ini, sila disimak salah satu video saya di Youtube. Dapat Anda dengar bahkan ketika saya bermain di ruang yang sangat terbuka dan bisingpun suara Crossover masih terdengar “galak”. Pada intinya, saya sangat merekomendasikan teman-teman untuk membeli Crossover, dengan catatan, memang Anda harus menyiapkan dana yang tak sedikit. Namun itu semua akan terbayar dengan kualitas yang Anda dapatkan. Tunggu apa lagi? 

Thursday, July 3, 2014

Tips Membersihkan Harmonika Diatonik

Sebagai alat musik yang dimainkan dengan menggunakan mulut, tak pelak lagi harmonika harus dijaga kebersihannya, sebab mulut pemainnya langsung bersinggungan dengan instrumen ini. Kali ini saya ingin berbagi tips mengenai cara membersihkan harmonika diatonik. Bukan untuk menjadi yang paling tahu, tetapi hanya sekedar membagi pengalaman saya saja.
Pada harmonika diatonik, hal yang kerap kali ditemui adalah adanya sisa air liur (saliva), baik di permukaan luar maupun di bagian dalamnya. Kotoran ini bila dibiarkan terlalu lama, selain dapat menimbulkan rasa tak nyaman bagi yang melihatnya, juga dapat menjadi gangguan saat kita memainkan harmonika diatonik kita. Bahkan dapat membuat reed dalam harmonika kita menjadi tak berbunyi sama sekali. O ya, harmonika diatonik yang saya maksud di sini adalah harmonika yang cover plate nya dikunci dengan menggunakan baut dan bukan paku, serta yang comb nya terbuat dari plastik dan bukan kayu. Sebab harmonika yang comb nya terbuat dari kayu serta cover plate nya dikunci dengan menggunakan paku, membutuhkan perlakuan yang berbeda dan lebih rumit.

Sebelum kita mulai membersihkan, ada baiknya kita siapkan beberapa peralatan yang diperlukan, antara lain : obeng plus, tang (bila perlu), kain lap lembut, tusuk gigi dan alkohol dengan kandungan 70%. Saya tak menganjurkan tisu sebagai alat pengelap, karena dapat menggerus permukaan cover plate. Selama ini saya menggunakan kain lap yang saya dapat ketika membeli harmonika diatonik merk ANGEL. Jadi, meski termasuk harmonika diatonik yang sering dihindari, paling tidak ANGEL masih memberi manfaat buat saya…hehehehe…..O iya, kain lap kacamata atau monitor/TV juga bisa digunakan!

Untuk membersihkan permukaan cover plate secara mudah, cukup basahi kain lap dan seka seluruh permukaan sampai bekas bibir dan air liur yang menempel hilang. Tapi silakan cermati bahwa di sela-sela antara cover plate dan reed plate biasanya ada endapan air liur yang mengering.

Lap saja tak cukup bisa menghilangkannya. Untuk membersihkannya, mau tak mau kita harus membuka ke dua cover plate. Kemudian silakan seka ke dua cover plate, baik di bagian luar maupun dalamnya. Saya perlu ingatkan bahwa Anda harus ekstra hati-hati saat menyeka bagian tepi cover plate, karena bagian ini hampir setajam pisau! Jari saya sudah dua kali menjadi korban keganasan tajamnya tepian cover plate. Saya tak sadar ketika menyekanya dengan lap, tiba-tiba jari  terasa perih dan ternyata sudah berdarah-darah. 
Lap yang saya gunakan rupanya sobek dan jari sayalah yang menjadi sasaran!

Selanjutnya perhatikan bagian reed plate. Saliva yang tertinggal akan dapat kita temui di bagian depan (bagian di atas bawah lubang). Bila hanya ada sedikit, cukup gunakan tusuk gigi atau batang lidi kecil untuk mencungkilnya secara lembut. 





Jangan gunakan batang berbahan besi karena dapat merusak comb atau reed plate
O ya, hati-hati saat akan membersihkan reed dalam keadaan reed plate masih terpasang. Jangan 
menggunakan obeng, atau batang keras lainnya, karena dapat merubah jarak antara reed dan reed plate (reed gap).


Nah, bila Anda berniat membersihkan keseluruhan bagian harmonika diatonik Anda, bersiaplah untuk melepas ke dua reed plate- nya. Ingat, hati-hati dengan baut pemegang reed plate maupun cover plate, jangan sampai hilang, atau Anda akan menyesal! Ingatlah pula posisi reed plate atas (BLOW) dan bawah (DRAW) supaya nanti jangan tertukar saat Anda memasangnya kembali. Mungkin hal ini sepele, tapi kalau salah bisa repot kita…heheeheh…

Nah, bila ke dua reed plate sudah Anda lepas, silakan cermati permukaannya. Bila ada sisa saliva yang tertinggal, silakan gunakan lap lembut yang sudah dibasahi dengan menggunakan alkohol 70%, dan seka secara hati-hati tepian reed plate yang menghadap ke arah depan (arah yang menghadap mulut Anda ketika Anda memainkan harmonika). 




Saat menyeka permukaan reed plate, hati-hati jangan sampai kain lap Anda tersangkut reed yang “nongol”, sebab hal itu dapat membuat reed bengkok atau malah fatalnya, patah! Anda tak ingin itu terjadi bukan?





Lanjutkan dengan membersihkan comb yang sudah dalam keadaan terbuka. Perhatikan bagian lubang-lubangnya, karena disitulah biasanya endapan saliva tertinggal. Cukup cungkil dengan menggunakan tusuk gigi atau batang lidi kecil. Biasanya sisa saliva akan berwujud seperti lembaran sangat tipis yang berwarna putih dan menempel pada siku-siku tiap lubang comb. Sekalian juga bersihkan setiap bagian dalam lubang dengan menggunakan lap yang telah dibasahi alkohol.


Nah, sangat mudah bukan? Setelah Anda selesai membersihkan seluruh bagian harmonika diatonik Anda, silakan pasang kembali semuanya seperti sedia kala. O ya, biasakan setiap Anda selesai memainkan harmonika, ketuk-ketukkanlah harmonika pada telapak tangan Anda untuk mengeluarkan sisa air liur dan kotoran lain, sebelum terlanjur mengendap di dalam. Ini tentunya akan sangat membantu sehingga kita tak perlu terlalu sering membongkar harmonika kita.
Kira-kira itu tips singkat dari saya, semoga dapat membantu Anda semua. Jadi, jangan ragu dan takut untuk membersihkan harmonika diatonik milik Anda, supaya dapat selalu terjaga kebersihannya.

Selamat mencoba dan Salam Sedot Sebul!

Tuesday, June 3, 2014

Suzuki Airwave

Berdasarkan pengamatan saya,  teman-teman yang akhirnya tertarik untuk memainkan harmonika, biasanya memiliki pengalaman berkenalan dengan instrumen ini saat mereka masih kanak-kanak. Pada masa-masa itulah, harmonika (kebanyakan) dianggap hanya sebagai sebuah mainan. Dan faktanya, sebagian besar dari mereka bertemu dengan harmonika tipe Tremolo.

Nah, Suzuki ternyata memiliki satu produk harmonika yang dibuat khusus untuk anak-anak. Jenisnya pun bukan Tremolo, tapi Diatonik! Namanya adalah Suzuki Airwave. Produk ini memang dibuat sebagai sarana bagi anak-anak yang ingin belajar cara memainkan harmonika diatonik sejak awal.

Sekitar 2 atau 3 tahun yang lalu saya sempat membelinya untuk anak saya yang masih berusia 4 tahun. Alasan saya sederhana, setiap kali saya memainkan harmonika, anak saya selalu berusaha meminta harmonika yang sedang saya gunakan, untuk dia mainkan sendiri. Rupanya dia juga sudah mulai tertular virus harmonika dari bapaknya :p . Tapi rupanya rencana saya tak berjalan mulus, karena setelah saya membelikan harmonika tersebut, dia tetap saja berusaha merebut harmonika yang saya mainkan (- -“)

Penasaran dengan Airwave ini, saya mencoba untuk memainkannya. Dengan bodi yang hampir seluruhnya bernuansa plastik, saya kira harmonika ini tak lebih dari sebuah mainan. Di-bend pun saya pikir tak bisa. Eh, tapi saya terkejut ketika saya mencobanya sendiri. Ternyata harmonika ini bisa di-bend persis seperti sebuah harmonika diatonik biasa! Yah, pada prinsipnya, harmonika dengan 10 lubang ini memang adalah sebuah harmonika jenis Diatonik.  Bedanya, jarak antar lubang sangatlah jauh bila dibanding dengan harmonika diatonik biasa. Sepertinya ini sengaja dibuat karena anak-anak pastilah sangat susah untuk mendapatkan single note dengan posisi lubang yang sangat berdekatan, seperti pada harmonika diatonik biasa. Kalau boleh dikatakan, lubang-lubang milik Suzuki Airwave sangatlah mirip dengan harmonika kromatik keluaran Suzuki. Bulat dan agak berjauhan. Jadi, kesan pertama yang saya dapat ketika memainkan harmonika ini adalah seperti memainkan harmonika kromatik, tetapi dengan isi harmonika diatonik. Bedanya, Airwave memiliki bodi yang lumayan pipih.

Suzuki Airwave dilengkapi dengan buku petunjuk yang terdapat pada kemasannya. Buku yang dibuat oleh Ronnie Shellist, salah satu endorsee Suzuki yang terkenal itu, berisi penjelasan tentang teknik-teknik sederhana memainkan harmonika diatonik bagi anak-anak, dan juga ada beberapa tab lagu sederhana.

Yah, karakter suaranya sih memang jauh bila dibanding dengan harmonika diatonik biasa, tapi sebagai sarana pengenalan untuk anak-anak, saya rasa Suzuki Airwave sudah cukup bagus. Ketika saya beli, harganya masih sekitar Rp. 95.000,-.  Airwave tidak dilengkapi dengan baut cover plate, jadi memang sepertinya tak dirancang untuk sering dibongkar pasang. Secara ergonomi, bagian comb-nya dibuat untuk nyaman di bibir anak-anak. Tetapi untuk media belajar bagi orang dewasa , saya tak menganjurkannya. Lebih baik sekalian beli harmonika diatonik yang “sungguhan”. Sekali lagi, Suzuki Airwave memang dirancang sebagai harmonika diatonik untuk anak-anak. Jadi, bila anak Anda sudah mulai nampak tertarik dengan yang namanya harmonika Diatonik, tak ada salahnya membeli Suzuki Airwave untuk mereka.

Monday, March 24, 2014

Suzuki Manji

Kali ini saya ingin memberikan sedikit ulasan mengenai salah satu harmonika diatonik yang diproduksi oleh Suzuki. Harmonika ini diberi nama "Manji", sesuai dengan nama depan sang pemilik perusahaan pembuatnya, yaitu Manji Suzuki, yang telah membuat harmonika sejak 70 tahun yang lalu. Rupanya pemberian nama tersebut adalah sebagai bentuk penghargaan atas dedikasi tuan Manji Suzuki dalam membuat harmonika.

Harmonika diatonik berkode M-20 ini boleh dibilang adalah salah satu harmonika kelas wahid yang diproduksi oleh Suzuki. Dibuat dengan comb yang berbahan komposit (bukan kayu, dan bukan pula plastik), Manji memiliki bentuk cover plate yang menurut saya cantik. Disainnya yang membulat, membuat Manji sangat nyaman di bibir. Untuk urusan harga, Suzuki Manji bisa Anda dapatkan dengan harga di bawah Rp. 600.000,- (lebih murah dari Hohner Crossover yah...:p).

Karakter suara Manji bisa dikatakan mendekati suara harmonika diatonik dengan comb yang terbuat dari kayu. Untuk bermain musik Blues, Manjipun tak kalah garang. Menurut saya, Manji memiliki bobot yang lumayan berat, bila dibanding Crossover misalnya. Disain cover plate Manji memiliki dua lubang kecil di samping kanan dan kiri, yang memungkinkan sang pemain mendengar suara yang dihasilkan, jadi semacam ada "monitor" bagi sang pemain tersebut.
Namun ada seorang teman yang mengatakan bahwa cover plate Manji kurang kokoh, terutama bagian belakangnya. Kalau dilihat memang betul, sih....bagian belakang cover plate Manji sangat "mangap" namun tak ada penopang di bagian tengahnya. Volume suara yang dihasilkan memang bakalan keras, tapi menurut teman saya itu, tanpa adanya penopang di bagian belakang, cover plate Manji akan mudah "penyok".

Letak baut cover plate Manji juga agak tidak lazim. Diletakkan pada posisi yang justru maju ke depan, mendekati tepian reed plate, menurut beberapa sumber, hal ini dimaksudkan untuk menambah tingkat kekedapan udaranya (airtightness).

Secara keseluruhan, Manji memberikan pengalaman yang luar biasa bagi penggunanya. Sangat responsif, lantang, memiliki ergonomi yang pas dan harganya pun terjangkau. Di Indonesia, Suzuki Manji masih termasuk mudah untuk didapatkan di toko-toko musik terkenal seperti MG Music Store.

Jadi bagi Anda yang ingin memiliki harmonika diatonik merk Suzuki yang lebih baik dari Harpmaster atau Bluesmaster, silakan mencoba tipe Manji ini.
Dijamin tak akan menyesal! Coba saja.....


Salam Sedot Sebul!

Wednesday, January 1, 2014

Hohner Golden Melody

Suara Emas!

Yak, dua kata itulah yang kira-kira dapat menggambarkan produk Hohner yang bernama Golden Melody.
Harmonika diatonik yang satu ini memiliki bentuk unik, cenderung retro ala tahun 1950an, tak memiliki ujung persegi, tapi justru membulat.

Sesuai dengan namanya, Golden Melody memang dibuat sebagai harmonika yang digunakan untuk memainkan peran sebagai "lead melody". Buktinya, Golden Melody memiliki jenis tuning yang Equal Temperament, artinya, bila diukur secara rinci, frekuensi setiap nadanya sangat presisi (tak seperti harmonika diatonik yang lain, yang memiliki tuning Just Intonation, yang frekuensinya tidak pas betul, tapi justru lebih enak untuk memainkan kord).Tapi bukan berarti Hohner Golden Melody tak bisa digunakan untuk bermain Blues. Cuma memang masih kalah "kotor" bila dibanding dengan seri Marine Band.

Kalau boleh memberikan sedikit ulasan, Golden Melody memiliki airtightness yang yahud. Mungkin inilah sebabnya orang sampai bilang Golden Melody sangat mungkin di-overblow tanpa harus di-gapping (padahal sampai sekarang saya masih belum bisa juga...hahahahha....).

Frekuensi yang presisi memang enak untuk memainkan melodi-melodi yang cenderung jazzy. Karakter suaranya kadang menurut saya agak mirip dengan saksofon.Cukup keras walau tak se"nakal" karakter suara harmonika dengan comb kayu. Dilengkapi dengan comb plastik warna merah, Golden Melody memiliki kualitas khas Hohner yang memang tak bisa diingkari.
Beberapa pemain harmonika kelas dunia menggunakan harmonika jenis ini, antara lain Buddy Greene, Todd Parrot, bahkan sobat kita Reyharp, juga menggunakannya.
Dengan harga kurang dari Rp. 500.000,-  saya rasa Golden Melody layak dimiliki setiap pemain harmonika.
Coba saja kalau tak percaya!

Thursday, September 12, 2013

Hohner Bluesband : Amazing Grace cover

Bluesband, seperti yang sudah pernah saya tulis dalam artikel saya sebelumnya, memang dapat dianggap sebagai tipe harmonika entry level dari Hohner. Namun tak berarti suaranya jelek. Saya mencoba membuktikannya sendiri saat saya memainkan sebuah lagu (covering) spiritual yang berjudul "Amazing Grace". Dengan menggunakan backing track hasil rekaman di sebuah piano elektrik, saya mencoba menggunakan Hohner Bluesband tersebut.

Rekamannya dapat didengarkan di sini.

Kalau Anda dengarkan secara teliti, terdengar bahwa beberapa kali ada suara "ngempos". Ya, itulah karakter Hohner Bluesband, yang  menurut saya itu disebabkan karena airtightness-nya  kurang. O ya, mohon maaf bila sempat terdengar ada suara klakson mobil. Maklum, saya tidak merekam permainan ini di studio musik, alias, banyak "suara-suara misteri" yang masuk di rekaman....hehehehe....

Silakan disimak...:)

Tuesday, September 10, 2013

Suzuki Harpmaster

Siapa yang pernah mengalami hal seperti ini : Anda ingin membeli harmonika diatonik yang bagus, tetapi uang yang Anda miliki kurang dari Rp. 260.000,00?

Hmmm...harmonika bagus, tapi terjangkau? Jangan khawatir! Suzuki memiliki satu produk yang bisa memberikan jawabnya. Produk tersebut adalah harmonika diatonik tipe Harpmaster (MR-200). Yup!
Harpmaster adalah sebuah harmonika diatonik keluaran Suzuki yang terjangkau harganya, namun masih memiliki kualitas yang yahud.

Beberapa tahun yang lalu, harmonika tipe ini tidak dijual bebas di Indonesia. Saya pernah harus membelinya dari luar negeri, melalui seorang teman di grup Pencinta Harmonika. Namun kabar baiknya, harmonika ini sudah dijual bebas di Indonesia. Seingat saya, pertama kali masuk Indonesia, Harpmaster dijual dengan harga Rp. 195.000,00. Sekarang, (kalau saya tak salah) harganya adalah sekitar Rp. 235.000,00.

Bila Anda adalah seorang pemula yang sedang belajar cara memainkan harmonika diatonik, dan terbiasa menggunakan harmonika seperti Suzuki EazyRider atau Suzuki Folkmaster, maka Anda akan segera mendapatkan kejutan saat memainkan Harpmaster ini. Kalau biasanya Anda musti bersusah payah melakukan teknik Bending dengan EZR ataupun Folkmaster, maka dengan Harpmaster, Bending bisa dilakukan dengan amat mudah dan halus. Ya, untuk teknik Draw Bend misalnya, Anda tak perlu menyedot kuat-kuat. Cukup posisikan lidah Anda dengan benar, sedot secara halus, dan Bendingpun sudah terjadi! Berdasarkan pengalaman saya, Harpmaster memiliki airtightness yang sangat baik, yang memungkinkan kita untuk dapat melakukan teknik Overbend, asal kita tahu caranya.

Harpmaster dikenal awet dan memiliki ketahanan yang kokoh. Bobotnya memang lebih berat bila dibanding EZR ataupun Folkmaster, namun inilah yang memberikan kesan mantap saat Anda memegangnya. Harpmaster juga memiliki warna comb yang khas, yaitu hijau tua, yang dipadu dengan reed plate berwarna kuning logam, dan cover plate dengan nuansa krom. Comb yang terbuat dari plastik dan dipasang dengan sistem baut, memungkinkan Anda untuk membersihkan bagian dalamnya dengan lebih mudah.  Harpmaster dijual lengkap dengan sebuah kotak plastik yang juga berwarna hijau tua.

Menurut saya pribadi, Suzuki Harpmaster memiliki karakter suara yang cenderung Jazzy, dan kurang garang bila digunakan untuk memainkan lagu-lagu bernuansa Blues. Tapi tergantung masing-masing pribadi yang memainkannya juga, sih...

Sebagai contoh, Anda dapat lihat pada video di bawah iniyang menunjukkan bahwa Suzuki Harpmaster, di tangan yang tepat, dapat menghasilkan suara yang ciamik dan membius. Klip tersebut dibuat oleh seorang pemain harmonika profesional dari Swedia,  bernama Filip Jers. Filip, yang sangat jago ini juga adalah seorang endorsee bagi harmonika buatan Suzuki. Perhatikan baik-baik, pada video terdengar suara hasil overblow dan overdraw bertaburan di sana sini. Bukti bahwa dengan Harpmasterpun kita bisa melakukannya juga. Silakan disimak, dan saya yakin Anda akan segera tergiur untuk membeli sebuah harmonika Suzuki Harpmaster! Selamat mencoba!



Salam Sedot Sebul!

Saturday, July 20, 2013

Reed Gapping

Pernah mengalami hal seperti berikut ini?

Anda membeli sebuah harmonika, lalu mencoba memainkannya, tetapi pada beberapa lubang, nampaknya Anda mengalami kesulitan untuk membunyikannya? Seperti tertahan, tercekik, atau bahkan terasa berat? Padahal menurut Anda, teknik yang digunakan sudah benar...

Tenang!...Hal seperti ini jamak dialami. Terutama ketika kita membeli harmonika diatonik yang murah, katakanlah seharga kurang dari Rp. 100.000,00. Tapi jangan salah, dengan harmonika yang lebih mahal, Anda juga bisa mengalami hal yang sama. Jangan kuatir, tak usah terburu-buru memvonis bahwa harmonika yang Anda beli itu cacat! Biasanya, masalah seperti itu dapat diatasi dengan satu cara mudah, yang kerap disebut dengan teknik "Reed Gapping". Bagi pemain harmonika, sangat disarankan untuk dapat menguasai teknik ini.

Reed Gapping artinya melakukan penyesuaian jarak kerenggangan (gap) antara Reed dengan Reed Slot. Kesulitan dalam menghasilkan suatu nada pada lubang tertentu, kemungkinan karena kerenggangan reed yang dimaksud itu masih terlalu sempit. Hasilnya tentu saja, reed akan susah bergetar, dan sulit menghasilkan bunyi.

Teknik Reed Gapping sebenarnya gampang. Anda hanya perlu menambah sedikit saja jarak antara reed dengan slot nya. Alat yang dibutuhkan sangatlah sederhana : Struk ATM! Ya! Kertas yang keluar dari mesin ATM, setiap kali kita melakukan transaksi. Mengapa struk ATM? Coba Anda perhatikan, kertas ATM memiliki tingkat kelenturan yang cukup baik, tak mudah sobek, dan permukaannya cenderung licin. Karakter ini sangat memudahkan kita dalam melakukan Reed Gapping. Karena perubahan jarak kerenggangan yang akan kita raih tak terlalu besar, maka kita harus berhati-hati dalam melakukan teknik ini. Sampai-sampai ada yang menyebutnya seolah-olah kita me"massage" atau memijat Reed yang ada.

Nah, kertas ATM tadi sangat cocok untuk kita pakai. Kelenturannya yang bagus akan meminimalisir kemungkinan kita mematahkan Reed. Permukaannya yang licin juga akan membantu kita "memijat" secara halus dan merata. Cara melakukannya, dapat Anda lihat pada gambar di atas. Ingat, tak usah terlalu keras menekan kertasnya. Cukup selipkan kertas sampai ke pangkal Reed, lalu tarik perlahan sambil sedikit diangkat. Lakukan ini secara searah dan berulang-ulang. Berhati-hatilah supaya kerenggangan yang dihasilkan tak terlampau lebar, karena ini akan menyebabkan harmonika menjadi "ngempos".

Biasanya, bagi pemula, setelah membeli harmonika, lubang-lubang yang berpotensi mendatangkan masalah adalah lubang 2 dan 3. Namun tak tertutup kemungkinan ada lubang yang lain juga. Oleh karena itu, teknik ini layak dicoba. Untuk lebih lengkapnya, silakan simak video dari Adam Gussow berikut ini :

Baiklah, semoga tips ini berguna untuk Anda yang mengalami masalah seperti yang sudah saya sebutkan di awal. Ingat, sebisa mungkin latihlah kepekaan Anda dalam melakukan teknik ini, supaya dapat meraih jarak kerenggangan yang pas!
Selamat mencoba, dan berhati-hatilah!

Wednesday, May 15, 2013

The Fallen ANGEL...atau The Fals ANGEL?

Sobat harmonika, pada tulisan saya sebelumnya, telah dibahas sekilas mengenai harmonika diatonik merk ANGEL, terutama keluaran lama. Keluaran lama? Memang ada apa dengan keluaran baru?

Hmmm....
Sebenarnya topik ini sempat menghangat di grup Pencinta Harmonika. Inti permasalahannya adalah : banyak ditemukan kasus harmonika ANGEL yang dijual bebas itu FALS!

Tak hanya di Jakarta, di beberapa kotapun, ada anggota grup yang melaporkan hal yang sama. Penasaran dengan kasus tersebut, tahun 2012 lalu saya iseng melakukan sedikit investigasi. Saya membeli sebuah harmonika merk ANGEL, kunci E, di gerai MG Sports & Music toko buku Gramedia. Saat saya coba menggunakan alat pompa yang disediakan oleh pramuniaga, saya sudah bisa menangkap ketidakberesan yang terjadi : suaranya fals! Namun saya membulatkan hati untuk tetap membelinya.

Sampai di rumah, saya mencoba lagi, kali ini dengan mulut saya sendiri (maklum, kalau di toko, dilarang keras oleh pramuniaganya, untuk mencoba harmonika dengan mulut..hahahahahha....). Siapa tahu dengan posisi-posisi tertentu, fals nya itu hilang. Eh, ternyata memang ...harmonika merk ANGEL yang saya beli itu fals dan aneh!!!

Terdorong oleh rasa ingin tahu, saya segera membongkar harmonika tersebut. Saya lepas cover plate nya dan saya amati setiap reed. Alangkah terkejutnya saya ketika melihat kondisi beberapa reed. Ada reed yang panjangnya kurang, sehingga menimbulkan celah yang terlalu lebar dengan reed slot nya.

Ada juga yang tidak sejajar dengan reed slot, bahkan juga ada reed yang tidak rata/peyang di ujungnya. Beberapa reed nampaknya juga tak di-tune dengan baik. Terbukti dari bekas gerusan di ujung atau pangkal reed.
Silakan melihat beberapa gambar yang saya selipkan di tulisan ini, untuk melihat kondisi sebenarnya.





Saya juga sempat membandingkan harmonika ANGEL itu dengan harmonika ANGEL yang saya beli setahun sebelumnya. Ada beberapa perbedaan, misalnya, pada keluaran yang lebih baru, tak ditemukan lagi batang penopang cover plate. Suaranya pun jauh berbeda. Akurasi nada pada harmonika ANGEL saya yang lama masih terjaga. Sedangkan keluaran yang lebih baru, sudah jelas terdengar tak karuan. Silakan lihat pada video berikut ini.


Saya sendiri kurang tahu mengapa ini bisa terjadi. Kebetulan harmonika diatonik ANGEL yang beredar sekarang adalah buatan Cina. Mungkinkah ini menjadi satu penyebabnya? Entahlah...
Kenyataannya, teman-teman di grup Pencinta Harmonika pun melaporkan fenomena yang serupa, dan tak hanya di satu lokasi. Yang mengherankan, mengapa harmonika ANGEL masih dijual bebas dalam jumlah yang banyak? Sekali lagi, saya tak tahu....

Sebenarnya ini merupakan hal yang merugikan konsumen. Sayang juga, sebab produk ANGEL keluaran lama, justru lebih baik, terutama dalam hal akurasi nada, dan menurut saya untuk harmonika murah, tidak jelek-jelek amat. Seharusnya produsen ANGEL menarik semua produk diatonik mereka dan melakukan perbaikan menyeluruh.

Yah, semoga dengan tulisan ini, produsen harmonika diatonik merk ANGEL dapat segera mengambil tindakan, supaya masyarakat awam tak dirugikan lagi. Sampai sebelum ada perbaikan dari pihak produsen, saya tak menyarankan Anda untuk membeli harmonika merk ini. Tetapi kalau memang Anda tidak percaya dengan tulisan ini, saya sarankan, sebelum Anda membawa pulang harmonika merk ini (bila tetap ingin membeli), cobalah dahulu dengarkan akurasi nadanya.

Semoga berguna!

The ANGEL harmonica...

ANGEL...

Sebuah merk harmonika diatonik yang (saya yakin) mudah ditemui di gerai-gerai MG Sports & Music dalam toko buku Gramedia yang terkenal itu.

Yak! Saya mengaku bahwa saya memiliki (paling tidak) satu harmonika diatonik merk ANGEL tersebut. Kira-kira tahun 2011 yang lalu, saya baru saja mulai belajar cara memainkan harmonika diatonik. Dengan sudah adanya koleksi beberapa harmonika, antara lain Suzuki Folkmaster dan Hohner Bluesband, saya merasa penasaran untuk mencoba merk ANGEL itu. Harmonika diatonik merk ANGEL mudah dikenali saat kita melihat-lihat etalase di gerai MG Sports & Music.

Biasanya dipajang dalam jumlah melimpah, harmonika merk ini dijual lengkap dengan kotak penyimpanan yang menurut saya lumayan mewah: wadah plastik warna abu-abu, di dalamnya masih ada semacam mangkok penyangga yang terpisah, dan dilengkapi dengan sebuah lap warna abu-abu pula. Bahkan Suzuki pun tidak menyediakan kelengkapan tersebut untuk tipe Harpmaster, misalnya.

Mewah sih mewah, tetapi tak melulu berarti harmonikanya menawarkan kemewahan yang sama. Untuk ukuran harmonika diatonik seharga di bawah Rp. 100.000,00 (kalau tak salah saya dulu beli dengan harga Rp. 79.000,00), harmonika ANGEL memiliki bobot yang lumayan berat ketimbang rivalnya, Suzuki Folkmaster. Dengan  desain yang mengacu pada harmonika diatonik modern, reed plate harmonika merk ini tertutup sempurna oleh cover plate dan comb nya. Kesan yang saya dapat setelah mencoba harmonika ini adalah : BERAT!  Yak, tak hanya bobotnya saja yang berat, tetapi usaha untuk meniup dan menyedotnya pun demikian! Butuh ekstra energi untuk memainkan harmonika ANGEL ini.

Bending dapat dilakukan asal Anda cukup kuat untuk mempertahankan nafas. Airtightness nya menurut saya lumayan. Namun buat saya, suara harmonika ANGEL ini khas. Kalau boleh saya katakan, tone-nya cenderung bulat, sehingga lumayan lah kalau digunakan untuk memainkan lagu yang Jazzy.

O ya, ada beberapa yang bilang kalau harmonika ANGEL itu sebenarnya adalah merk buatan Korea, namun belakangan  dibuat di Cina. Apa bedanya? Nanti akan saya bahas di tulisan saya yang lain.

Sementara itu bolehlah saya mohon ijin untuk menampilkan salah satu video saya saat saya memainkan harmonika diatonik merk ANGEL. Mohon maaf kalau permainannya masih kacau (sekarang juga masih sih...ahhahaha...!) karena video ini saya buat saat awal-awal saya belajar harmonika. Silakan dikritisi....!



Saturday, April 20, 2013

Suzuki Easy Rider

Satu lagi harmonika diatonik buatan Suzuki yang masuk dalam kategori "entry level" adalah Suzuki Easy Rider (kode : EZR20). Harmonika tipe ini sangat mudah dikenali karena warna cover plate nya yang menyolok, yaitu warna merah. Entah kenapa, di website resmi Suzuki Music, warna cover plate yang nampak pada gambar Suzuki Easy Rider adalah abu-abu (atau perak?). Tetapi selama ini setiap harmonika Suzuki tipe Easy Rider yang saya temui, selalu memiliki cover plate yang berwarna merah.

Dari namanya, sudah dapat ditebak bila harmonika tipe ini ditujukan bagi pemula yang baru ingin belajar cara bermain harmonika diatonik. Tapi jangan salah, berdasarkan pengalaman saya, harmonika tipe ini tak bisa dianggap remeh seperti harmonika mainan biasa, lho...

Desain comb dan reed plate nya berbeda dengan saudaranya, yaitu tipe Folkmaster (1072). Pada Easy Rider, reed plate "tertanam" secara rapi di dalam comb yang terbuat dari plastik, sehingga tepiannya tak "nongol" seperti pada Folkmaster. Konsekuensinya, bibir tak mudah merasa sakit. Tetapi entah mengapa, dari beberapa Easy Rider yang saya miliki, saya menemui beberapa kesamaan : bagian comb yang memiliki lubang (yang bersinggungan langsung dengan bibir pemain) cenderung mempunyai permukaan yang kesat. Hal ini kadang membuat saya kesulitan untuk berpindah dari satu lubang ke lubang yang lain. Tapi, sekali lagi, ini hanya menurut saya lho...


Untuk airtightness, menurut penilaian subyektif saya, boleh dibilang Easy Rider lebih baik daripada Folkmaster. Mungkin karena desain dan susunan comb dan reed plate yang berbeda dibanding dengan Folkmaster, sehingga gejala "ngempos" tak terlalu banyak ditemui pada harmonika ini. Efeknya, teknik Bending dapat lebih nyaman dilakukan, apalagi bila sebelumnya, kita lakukan "reed gapping" pada beberapa reed yang ada. (Untuk teknik "reed gapping" ini akan saya bahas pada tulisan yang lain).

Sayang, volume suara yang dihasilkan, tak sekeras Folkmaster. Mungkin karena bagian belakang cover plate kurang "mangap" jika dibanding dengan Folkmaster. Namun untuk kerapian dan akurasi pemasangan reed yang ada pada reed plate, Easy Rider juga tak kalah dengan Folkmaster. Sekali lagi, ini bukti bahwa pihak Suzuki Music memang sangat konsisten menjaga kualitas setiap produknya, bahkan untuk produk entry level seperti Easy Rider tersebut.

Suzuki Easy Rider dijual lengkap dengan kotak yang terbuat dari karton, berbeda dengan saudaranya, Folkmaster, yang dijual lengkap dengan kotak plastik. Harga Easy Rider di bawah Folkmaster, yaitu sekitar Rp. 65.000,00. Harmonika ini juga tak sulit dicari. Cukup kunjungi gerai MG di toko buku Gramedia, dan biasanya Anda akan dapat menemukannya.

Ya....sekali lagi, bila memang Anda terbentur masalah dana, tetapi "ngebet" untuk belajar harmonika diatonik, tak ada salahnya membeli harmonika Suzuki Easy Rider. Selamat mencoba!

Suzuki Folkmaster

Anda ingin mulai belajar bermain harmonika diatonik, dan sedang mencari harmonika untuk pemula, tetapi terbentur masalah dana? Katakanlah, Anda hanya mempunyai dana maksimal sejumlah Rp. 100.00,00…
Nah, mungkin ada satu jenis harmonika yang layak Anda coba. Namanya adalah : Suzuki Folkmaster (kode : 1072).  Folkmaster adalah tipe harmonika keluaran Suzuki yang termasuk dalam kelas “entry level”.  Harmonika tipe ini relatif mudah ditemukan.  Kalau di kota Anda ada toko buku Gramedia, biasanya di toko tersebut juga terdapat gerai MG Sport & Music, yang menyediakan alat-alat olah raga dan musik. Biasanya, Suzuki Folkmaster dijual di gerai semacam itu. Harga terakhir yang saya tahu (sekitar awal tahun 2013)    adalah        Rp. 75.000,00. Berikut ini saya ingin berbagi mengenai harmonika tipe ini, berdasarkan pengalaman saya memiliki dan memainkannya selama ini.

Suzuki Folkmaster  dijual lengkap dengan kotak penyimpan yang terbuat dari plastik berwarna coklat. Harmonika ini memiliki bentuk yang mengacu pada harmonika-harmonika diatonik klasik. Comb nya terbuat dari plastik, dan cover plate nya dihiasi dengan ukir-ukiran yang semakin mempertegas kesan klasik tersebut. Reed plate yang dimiliki oleh Folkmaster tidak tertutup penuh oleh cover plate dan comb nya. Tepian bagian depan dibiarkan “nongol” keluar. Bagi Anda yang baru pertama kali memainkan harmonika, mungkin akan merasakan sebuah sensasi aneh saat mulut Anda bersinggungan dengan harmonika tersebut. Sensasi yang saya maksud adalah, rasa dan aroma logam yang sangat kentara di mulut Anda. Yah, menurut pengalaman saya sih, begitu. Mungkin karena tepian reed plate yang terbuat dari kuningan itu cenderung menjorok keluar. .Menurut saya juga, struktur dan desain seperti itu akan mudah membuat bibir Anda terasa kurang nyaman, atau kalau boleh dikatakan secara humor, harmonika ini mudah membuat bibir Anda menjadi “jontor”…hahahahha….

Soal kualitas suara, desain cover plate bagian belakang yang cenderung membuka, lumayan dapat menghasilkan volume suara yang keras. Yah, tergantung cara memainkannya juga sih...! Tetapi dengan teknik yang benar, harmonika ini dapat menghasilkan suara yang keras.

Kembali kepada desain dan struktur reed plate, bagi saya Suzuki Folkmaster mempunyai airtightness yang kurang baik. Kalau Anda bongkar dalamnya, dapat Anda lihat bahwa comb nya sangat mirip dengan bentuk sisir, alias bagian depannya memang terbuka. Ditambah lagi reed plate yang terpasang diatas comb dan tepiannya cenderung keluar, membuat udara masih bisa menerobos. Akibatnya, bila Anda adalah seorang pemula dan sedang mempelajari teknik Bending, menurut saya Suzuki Folkmaster akan  membuat Anda cukup kerepotan. Tetapi itu juga tergantung kemampuan dan keteguhan hati si pemain…hehehehe….Jadi  jangan lantas menyerah!

Pada akhirnya, Suzuki Folkmaster, sebagai harmonika berharga di bawah  Rp. 100.000,00, tak serta merta mengecewakan. Yang pasti, Suzuki sebagai salah satu produsen harmonika terkemuka di dunia,  tak perlu diragukan lagi konsistensinya dalam menjaga kualitas, kerapian dan tingkat akurasi dari setiap produknya. Tak terkecuali  tipe Folkmaster. Kerapian dan akurasi pemasangan setiap reed sangat terjamin. Jadi, tak ada salahnya juga bila Anda berniat mulai belajar harmonika diatonik dengan menggunakan Suzuki Folkmaster tersebut.
Jangan cuma dengarkan apa yang saya katakan! Silakan coba sendiri...xixixix....
Selamat mencoba!

Friday, April 5, 2013

Wafer Tremolo

Suatu saat ada seorang teman muda yangmengatakan kepada saya bahwa dia pernah memiliki sebuah hamonika buatan Cina, tapi sudah lama sekali tak pernah dia mainkan. Dia mengatakan bahwa dia berniat untuk membawa dan menunjukkannya kepada saya. Wah, tawaran seperti ini tentu  tak bisa ditolak begitu saja! Saya segera mengiyakan tawaran itu, dan ternyata dia juga sekaligus meminta tolong kepada saya untuk memeriksa dan membersihkan harmonikanya tersebut.  Saya tak keberatan dengan permintaannya itu.

Seminggu kemudian, dia menepati janjinya untuk memperlihatkan harmonikanya kepada saya. Saya sungguh senang ketika melihatnya, karena harmonika yang dia miliki adalah sebuah harmonika Tremolo warna hitam, buatan China, merk Hero. Ini mengingatkan kepada saya akan harmonika yang pernah saya punyai semasa kecil dulu. Segera harmonika itu saya bawa pulang dan saya bongkar sedikit untuk sekedar melihat bagian dalamnya.

Ternyata memang betul kata teman saya. Harmonika itu sudah berumur  dan kelihatan lama tak pernah dipakai. Bagian dalamnya penuh dengan debu. O ya, komponen comb harmonika tersebut terbuat dari kayu. Ketika hendak melepas reed plate-nya, saya baru sadar bila reed plate itu tidak dipasang dengan menggunakan baut, tetapi dengan paku. Akhirnya saya mengurungkan niat, dan hanya mencoba membersihkan setiap lubang dengan kondisi reed plate masih terpasang pada comb.

Setelah selesai saya bersihkan, saya mencoba untuk memainkannya. Beberapa reed nampaknya sudah mulai fals, maklum sudah berumur dan lama tak dimainkan. Namun suara khas harmonika tremolo masih tetap terjaga. Reed yang mulai fals saya diamkan saja, karena saya belum mempunyai pengalaman melakukan Reed Tuning harmonika. Yah, paling tidak saya bisa berjumpa lagi dengan “wafer” tremolo seperti yang pernah saya miliki dulu. Mungkin bila dulu saya tak memiliki harmonika tremolo seperti itu, saya tak akan pernah merasa jatuh cinta dengan harmonika. Jadi, yah, saya tetap menaruh hormat pada harmonika seperti itu…hehehheeh….