Kali ini langsung saja, saya ingin membahas tentang posisi 12 atau yang sering disebut sebagai "First Flat". Posisi yang cocok buat mainin lagu jazzy ini menuntut kita untuk sudah memiliki kemampuan melakukan teknik Bending secara akurat dan stabil. Mirip dengan posisi ke 2 (CrossHarp), posisi ini pada oktaf pertama lebih banyak menggunakan teknik sedot. Nah, susunan tab harmonika nya pada oktaf pertama adalah seperti berikut :
Videonya bisa disimak di bawah ini, dan pada rekaman ini saya menggunakan harmonika kunci C, sehingga ketika menggunakan posisi 12, berarti saya bermain dalam nada dasar Do = F. O ya, sekaligus juga saya membahas tentang posisi 3 (Slant Harp) yang sebenarnya masih ada hubungan dengan posisi 12 tersebut.
Sedangkan untuk contoh penggunaan posisi ini ada di video berikut ini, dengan catatan, di lagu ini saya menggunakan harmonika kunci A, sehingga nada dasarnya adalah Do = D.
Banyak juga pertanyaan datang ke saya, soal cara bermain harmonika Tremolo.
Wah, jujur, saya agak susah menjawabnya, karena memang saya secara pribadi lebih cenderung fokus di harmonika diatonik. Saya juga nggak punya harmonika Tremolo. Beberapa kali beli, selalu saya jadikan hadiah buat anak-anak, ketika saya "jualan" EO...hehehehhe....
Nah, daripada susah, mending kita dengar nasehat dan petuah dari yang sering mainin harmonika jenis ini deh...Agak telat sih tayangnya, cuma daripada enggak sama sekali ya...? Hehehehe...
Berikut pak Arif Sidarta akan memberikan penjelasan mengenai dasar bermain harmonika jenis Tremolo.
Terima kasih banyak untuk pak Arif, bro Helmy Fairuz, dek Rona Telam Selliy dan masbro R'Van Hermawan yang datang jauh-jauh dari Semarang untuk nggonjrengin dan kasih backing sound...wkwkww...
Wah, saya sungguh terkejut ketika suatu hari ada yang menghubungi saya untuk membicarakan masalah comb pada harmonika diatonik. Yes, nama orang tersebut adalah pak Wirjanto. Beliau menghubungi saya lewat Youtube, kemudian berlanjut lewat Whatsapp.
Ngobrol sedikit dengan beliau, dan ternyata Pak Wir ini termasuk orang yang suka koleksi harmonika, lho...
Nah, dari obrolan itu ternyata beliau menawarkan kepada saya untuk mencoba comb berbahan akrilik. Tanpa berpikir ulang saya langsung menyetujuinya, dan tak dinyana, Pak Wir langsung minta alamat rumah saya karena comb akrilik tersebut mau dikirim ke saya.
Wih, mimpi apa coba??? Jadi, saya harus berterima kasih kepada Pak Wir atas comb akriliknya.
Nah, setelah sampai tuh paketnya, dan kebetulan karena comb yang dikirim adalah untuk Suzuki Olive, maka Olive saya langsung saya bongkar. Comb asli Olive berwarna hitam dan berbahan dasar resin langsung saya copot dan saya ganti dengan comb dari Pak Wir. Wuidiiihhh...Olive saya jadi kelihatan makin cantik, karena tembus pandang dan jadi makin cerah.
Tapi, bukan itu saja, saya juga ingin tahu apakah kualitas suaranya berubah. Nah, di video ini saya mencoba memberikan review tentang kualitas suara yang dihasilkan. Kalau menurut saya sih, ada perubahan sedikit, karena bagi saya suaranya terdengar sedikit lebih nyaring. Gak tau ya, apa memang perasaan saya aja atau gimana...Tapi secara umum saya katakan, penampilan Olive jadi makin ciamik karena comb nya tembus pandang.
Eniwei baswei, seru juga punya harmonika kelas premium tapi comb nya dari bahan akrilik. So, big thanks goes to Pak Wir yang bersedia mengirimkan comb tersebut. Keren pak!!!
Ternyata ada juga kenangan bersama rekan-rekan harmonika yang ada di Jogja, yaitu masbro Mujib dan masbro Pay.
Waktu itu saya bersama Sunu kebetulan sedang sama-sama di Jojga, lalu kami janjian berempat ketemu.
Sebenarnya bukan pada main harmonikanya, tapi lebih kepada kreativitas mas Mujib bikin satu alat yang sungguh revolusioner, yang...yang....
ah, sudahlah...saya nggak kuat ceritanya....abis, mo ketawa mulu....hahahaha.....
Mending liat langsung deh ya....
Slogan "Jagalah Kebersihan" ternyata nggak cuma berlaku untuk lingkungan hidup.
Harmonikapun harus tetap dijaga kebersihannya. Kita tahu bahwa harmonika adalah alat musik yang dimainkan dengan menggunakan mulut. Artinya, mulut kita bersinggungan langsung dengan alat musik ini. Beda tentunya dengan gitar atau piano yang menggunakan tangan. Kalau harmonika kita tidak dijaga kebersihannya, lantas bagaimana nasib mulut kita ya?
Aduh, amit-amit deh, mendingan dijaga kebersihannya....
Daripada mulut kita kenapa-kenapa,.. Ya nggak?
Nah, video ini saya buat untuk mengingatkan teman-teman supaya rajin menjaga kebersihan harmonika masing-masing. Sepele sih, tapi jangan salah, justru hal yang sederhana ini kalau terlalu sering dilewatkan, kita sendiri yang akan rugi.
Hai hai...
Wah sudah lama sekali saya tidak posting artikel di sini. Mohon maaf karena lagi padat merayap di kerjaan nih...hehehehe...
Btw, ada masa-masanya saya sama sekali nggak main harmonika, tapi dasar namanya Harpist, kalau nggak main lama itu rasanya gimana gitu. Pasti rindu lagi mencumbu harmonika-harmonika kesayangan. Apalagi kalau ada kesempatan untuk sekalian menularkan virus harmonika ke orang-orang.
Nah, setelah beberapa waktu, ternyata saya dan teman-teman masih mendapat kesempatan untuk boleh bergerilya menularkan virus harmonika dengan cara yang lumayan efektif, yaitu lewat TV.
Bukan pada "masuk TV" nya yang penting, tapi justru saya bersyukur kami dari Pencinta Harmonika (dan khususnya Jakarta Harpist) masih bisa punya kesempatan untuk berbagi cerita mengenai harmonika kepada khalayak ramai secara luas.
Berikut beberapa dokumentasi tentang usaha teman-teman menularkan virus harmonika lewat TV, selama tahun 2017 ini :
iNews TV
iNews TV
JawaPos TV
iNews TV
iNews TV
Mimpi kami sebenarnya sederhana : membuat anak-anak muda Indonesia gandrung akan harmonika. Daripada melakukan hal yang enggak-enggak, mendingan main harmonika kan...
Jadi semoga di masa depan, kami masih bisa punya kesempatan untuk menyebarkan virus harmonika ini, di manapun dan kapan pun, karena memang kami sangat menikmatinya.
Kalau pas lagi di luar kota, terus kepengen ngajak kopdaran sesama pencinta harmonika, tapi gak ada yang nanggepin, itu rasanya gimanaaaa gitu...ehehehehe....
Tapi, woles lah...kita mah yang penting enjoy. Nah, ceritanya kali ini, daripada manyun gara-gara batal kopdaran, saya ingin berbagi tentang Blues Scale, khususnya kalau kita mau main Blues hanya dengan menggunakan beberapa lubang pada harmonika diatonik.
Ada yang pernah nanya :"Emang bisa ya, main Blues cuma di lubang 1 & 2?"
Kali ini, saya akan menjawabnya ;"BISA!"
Meski hanya dengan menggunakan 2 lubang saja, kita masih bisa kok memainkan musik Blues...
Kita simak ya video berikut ini..maaf kalau TKP nya di kamar mandi...hahahahah....
Setelah sekian lama, akhirnya saya bisa kembali membuat video tutorial tentang
harmonika. Kali ini saya ingin berbagi satu pemahaman dasar mengenai Blues
Scale. Sebenarnya video ini saya buat karena banyak teman menanyakan cara
memainkan musik Blues dengan menggunakan harmonika diatonik. Nah, sebelum bisa
memainkan musik Blues, pertama kali kita harus tahu tangga nada atau Scale nya
terlebih dahulu. Khusus pada video ini saya hanya membahas tentang nada-nada
yang terdapat dalam Blues Scale pada oktaf pertama.
Oke, tanpa harus banyak cingcong lagi, segera kita simak
video berikut ini. Tetap semangat dan Salam Sedot Sebul!!!
Setelah pernah mendapatkan kesempatan untuk menyebarkan virus harmonika lewat radio, yaitu di stasiun radio D Fm dan RRI Pro 2, teman-teman Jakarta Harpist secara tidak diduga mendapatkan undangan wawancara di sebuah acara talkshow milik salah satu stasiun televisi yang sedang naik daun.
Undangan yang mendadak itu kami dapatkan setelah kami membuat acara sederhana di Pasar Santa, 3 hari sebelumnya. Salah seorang anggota grup FB Pencinta Harmonika, yang kebetulan adalah admin akun Twitter @harmonicalovers, yaitu mas Eko, memberitahu saya kalau dia dihubungi pihak NET TV tentang undangan tersebut. Dan dalam waktu singkat akhirnya teman-teman segera bergerak untuk menyiapkan diri memenuhi undangan acara talkshow "Indonesia Morning Show" di NET TV.
Andra...
Kami banyak dibantu oleh 2 orang sobat kami, yaitu Yudha "Aduy" Perdana, dan Arief "Andra" Julyandra dari komunitas Breaktime. Aduy adalah gitaris handal dan juga seorang penulis lagu, sedangkan Andra pemain bas yang ciamik. Tanpa mereka, (kalau kata teman-teman), kami hanyalah remah-remah roti...hahahaha....Jadi, terima kasih banyak buat Aduy dan Andra yang dengan luar biasa menciptakan aransemen dan iringan lagu yang super duper asyik!
Singkat kata, akhirnya setelah sempat ragu, kami memberanikan diri untuk memenuhi undangan tersebut. Total ada 5 orang perwakilan dari Jakarta Harpist, yaitu : Bagus & Sunu (admin grup FB Pencinta Harmonika), Helmy (Jakharp), Fajri "Mehonk" Aziz (anggota Bandung Harp Project yang kini tinggal di Jakarta) dan saya sendiri.
Dan......tanpa banyak ucap, inilah rekamannya....silakan disimak!
Pengen ngeBlues pake harmonika tapi pas lagi nggak punya backing track? Kalau di dekat Anda ada electric piano atau keyboard, kenapa Anda tidak membuat sendiri sendiri backing track nya? Tinggal mainkan sesuai dengan selera Anda, mau irama shuffle atau basic blues, mau tempo cepat atau lambat, mau yang singkat atau yang panjang, terserah.....
Kadang saya juga begitu. Mau streaming Youtube, koneksi sedang lelet. Sedangkan koleksi backing track di handphone saya juga nggak banyak. Maklum, isinya sudah penuh. Kalau sudah begini, biasanya saya cari keyboard atau electric piano yang bisa buat ngerekam permainan kita. Kita tinggal mainkan sesuai dengan keinginan kita, daannnn....putar ulang sambil sedot sebul.....!
Nah, di bawah ini adalah contohnya...Eh, iya, ini sekalian sambil nyanyi sedikit ya...ngarang-ngarang aja lah...hehehehhehe....biar isinya nggak cuma permainan harmonika saja. Sila disimak....dan silakan dihujani dengan kritikan atau masukan.....
Hai hai....Kali ini saya ingin mengajak teman-teman untuk belajar teknik Chugging. Pada prinsipnya teknik Chugging itu menirukan suara lokomotif kereta api, namun bisa juga dimodifikasi menjadi beberapa pola lain.
Nah, pada video saya kali ini, variasi yang ingin saya bagikan menggunakan pola "Chak-a-Chak-a". Apa itu ya?
Ya, itulah rangkaian suku kata yang diucapkan sembari kita menyedot atau meniup harmonika kita. Lidah memainkan peran penting dalam memotong aliran udara, dengan menyebutkan rangkaian suku kata tersebut.
Berikut contoh pola variasi Chugging yang saya mainkan dalam video ini :
Penerapannya sama saja saat meniup atau menyedot, bedanya, saat menyedot, kata "Chak-a" seolah diucapkan sambil menghisap udara, sementara kata "Duuu-Duuu" kita ucapkan saat meniup. Sebaliknya, saat meniup, kata "Chak-a" kita ucapkan sembari meniup, sedangkan kata "Duuu-Duuu" kita ucapkan sambil menghisap. Ini perlu dilakukan karena sebenarnya bermain harmonika pada prinsipnya sama seperti kita bernafas. Kita tak bisa terus menerus menyedot, tanpa meniup, karena paru-paru kita akan keburu penuh dengan udara. Begitu juga saat meniup, kita tak bisa melakukannya terus menerus, karena paru-paru kita akan keburu kehabisan udara. Nah, dalam contoh pola di atas, kata "Duuu-Duuu" menjadi semacam mekanisme penyeimbang. Saat kita menyedot, "Duuu-Duuu" menjadi mekanisme pembuang udara, sedangkan saat meniup, menjadi mekanisme pengambil udara.
Seperti yang pernah saya utarakan, berkat seseorang yang sangat istimewa, saya berkesempatan untuk memiliki Suzuki Olive yang penampakannya kelihatan menggoda itu. Nah, kali ini saya ingin memberikan sedikit ulasan mengenai Olive, ketika digunakan untuk memainkan alunan melodi Blues.
Menurut saya, Suzuki Olive masih kurang "gahar" dan "nakal" untuk bermain Blues. Suaranya cenderung hangat, dan kurang kotor. Mungkin lebih cocok untuk memainkan lagu-lagu bernuansa Jazz. Cuma, suaranya yang empuk masih enak lah untuk memainkan Slow Blues. Mudah di-bending dan akurat nadanya.
Menggenggam Olive buat saya nyaman-nyaman saja. Seperti produk Suzuki yang lain, ergonomi memang sangat diperhatikan. Posisi bibir juga enak saja ketika mencumbui Olive ini...heheheheh...
Singkat kata, menurut saya Suzuki Olive masih kurang nakal untuk bermain Blues dan cenderung pas untuk memainkan lagu Jazzy. Akurasi nada yang pas, enak untuk memainkan lead melody.
Cuma yah, harganya lumayan juga buat kantong saya.....wkwkwkwkwk....
Kali ini saya sedang berbahagia menikmati cinta...Ya, cinta yang ternyata saya temui pula dalam dunia per-harmonika-an... Jadi ceritanya, seseorang yang istimewa memberikan saya kesempatan untuk boleh memiliki salah satu harmonika diatonik idaman saya, yaitu Suzuki Olive (C-20). Sampai hari ini saya belum berani memberikan ulasan tentangnya, tapi jangan kuatir, segera akan saya buat.
Namun yang menarik perhatian saya adalah tentang kisah di balik pembuatan Suzuki Olive tersebut. Kita tahu bahwa harmonika merk Suzuki dibuat oleh tuan Manji Suzuki dari Jepang sono....Nah, beberapa tahun yang lalu, untuk memperingati dedikasi tuan Manji Suzuki dalam membuat harmonika, diproduksilah sebuah harmonika diatonik yang diberi nama sesuai dengan nama beliau, yaitu Suzuki Manji (M-20). Saya sudah pernah menulis artikel tentang Manji ini, dan memang kualitasnya sangat yahud. Banyak pemain profesional yang menggunakan Suzuki Manji ini.
Ternyata, ada kisah lain di belakang itu semua. Tuan Manji Suzuki rupanya juga mengalami kehilangan yang amat mendalam akibat ditinggal oleh sang istri tercinta. Kalau tidak salah sekitar tahun 2012, sang istri meninggal dunia, dan tuan Manji Suzuki sangat terpukul. Dan demi mengabadikan cintanya pada sang istri, maka diproduksilah sebuah harmonika diatonik yang sangat mirip dengan Manji. Demi cintanya pula, maka harmonika itu diberi nama sesuai dengan nama mendiang sang istri, yaitu : OLIVE.
Nama itu mencerminkan kecantikan yang luar biasa, dan Suzuki Olive pun menunjukkan kecantikan yang tak terbantahkan. Meski sama-sama menggunakan Comb dari bahan komposit campuran kayu dan resin, seperti Suzuki Manji, namun Suzuki Olive memiliki stainless steelcover plate yang cantik, berwarna hijau metalik. Mencerminkan cinta tuan Manji Suzuki kepada sang istri.
Nah, karena saya sudah berhasil memiliki sebuah Suzuki Manji, dan kini sebuah Suzuki Olive, rasanya itu seperti memandangi sebuah dedikasi dan pernyataan cinta yang mendalam antara tuan Manji Suzuki dan istrinya itu. Kalau sudah begini, memainkan keduanya tentu akan lebih membuat saya terhanyut dalam cinta itu......hihihiiihi........sedikit lebay gapapa yah......
*special thanks goes to someone special who gave me the chance to have this baby
Suatu hari saya mendapatkan pertanyaan dari seorang teman, yang cukup menggelitik saya.
Pertanyaannya adalah seperti ini : "Kenapa hampir dalam setiap video, Papa Monique selalu menggunakan harmonika yang harganya lumayan mahal? Kenapa tidak menggunakan harmonika yang murah?"
Berdasarkan pertanyaan itu saya jadi berpikir, apa jangan-jangan banyak orang menganggap bahwa permainan harmonika yang bagus itu mutlak ditentukan dari mahal murahnya harmonika yang digunakan, atau dari bagus tidaknya harmonika itu?
Eh, tapi bukan berarti permainan saya bagus lho...hehehehe.....Dan bukan berarti pula saya mau pamer harmonika mahal. Justru ketika awal saya belajar, saya hanya punya beberapa harmonika diatonik kelas bawah. Saya hanya ingin membuktikan bahwa kualitas permainan harmonika seseorang tidak mutlak ditentukan oleh bagus tidaknya,atau mahal murahnya harmonika yang digunakan.
Oleh karena itu saya mencoba membandingkan dua merk harmonika yang beda harganya bagaikan langit dan bumi :p Harmonika yang pertama adalah Hohner MarineBand Deluxe, yang sudah pasti berharga di atas Rp. 500.000,-. Sedangkan yang berikutnya adalah Angel keluaran lama, yang ketika saya beli harganya hanya Rp. 79.000,- Keduanya memiliki kunci yang sama, yaitu kunci F, dan saya gunakan untuk jamming dengan backing track yang sama pula.
O ya, sebagai catatan, harmonika diatonik merk Angel keluaran lama masih terjaga akurasi nadanya bila dibanding dengan produksi mulai sekitar tahun 2012. Seperti yang sudah pernah saya tulis dalam artikel di blog ini, Angel keluaran baru sangatlah parah kualitasnya.
Nah, tanpa perlu berpanjang lebar lagi, saya persilakan Anda menyimak video saya ini, dan ambillah kesimpulan sendiri.....hehehehe....
Hei! Apakah Anda mengalami kebingungan ketika hendak menentukan nada dasar saat memainkan harmonika diatonik Anda?
Nah, mungkin saya bisa sedikit membantu Anda. Silakan cermati tabel yang saya buat ini. Dengan tabel ini Anda dapat dengan mudah menentukan nada dasar permainan musik Anda, terkait dengan kunci harmonika diatonik yang Anda miliki. Di kolom sebelah kiri adalah kolom yang menunjukkan kunci harmonika diatonik Anda. Sedangkan kolom-kolom berikutnya adalah kolom yang menunjukkan posisi bermain harmonika, dan nada dasar yang dapat Anda peroleh dengannya. Harap diingat, pada posisi pertama, nada dasar didapat dari lubang 4 TIUP. Posisi ke dua, dari lubang 2 SEDOT. Posisi ke tiga,dari lubang 4 SEDOT.
Saya hanya membuat sampai pada posisi 3, karena terus terang ke tiga posisi itulah yang baru bisa saya kuasai. Maklum, namanya juga masih terus belajar.
Nah, silakan simpan tabel ini, atau kalau perlu dicetak dan disimpan di dalam dompet (heheheh....). Sehingga sewaktu-waktu Anda kebingungan menentukan nada dasar, Anda hanya perlu melihat primbon ini. Hahahahaha....!
Wooohooo...Gerilya Harmonika dimulai lagi...
Kali ini saya bersama dengan beberapa teman mendapat undangan wawancara langsung di RRI Pro 2, dalam sebuah acara yang bertajuk "Community Hour".
Mewakili Jakarta Harpist (Twitter : @Jakartaharpist), ternyata kamilah yang diundang pertama kali di acara ini, di tahun 2015 (hahahah..bangga sedikit lah!). Tadinya kami akan datang berempat, yaitu saya sendiri, Sunu, Rama dan Putut. Namun mendadak Sunu tidak bisa, sehingga kami hanya datang bertiga.
Tapi meski demikian, tak mengurangi semangat kami dalam bergerilya harmonika. Dipandu oleh mbak Mariana dan mas Ferli, setiap pembicaraan berlangsung dengan sangat cair. Pokoknya menyenangkan, deh!
Terima kasih buat RRI Pro 2 yang telah mengijinkan kami ikutan on-air dan terima kasih juga buat mbak Mariana dan mas Ferli yang telah menyambut kami dengan hangat! Semoga berikutnya ada kesempatan bergerilya lagi di radio lain, atau bahkan di stasiun TV lain....wooohhooo....!!!
Salam Sedot Sebul!
*Oh iya, artikel dari RRI Pro 2 tentang wawancara ini bisa dilihat di tautan ini.
Oi...Selamat Tahun Baru 2015 dulu lah ya...! Maaf baru sempat nulis lagi nih...
Artikel kali ini berisi tentang salah satu usaha dalam rangka mengenalkan alat musik Harmonika kepada orang banyak. Usaha kali ini dilakukan oleh masbro Segara "Ega", putra dari penyanyi kenamaan, mas Ebiet G.Ade.
Rupanya masbro Ega yang adalah seorang penyanyi ini juga memainkan harmonika dalam salah satu (atau beberapa?) lagunya...Dalam video singkat di bawah ini, mas Ega dengan cukup jelas menjelaskan tentang harmonika kromatik. Wah, koleksinya lumayan, ada Hohner CX12 dan Suzuki CX-48 kalau tidak salah.
Well, senang bila melihat ada orang yang juga mengenalkan instrumen unik ini kepada khalayak umum. Semoga harmonika makin dikenal oleh masyarakat Indonesia. Sekali lagi ijinkan saya menguacapkan terima kasih kepada masbro Ega yang telah membuat video berikut ini.
Dalam artikel ini saya ingin membahas mengenai harmonika diatonik merk Hohner, dari keluarga MarineBand yang sangat legendaris itu. Sebenarnya
dalam keluarga MarineBand, ada beberapa tipe yang diproduksi oleh Hohner,
antara lain MarineBand Classic, MarineBand Deluxe dan MarineBand Crossover.
Nah, kebetulan saya punya MarineBand Deluxe dan Crossover. Maka ijinkan saya
untuk memberikan pendapat saya mengenai ke dua tipe MarineBand tersebut. Kali
ini yang saya bahas adalah Hohner MarineBand Crossover.
Crossover adalah favorit saya sampai sejauh ini. Pertama,
karena comb nya terbuat bukan dari kayu ataupun plastik, yang ke dua karena
suaranya bikin merinding!
Ya! Comb Crossover terbuat dari bambu! Bambu yang diberi
lapisan (laminated bamboo), lebih tepatnya. Anda dapat dengan mudah melihat pola
serat bambu pada comb nya.Lapisan ini diberikan supaya comb Crossover tidak
mudah lembab karena cairan, dalam hal ini air liur si pemain. Percaya atau
tidak, meski comb Crossover terbuat dari bambu, namun kualitas suaranya dapat
dikatakan mirip dengan harmonika yang memiliki comb dengan material kayu,
seperti MarineBand Classic contohnya. Warna suara yang dihasilkan oleh
Crossover ini sangat khas. Kalau boleh dibilang, termasuk “nakal & kotor”…hehehehe…Kata
orang Jawa, “Kemranyas”! Ditambah lagi dengan cover plate yang memiliki bukaan
belakang yang lebih “mangap”, membuat Crossover sangat enak untuk memainkan musik
Blues. Namun demikian, memainkan musik Jazz dengan menggunakan Crossover juga
tak kalah asyiknya. Rupanya Crossover dibuat untuk dapat cocok dengan musik
lain selain Blues.
Satu keunggulan Crossover dibanding MarineBand Classic
ataupun Deluxe terletak pada cover plate nya. Cover plate Crossover dipasang
dengan menggunakan baut. Artinya, kita dapat lebih leluasa membongkarpasang
cover plate harmonika ini. Tak seperti saudara-saudaranya yang menggunakan paku
untuk memasang cover platenya.
Bila Anda membeli Crossover, maka Anda akan mendapatkan
kantong khusus lengkap dengan retsleting, yang dapat dipasang pada ikat
pinggang Anda. Enaknya adalah, Anda dapat membawa si Crossover ini ke manapun
Anda pergi.
Semua hal tersebut membuat saya lebih sering membawa
Crossover ke mana-mana, karena memang saya sangat menyukai harmonika ini.
Satu-satunya yang sedikit membuat saya keberatan, seperti biasa adalah
harganya! Hahahahah……Tapi memang ada harga, ada kualitas….Sangat memuaskan sih,
jadi ya tak perlu menyesal…
Untuk lebih dapat mengetahui kualitas suara Crossover ini,
sila disimak salah satu video saya di Youtube. Dapat Anda dengar bahkan ketika
saya bermain di ruang yang sangat terbuka dan bisingpun suara Crossover masih
terdengar “galak”. Pada intinya, saya sangat merekomendasikan teman-teman untuk
membeli Crossover, dengan catatan, memang Anda harus menyiapkan dana yang tak
sedikit. Namun itu semua akan terbayar dengan kualitas yang Anda dapatkan.
Tunggu apa lagi?
Hai!
Pergantian tahun 2014 ke 2015 sebentar lagi tiba. Sebelum masa itu datang, saya kok rasanya kepengen bikin video tutorial lagi, tapi bingung mau bikin apa.
Nah, akhirnya terpikir untuk berbagi mengenai beberapa tips sederhana dalam bermain harmonika diatonik. Ada beberapa teknik, yaitu teknik "WahWah", Hand Tremolo dan Tongue Blocking.
O iya, video ini saya buat sekalian dalam rangka uji coba smartphone saya yang baru beli (ahahaah....pamer nih ceritanya...), yaitu Acer Liquid E700. Saya penasaran dengan kemampuannya merekam video. Ada kelemahan yaitu autofokus nya berubah-ubah, sehingga mengganggu tampilan bila Anda lihat di video ini. Namun soal audio justru lumayan bersih, lho....
Ah, tapi bukan itu intinya....Intinya saya ingin berbagi sesuatu kepada teman-teman Pencinta Harmonika, sebelum tutup tahun 2014 ini. Sekali lagi, semoga bermanfaat dan tetap semangat!
Mungkin ada yang bertanya, bagaimana sih bedanya permainan lick Blues dengan menggunakan posisi pertama (Straight Harp) dan posisi ke dua (Cross Harp)?
Nah, saya mencoba menjawabnya dengan memainkan satu lick Blues sederhana tetapi dengan 2 harmonika yang berbeda kunci. Dalam hal ini saya menggunakan Hohner Crossover kunci C dan Hohner MarineBand Deluxe kunci F. Dengan Crossover, saya bermain dalam posisi pertama, sedangkan dengan MB Deluxe, saya memainkan posisi ke dua/crossharp. Sehingga kesimpulannya, lick Blues yang saya mainkan nada dasarnya adalah do = C. Masih bingung? Coba baca artikel saya yang ini dan yang ini.
Saat saya bermain dalam posisi pertama, saya lebih banyak main di oktaf atas, karena di situlah saya bisa mendapatkan nada-nada kromatik dengan menggunakan teknik Bending, dalam hal ini Blow Bend. Pada oktaf tengah ini tidak dimungkinkan, kecuali Anda bisa melakukan teknik OverBending. Blow Bend lebih banyak saya lakukan pada lubang ke 9 & 10 tiup.
Sedangkan dengan MB Deluxe kunci F, saya lebih leluasa memainkan lick Blues karena memang posisi ke dua/crossharp adalah memang posisi yang paling pas untuk memainkan lick Blues, berkat adanya sensasi Bluesy akibat dari penerapan teknik Bending, dalam hal ini Draw Bend. Nuansa Blues lebih kental bila dibanding dengan saat saya menggunakan posisi pertama.
O iya, ada satu lagi bedanya. Untuk kord, saat saya memainkan posisi ke dua/crossharp, saya hanya bisa secara jelas membunyikan kord I dan IV, dalam hal ini kord C (lubang 1, 2, 3 sedot) dan kord F (lubang 1, 2, 3 tiup). Beda dengan posisi pertama, kord yang bisa saya dapatkan secara gamblang adalah kord I (kord C, lubang 4, 5, 6 tiup) dan kord V (kord G, lubang 3, 4, 5 sedot).
Jadi kesimpulannya, bahkan dengan menggunakan posisi pertama pun kita masih bisa memainkan lick Blues, meski mungkin tak semenawan posisi ke dua. Posisi Crossharp memang adalah posisi yang paling cocok untuk memainkan lick-lick Blues.
Untuk lebih jelasnya, silakan simak video berikut ini.