Slogan "Jagalah Kebersihan" ternyata nggak cuma berlaku untuk lingkungan hidup.
Harmonikapun harus tetap dijaga kebersihannya. Kita tahu bahwa harmonika adalah alat musik yang dimainkan dengan menggunakan mulut. Artinya, mulut kita bersinggungan langsung dengan alat musik ini. Beda tentunya dengan gitar atau piano yang menggunakan tangan. Kalau harmonika kita tidak dijaga kebersihannya, lantas bagaimana nasib mulut kita ya?
Aduh, amit-amit deh, mendingan dijaga kebersihannya....
Daripada mulut kita kenapa-kenapa,.. Ya nggak?
Nah, video ini saya buat untuk mengingatkan teman-teman supaya rajin menjaga kebersihan harmonika masing-masing. Sepele sih, tapi jangan salah, justru hal yang sederhana ini kalau terlalu sering dilewatkan, kita sendiri yang akan rugi.
Oi...Selamat Tahun Baru 2015 dulu lah ya...! Maaf baru sempat nulis lagi nih...
Artikel kali ini berisi tentang salah satu usaha dalam rangka mengenalkan alat musik Harmonika kepada orang banyak. Usaha kali ini dilakukan oleh masbro Segara "Ega", putra dari penyanyi kenamaan, mas Ebiet G.Ade.
Rupanya masbro Ega yang adalah seorang penyanyi ini juga memainkan harmonika dalam salah satu (atau beberapa?) lagunya...Dalam video singkat di bawah ini, mas Ega dengan cukup jelas menjelaskan tentang harmonika kromatik. Wah, koleksinya lumayan, ada Hohner CX12 dan Suzuki CX-48 kalau tidak salah.
Well, senang bila melihat ada orang yang juga mengenalkan instrumen unik ini kepada khalayak umum. Semoga harmonika makin dikenal oleh masyarakat Indonesia. Sekali lagi ijinkan saya menguacapkan terima kasih kepada masbro Ega yang telah membuat video berikut ini.
Ya! Setelah lama tak berjumpa Rega dan Reyharp, ternyata mereka kembali bikin ulah...hahahhaa....
Maksudnya, ada lagi kejutan dari dua anak muda yang luar biasa ini.
Pertama, Rega Dauna. Bocah ajaib ini mencuri perhatian publik karena menjadi peserta kontes Indonesia Mencari Bakat (IMB) dan tampil sebagai pemain harmonika kromatik satu-satunya dan pertama kalinya!!!
Luar biasa, Rega tampil semakin dewasa, meski gayanya tak berubah. Apalagi kalau bicara soal per-jomblo-an itu, hahahahhahahha........
Meski sudah sering berkolaborasi dengan banyak musisi Indonesia, Rega masihlah seorang muda yang rendah hati. Dan teknik permainannyapun makin matang. Berikut ini cuplikan videonya ketika tampil di IMB.
Kedua, Reyharp. Bocah ajaib satu lagi ini juga diam-diam mulai menyentak dunia. Setelah tahun lalu sempat memenangi kontes Asia Pacific Harmonika Festival, kali ini Rey, begitu panggilan akrabnya, menyasar Australia. Bahkan salah satu media Australia memuat artikel tentangnya di sini .
Wew......sebagai seorang pencinta harmonika, saya sangat bangga dengan apa yang mereka berdua lakukan. Dan sepertinya mereka telah berbagi tugas dengan baik. Rega bertugas meracuni masyarakat Indonesia dengan harmonika kromatiknya, sedangkan Reyharp menjadi duta besar harmonika Indonesia ke luar negeri. Wah, salut buat mereka!!!
Harapan saya, mereka dapat menjalani proses bermusik dengan baik dan tetap rendah hati. Semangat buat Rega dan Reyharp! I'm very proud of you guys!
Berikut ini juga saya tampilkan secuplik rekaman ketika saya "nongkrong" bareng bersama dua sobat asyik ini, dan meminta mereka membawakan sebuah lagu. Rega, ternyata punya bakat musik yang yahud : memainkan piano dengan sangat baik! Sedangkan Reyharp, teknik "speed playing" nya jangan ditanya lagi...hehehehehe.......
Siapa bilang Indonesia tak memiliki pemain harmonika yang mumpuni? Kalau tak banyak orang yang tahu, itu mungkin karena kurangnya publikasi. Tapi sebenarnya para pemain harmonika di Indonesiapun sudah terdengar gaungnya sampai ke luar negeri. Tak hanya pemain-pemain senior, seperti wak Hari Pochang, om Krisnablues, mas Oyo, om Benny Likumahuwa, om Iman Budi Santoso, dan yang lainnya. Tapi juga anak-anak muda yang mulai menampakkan tajinya dalam hal bermain harmonika.
Belakangan ada dua orang anak muda, sangat muda malahan, yang bintangnya mulai bersinar. Kebetulan mereka berdua adalah sahabat karib, dan sama-sama bergabung di grup FB Pencinta Harmonika. Mereka berdua punya kesamaan : belajar harmonika dari usia yang sangat muda, dan besar dalam keluarga pemusik. Uniknya meski sama-sama memilih harmonika sebagai instrumen utama mereka, masing-masing memutuskan untuk berbeda. Yang satu memainkan harmonika diatonik, sedangkan yang lain memilih untuk memainkan harmonika kromatik.
Mari kita berkenalan dengan dua orang anak muda yang luar biasa ini.
Reyharp
Reyharp besar di keluarga yang tak bisa jauh dari musik. Pamannya, adalah seorang pemain harmonik Blues terkenal dari Bandung, yaitu wak Hari Pochang. Tak heran bila Reyharp terkena "racun" diatonik dari pamannya itu. Reyharp rupanya sangat menyerap "racun" itu sehingga membuat dirinya mahir bermain harmonika diatonik...hahahaha....Kepiawaiannya memainkan harmonika diatonik membawanya melesat ke level internasional. Pada tahun 2012, hasilnya mulai nampak nyata. Reyharp mengikuti kejuaraan Asia Pacific Harmonica Festival di Kuala Lumpur, Malaysia, dan berhasil menyabet juara 1! Tambahan lagi, karena Reyharp lebih sering menggunakan harmonika diatonik merk Hohner, maka Hohnerpun menjadikannya salah satu endorsee bagi produk-produk mereka. Luar biasa bukan? Namanyapun masuk dalam daftar pemain harmonika kelas dunia, dan dapat dilihat di sini.
Reyharp terkenal dengan permainannya yang cepat dan ditaburi dengan teknik overblow dan overdraw yang sangat "ngeri". Buat dia, tak masalah bila harus memainkan beberapa lagu dengan nada dasar yang berbeda, dengan hanya 1 harmoika diatonik. Bayangkan, di usia muda, Reyharp sudah menguasai teknik overbend dengan sangat luwes. Berikut salah satu video yang menampilkan permainan maut Reyharp :
Rega Dauna
Rega Dauna juga lahir dan besar di keluarga yang "full music". Ayahnya, Glen Dauna, adalah seorang musisi jazz kenamaan negeri ini. Kakaknya juga adalah seorang pemain terompet berpengalaman. Sedangkan Rega memilih untuk memainkan harmonika kromatik. Anak muda yang energik dan ramah ini makin lama makin menunjukkan kematangannya dalam memainkan harmonika kromatik. Sejauh yang saya tahu, merk Suzuki adalah merk favoritnya, sehingga kadang terjadi sebuah adegan "cela-celaan" bila Rega dan Reyharp bertemu. Yang satu adalah endorsee Hohner, yang lain adalah pengikut setia Suzuki. Hahahahah....
O ya, pada Asia Pacific Harmonica Festival tahun 2012 yang lalu, Rega juga ikut di kategori harmonika kromatik, namun sayang belum berhasil mendapatkan juara. Meskipun menurut saya, bisa ikut di festival tersebut adalah hal yang luar biasa :)
Bersama dengan ayahnya, Rega kerap tampil memberikan sentuhan-sentuhan melodi dengan harmonika kromatiknya. Rega juga kerap terlibat dalam kolaborasi dengan banyak musisi. Salah satunya nampak pada video berikut, yang menampilkan salah satu lagu dalam album "Di Atas Rata-rata", produksi Erwin Gutawa dan Gita Gutawa.
Rega sering tampil di Java Jazz Festival, dan juga tampil rutin di beberapa tempat di Jakarta, seperti kafe ataupun mal. Kalau tidak salah, Rega punya jadwal tetap tampil di mal Pondok Indah 1, setiap akhir pekan. Bagi Anda yang tinggal di Jakarta, sekali-sekali saksikanlah penampilan Rega di mal tersebut, dan bila Anda sedang beruntung, Anda bisa menyaksikan 2 sahabat, Rega & Reyharp, tampil bersama.
Saya beruntung dapat berteman dengan 2 orang sahabat muda ini. Selain karena mereka tak segan membagi ilmu, tingkah lakunya yang polos dan kocak, khas anak muda, sungguh membuat saya betah ngobrol
bersama mereka. Saya berharap Rega dan Reyharp dapat menunjukkan kepada dunia, bahwa Indonesiapun memiliki anak-anak muda berbakat musik, khususnya harmonika, yang layak diperhitungkan. Semoga duet maut R2 (begitulah panggilan akrab buat mereka di grup Pencinta Harmonika) makin "maut" lagi di masa depan....hehehehe...
Go forward, the Harmonica-Rising Stars of Indonesia!
Bagi para pemain harmonika, siapa yang tak kenal dengan nama
Hohner? Yap! Hohner adalah produsen harmonika kelas dunia dari Jerman, dengan kualitas produknya yang tak diragukan lagi.
Telah banyak pula pemain harmonika, baik diatonik maupun kromatik yang menjadi endorsee Hohner.
Salah satunya adalah Jens Bunge. Pemain harmonika kromatik top asal Jerman ini juga adalah salah satu endorsee Hohner. Bulan Juli ini, di tengah-tengah jadwalnya yang padat, Jens menyempatkan diri untuk mampir ke Indonesia, atas undangan salah seorang teman di grup Pencinta Harmonika.
Kunjungan ini adalah kunjungan pertama Jens ke Indonesia, namun sayangnya hanya berlangsung selama 3 hari, karena Jens juga harus segera bertolak ke Korea untuk menjadi juri salah satu festival harmonika di sana.
Di Jakarta, Jens Bunge diundang untuk tampil bersama beberapa pemusik Jazz terkenal Indonesia, antara lain : Glen Dauna, Oele Pattiselano, Jeffrey Tahalele, Cendi Luntungan dan Indra Dauna. Tak ketinggalan pula dua bintang baru harmonika Indonesia, yaitu Rega Dauna dan Reyharp. Saya beruntung dapat menonton penampilan mereka, yang diadakan di salah satu kafe di bilangan Kelapa Gading, Jakarta Utara.
Keesokan harinya, setelah tampil, saya diminta tolong untuk menemani Jens melihat-lihat Jakarta (lebih tepatnya, dikerjain sama teman-teman Pencinta Harmonika, karena saya ini bukan tour guide dan bahasa Inggris saya amburadul!).
(ki-ka) : Reyharp, saya & Rega
Sayang, karena pada hari itu macetnya parah, kami hanya sempat mengunjungi Monumen Nasional. Tapi Jens terlihat antusias melihat satu per satu diorama yang terdapat pada museum Monas di lantai dasar. Selepas dari Monas, kami pun mengajak Jens untuk menikmati makan siang. Menu yang dipilih oleh Jens adalah Sate dan Gado-gado! Diapun terlihat lahap menyantap makanannya. Yang lebih mengherankan, ternyata Jens dapat mengucapkan beberapa kata dalam bahasa Indonesia! Sering tampil di Asia, khususnya Singapura dan Malaysia, rupanya membuat Jens cukup fasih menyebutkan beberapa kata dalam bahasa Melayu, yang memang tak jauh beda dengan bahasa Indonesia. "Terima kasih", begitu kata dia....Bahkan saat di Monas, Jens hendak ke toilet dan dia bertanya pada saya : "Di mana tandas (WC)?" Hahaha.....!
Jens Leaning on Monas...LoL
Sebagai seorang pemain harmonika kromatik kelas dunia, Jens Bunge sangatlah rendah hati dan sederhana. Tapi begitu melihat permainannya, sekejap dapat Anda lihat bahwa tingkat permainannya sangatlah luar biasa. Jens bercerita bahwa dulu dia terinspirasi oleh Stevie Wonder. Dia juga belajar kepada Toots Thielemans yang tersohor itu.
Dalam kesempatan kali
ini, Jens juga memberikan apresiasi dan dorongan kepada para pemain harmonika
di Indonesia, untuk lebih dapat sering bertemu, membuat forum, workshop, bahkan
juga mengadakan festival harmonika. Sungguh suatu hal yang patut diwujudkan!
Berikut cuplikan
penampilan Jens, dan juga sedikit dokumentasi saat dia berkunjung di Jakarta.
Ya, sungguh menyenangkan dapat bertemu Jens Bunge, walaupun cuma sebentar. Semoga tahun depan kami bisa bertemu kembali. Terima kasih kepada Jens Bunge yang telah menyempatkan waktu untuk mampir ke Indonesia!
Pada tulisan saya sebelumnya, pernah diulas mengenai
komponen penyusun harmonika jenis diatonik. Kali ini saya ingin mengulas
tentang komponen penyusun harmonika jenis kromatik. Kebetulan saya memiliki
sebuah harmonika kromatik yang saya beli dari seorang teman di grup Pencinta
Harmonika.
Harmonika kromatik milik saya bermerk Hohner, tipe Chrometta10. Angka 10 menunjukkan jumlah lubang yang ada pada harmonika itu. Tak seperti
harmonika jenis diatonik, jenis kromatik dapat menghasilkan semua nada,
termasuk nada-nada kromatis (*mudahnya adalah seperti ini : nada kromatis adalah nada-nada yang dihasilkan ketika Anda menekan tuts berwarna hitam pada sebuah piano. Sedangkan nada diatonik adalah nada yang dihasilkan saat Anda menekan tuts warna putih).
Oleh karena itu, strukturnya pun lebih rumit. Namun kali
ini saya hanya ingin membahas secara garis besarnya saja. Detail dan karakter Hohner
Chrometta 10 akan saya bahas pada tulisan yang lain. Mari kita bedah satu per
satu.
>> Cover Plate
Pelat penutup ini memiliki bentuk dasar dan fungsi yang sama
dengan yang dimiliki oleh harmonika jenis lainnya.
>> Comb
Seperti yang pernah saya ulas pada tulisan saya sebelumnya,
harmonika kromatik juga memiliki comb yang tak jauh berbeda dengan yang
dimiliki oleh harmonika jenis diatonik.
>> Mouthpiece
Bagian ini adalah bagian harmonika yang bersinggungan
langsung dengan mulut sang pemain. Pada beberapa jenis harmonika, komponen ini
tak menjadi satu bagian dengan comb, namun pada harmonika milik saya, komponen
mouthpiece dibuat menyatu dengan comb. Bentuk dan kontur mouthpiece akan sangat
menentukan kenyamanan pemain dalam memainkan nada. Tentu saja! Karena bila permukaan mouthpiece tak rapi, maka pemain
akan merasa kesulitan untuk berpindah dari satu lubang ke lubang yang lain.
>> Reed Plates dan Reed
Bagian yang paling penting dari sebuah harmonika adalah reed
plate dan reed. Namun berbeda dengan harmonika jenis diatonik, harmonika
kromatik memiliki lebih banyak reed, karena dituntut untuk dapat menghasilkan
nada diatonik dan kromatik sekaligus. Pada harmonika kromatik milik saya, setiap
lembar reed plate, memiliki 20 reed, sehingga total reed yang ada pada
harmonika ini berjumlah 40 reed (20 reed pada reed plate atas, dan 20 reed pada
reed plate bawah). Jumlah ini tergantung pada tipe harmonika kromatik. Bila
sebuah harmonika kromatik memiliki 12 lubang atau 14 lubang, tentunya reed yang
dimiliki lebih banyak pula.
>> Wind saver
Bila Anda melihat pada gambar, di setiap reed plate terdapat
lembaran-lembaran putih atau coklat yang seukuran dengan reed. Bagian itulah yang disebut
sebagai wind saver. Bagian ini berfungsi sebagai katup yang mengurangi
kebocoran udara, karena sebagaimana kita lihat, dengan jumlah reed yang lebih
banyak, maka jumlah rongga (reed slot) yang terdapat pada reed plate tentunya juga lebih
banyak. Itu berarti kemungkinan terjadinya kebocoran udara sangat besar. Nah,
karena pada harmonika kromatik, 1 lubang dapat berisi 4 reed (reed nada-nada diatonis dan kromatis), maka dengan adanya wind saver tersebut maka
2 reed yang berhimpitan tidak berbunyi semuanya secara bersamaan (hanya salah
satu yang berbunyi). Bila tak ada wind saver, udara dapat menerobos melalui
celah-celah reed slot, yang akibatnya dapat menggetarkan reed yang tidak kita kehendaki untuk bergetar.
>>Slider
Komponen ini berupa batang yang dipasang sejajar dengan mouthpiece, dan juga memiliki lubang-lubang yang diatur sesuai lubang-lubang pada mouthpiece harmonika. Batang ini bertugas untuk mengarahkan aliran udara menuju ke reed tertentu yang ada dalam sebuah harmonika kromatik.Cara kerjanya cukup ditekan saja. Dalam posisi normal atau tanpa ditekan, slider akan mengarahkan aliran udara menuju ke reed-reed yang menghasilkan nada-nada diatonik. Bila ditekan, maka udara akan dialirkan melalui reed-reed yang menghasilkan nada-nada kromatis.
Kerja slider dibantu oleh sebuah pegas yang akan mengembalikannya ke posisi semula bila tak ditekan. Pegas tersebut terpasang di dalam comb, seperti yang bisa Anda lihat pada gambar.
Secara garis besar, demikianlah penjelasan tentang komponen penyusun sebuah harmonika kromatik. Semoga bermanfaat bagi Anda yang penasaran dengan harmonika kromatik.
Salam sedot sebul!
Harmonika, adalah termasuk alat musik tiup. Tetapi, menurut saya, yang lebih tepat adalah seperti ini : Harmonika adalah termasuk alat musik tiup DAN sedot!
Mengapa? Ya...karena untuk memainkannya, kita harus meniup DAN menghisap udara melalui lubang-lubangnya.
Eh..tapi maaf, saya lebih suka menggunakan istilah "Sedot" daripada "Hisap". Entah kenapa, buat saya itu lebih pas saja...heheheh....
Melalui blog ini saya ingin berbagi sebanyak mungkin informasi mengenai harmonika, khususnya dari jenis Diatonik dan Kromatik. Namun tak menutup kemungkinan juga untuk membahas harmonika jenis yang lain.
Nah...untuk itu mari kita simak dulu beberapa jenis harmonika yang ada :
>> Harmonika Diatonik
Harmonika jenis ini mempunyai 10 lubang dan di dalamnya terdiri atas susunan 20 pelat getar (reed). Apabila Anda mencobanya, Anda akan segera menyadari bahwa ada beberapa nada yang "hilang", terutama untuk susunan tangga nada mayor. Namun justru inilah yang menjadi daya tarik harmonika jenis diatonik. Untuk mendapatkan nada-nada yang hilang, Anda harus melakukan teknik bending, supaya nada-nada tersebut dapat diperoleh. Teknik bending inilah yang menghasilkan suara yang khas dan sangat memukau. Harmonika jenis ini kerap disebut : Blues harp atau Standard 10-hole. Kebanyakan harmonika jenis ini digunakan untuk memainkan lagu bernuansa Blues. Tapi dengan teknik yang mumpuni, Anda dapat memainkan lebih banyak jenis musik.
>> Harmonika Kromatik
Harmonika jenis ini adalah harmonika yang memungkinkan Anda untuk memainkan seluruh nada diatonik DAN juga kromatik. Hal ini dimungkinkan karena adanya tambahan pelat getar untuk nada-nada kromatik. Bedanya dengan jenis diatonik, harmonika ini mempunyai sebuah tombol (slider) di salah satu ujungnya. Jumlah lubangnya juga bervariasi, sebagai contoh ada yang memiliki 8, 10, 12 atau 14 lubang. Ketika tombol ini tidak ditekan, Anda dapat memainkan harmonika layaknya sebuah harmonika diatonik biasa, tetapi dengan semua nada mayor yang lengkap dan sudah tersedia. Nah! Ketika tombol ditekan, maka Anda akan dapat memainkan nada-nada kromatis. Bingung? Mudahnya adalah seperti ini : dengan adanya tombol pada harmonika jenis kromatik, maka Anda akan dapat memainkan nada-nada kromatis, seperti nada-nada yang sama ketika Anda menekan tuts berwarna hitam pada piano. Kabar baiknya adalah, untuk mendapatkan nada kromatik, Anda tak harus menguasai teknik bending. Harmonika jenis ini banyak digunakan untuk memainkan lagu-lagu Jazz ataupun Klasik, yang memang bertaburan nada-nada kromatik :)
>> Harmonika Tremolo
Sesuai dengan namanya, harmonika jenis ini menghasilkan suara dengan efek Tremolo. Bentuk fisiknya tak jauh beda dengan harmonika diatonik, tetapi memiliki lubang berganda. Setiap lubang memiliki dua pelat getar dengan nada yang sama, tetapi dengan frekuensi yang sedikit berbeda. Frekuensi yang berbeda dari pelat getar inilah yang akan menghasilkan efek Tremolo. Mirip dengan efek yang dihasilkan oleh gitar 12-string. Pada harmonika jenis ini, Anda tak dapat menerapkan teknik bending, seperti pada jenis diatonik. Harmonika ini biasanya hanya digunakan untuk memainkan melodi sederhana.
>> Harmonika Octave
Harmonika jenis ini pada prinsipnya sama dengan harmonika jenis tremolo, yaitu sama-sama memiliki lubang berganda, yang masing-masing mempunyai 2 pelat getar. Bedanya adalah, nada yang dihasilkan sama, tetapi memiliki perbedaan frekuensi sebesar 1 oktaf, sehingga bila dibunyikan, akan menghasilkan efek 2 nada yang sama tetapi berselisih 1 oktaf. Efek ini akan memberikan kesan kuat dan penuh.
>> Jenis lain
Selain jenis-jenis seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, ada juga jenis harmonika yang lain. Misalnya Bass Harmonica. Biasanya digunakan sebagai penghasil suara rendah ala Bas, pada sebuah orkestra harmonika. Ada juga Chord Harmonica, yang berperan untuk membunyikan nada-nada yang terangkai dalam sebuah kord .
Itulah sedikit gambaran mengenai beberapa jenis harmonika. Saya tak menyarankan siapapun untuk lebih memilih salah satu jenis. Silakan pilih yang menurut Anda paling sesuai dengan selera dan gaya bermusik Anda. Selamat mencoba!