Thursday, July 3, 2014

Tips Membersihkan Harmonika Diatonik

Sebagai alat musik yang dimainkan dengan menggunakan mulut, tak pelak lagi harmonika harus dijaga kebersihannya, sebab mulut pemainnya langsung bersinggungan dengan instrumen ini. Kali ini saya ingin berbagi tips mengenai cara membersihkan harmonika diatonik. Bukan untuk menjadi yang paling tahu, tetapi hanya sekedar membagi pengalaman saya saja.
Pada harmonika diatonik, hal yang kerap kali ditemui adalah adanya sisa air liur (saliva), baik di permukaan luar maupun di bagian dalamnya. Kotoran ini bila dibiarkan terlalu lama, selain dapat menimbulkan rasa tak nyaman bagi yang melihatnya, juga dapat menjadi gangguan saat kita memainkan harmonika diatonik kita. Bahkan dapat membuat reed dalam harmonika kita menjadi tak berbunyi sama sekali. O ya, harmonika diatonik yang saya maksud di sini adalah harmonika yang cover plate nya dikunci dengan menggunakan baut dan bukan paku, serta yang comb nya terbuat dari plastik dan bukan kayu. Sebab harmonika yang comb nya terbuat dari kayu serta cover plate nya dikunci dengan menggunakan paku, membutuhkan perlakuan yang berbeda dan lebih rumit.

Sebelum kita mulai membersihkan, ada baiknya kita siapkan beberapa peralatan yang diperlukan, antara lain : obeng plus, tang (bila perlu), kain lap lembut, tusuk gigi dan alkohol dengan kandungan 70%. Saya tak menganjurkan tisu sebagai alat pengelap, karena dapat menggerus permukaan cover plate. Selama ini saya menggunakan kain lap yang saya dapat ketika membeli harmonika diatonik merk ANGEL. Jadi, meski termasuk harmonika diatonik yang sering dihindari, paling tidak ANGEL masih memberi manfaat buat saya…hehehehe…..O iya, kain lap kacamata atau monitor/TV juga bisa digunakan!

Untuk membersihkan permukaan cover plate secara mudah, cukup basahi kain lap dan seka seluruh permukaan sampai bekas bibir dan air liur yang menempel hilang. Tapi silakan cermati bahwa di sela-sela antara cover plate dan reed plate biasanya ada endapan air liur yang mengering.

Lap saja tak cukup bisa menghilangkannya. Untuk membersihkannya, mau tak mau kita harus membuka ke dua cover plate. Kemudian silakan seka ke dua cover plate, baik di bagian luar maupun dalamnya. Saya perlu ingatkan bahwa Anda harus ekstra hati-hati saat menyeka bagian tepi cover plate, karena bagian ini hampir setajam pisau! Jari saya sudah dua kali menjadi korban keganasan tajamnya tepian cover plate. Saya tak sadar ketika menyekanya dengan lap, tiba-tiba jari  terasa perih dan ternyata sudah berdarah-darah. 
Lap yang saya gunakan rupanya sobek dan jari sayalah yang menjadi sasaran!

Selanjutnya perhatikan bagian reed plate. Saliva yang tertinggal akan dapat kita temui di bagian depan (bagian di atas bawah lubang). Bila hanya ada sedikit, cukup gunakan tusuk gigi atau batang lidi kecil untuk mencungkilnya secara lembut. 





Jangan gunakan batang berbahan besi karena dapat merusak comb atau reed plate
O ya, hati-hati saat akan membersihkan reed dalam keadaan reed plate masih terpasang. Jangan 
menggunakan obeng, atau batang keras lainnya, karena dapat merubah jarak antara reed dan reed plate (reed gap).


Nah, bila Anda berniat membersihkan keseluruhan bagian harmonika diatonik Anda, bersiaplah untuk melepas ke dua reed plate- nya. Ingat, hati-hati dengan baut pemegang reed plate maupun cover plate, jangan sampai hilang, atau Anda akan menyesal! Ingatlah pula posisi reed plate atas (BLOW) dan bawah (DRAW) supaya nanti jangan tertukar saat Anda memasangnya kembali. Mungkin hal ini sepele, tapi kalau salah bisa repot kita…heheeheh…

Nah, bila ke dua reed plate sudah Anda lepas, silakan cermati permukaannya. Bila ada sisa saliva yang tertinggal, silakan gunakan lap lembut yang sudah dibasahi dengan menggunakan alkohol 70%, dan seka secara hati-hati tepian reed plate yang menghadap ke arah depan (arah yang menghadap mulut Anda ketika Anda memainkan harmonika). 




Saat menyeka permukaan reed plate, hati-hati jangan sampai kain lap Anda tersangkut reed yang “nongol”, sebab hal itu dapat membuat reed bengkok atau malah fatalnya, patah! Anda tak ingin itu terjadi bukan?





Lanjutkan dengan membersihkan comb yang sudah dalam keadaan terbuka. Perhatikan bagian lubang-lubangnya, karena disitulah biasanya endapan saliva tertinggal. Cukup cungkil dengan menggunakan tusuk gigi atau batang lidi kecil. Biasanya sisa saliva akan berwujud seperti lembaran sangat tipis yang berwarna putih dan menempel pada siku-siku tiap lubang comb. Sekalian juga bersihkan setiap bagian dalam lubang dengan menggunakan lap yang telah dibasahi alkohol.


Nah, sangat mudah bukan? Setelah Anda selesai membersihkan seluruh bagian harmonika diatonik Anda, silakan pasang kembali semuanya seperti sedia kala. O ya, biasakan setiap Anda selesai memainkan harmonika, ketuk-ketukkanlah harmonika pada telapak tangan Anda untuk mengeluarkan sisa air liur dan kotoran lain, sebelum terlanjur mengendap di dalam. Ini tentunya akan sangat membantu sehingga kita tak perlu terlalu sering membongkar harmonika kita.
Kira-kira itu tips singkat dari saya, semoga dapat membantu Anda semua. Jadi, jangan ragu dan takut untuk membersihkan harmonika diatonik milik Anda, supaya dapat selalu terjaga kebersihannya.

Selamat mencoba dan Salam Sedot Sebul!

Tuesday, June 3, 2014

Suzuki Airwave

Berdasarkan pengamatan saya,  teman-teman yang akhirnya tertarik untuk memainkan harmonika, biasanya memiliki pengalaman berkenalan dengan instrumen ini saat mereka masih kanak-kanak. Pada masa-masa itulah, harmonika (kebanyakan) dianggap hanya sebagai sebuah mainan. Dan faktanya, sebagian besar dari mereka bertemu dengan harmonika tipe Tremolo.

Nah, Suzuki ternyata memiliki satu produk harmonika yang dibuat khusus untuk anak-anak. Jenisnya pun bukan Tremolo, tapi Diatonik! Namanya adalah Suzuki Airwave. Produk ini memang dibuat sebagai sarana bagi anak-anak yang ingin belajar cara memainkan harmonika diatonik sejak awal.

Sekitar 2 atau 3 tahun yang lalu saya sempat membelinya untuk anak saya yang masih berusia 4 tahun. Alasan saya sederhana, setiap kali saya memainkan harmonika, anak saya selalu berusaha meminta harmonika yang sedang saya gunakan, untuk dia mainkan sendiri. Rupanya dia juga sudah mulai tertular virus harmonika dari bapaknya :p . Tapi rupanya rencana saya tak berjalan mulus, karena setelah saya membelikan harmonika tersebut, dia tetap saja berusaha merebut harmonika yang saya mainkan (- -“)

Penasaran dengan Airwave ini, saya mencoba untuk memainkannya. Dengan bodi yang hampir seluruhnya bernuansa plastik, saya kira harmonika ini tak lebih dari sebuah mainan. Di-bend pun saya pikir tak bisa. Eh, tapi saya terkejut ketika saya mencobanya sendiri. Ternyata harmonika ini bisa di-bend persis seperti sebuah harmonika diatonik biasa! Yah, pada prinsipnya, harmonika dengan 10 lubang ini memang adalah sebuah harmonika jenis Diatonik.  Bedanya, jarak antar lubang sangatlah jauh bila dibanding dengan harmonika diatonik biasa. Sepertinya ini sengaja dibuat karena anak-anak pastilah sangat susah untuk mendapatkan single note dengan posisi lubang yang sangat berdekatan, seperti pada harmonika diatonik biasa. Kalau boleh dikatakan, lubang-lubang milik Suzuki Airwave sangatlah mirip dengan harmonika kromatik keluaran Suzuki. Bulat dan agak berjauhan. Jadi, kesan pertama yang saya dapat ketika memainkan harmonika ini adalah seperti memainkan harmonika kromatik, tetapi dengan isi harmonika diatonik. Bedanya, Airwave memiliki bodi yang lumayan pipih.

Suzuki Airwave dilengkapi dengan buku petunjuk yang terdapat pada kemasannya. Buku yang dibuat oleh Ronnie Shellist, salah satu endorsee Suzuki yang terkenal itu, berisi penjelasan tentang teknik-teknik sederhana memainkan harmonika diatonik bagi anak-anak, dan juga ada beberapa tab lagu sederhana.

Yah, karakter suaranya sih memang jauh bila dibanding dengan harmonika diatonik biasa, tapi sebagai sarana pengenalan untuk anak-anak, saya rasa Suzuki Airwave sudah cukup bagus. Ketika saya beli, harganya masih sekitar Rp. 95.000,-.  Airwave tidak dilengkapi dengan baut cover plate, jadi memang sepertinya tak dirancang untuk sering dibongkar pasang. Secara ergonomi, bagian comb-nya dibuat untuk nyaman di bibir anak-anak. Tetapi untuk media belajar bagi orang dewasa , saya tak menganjurkannya. Lebih baik sekalian beli harmonika diatonik yang “sungguhan”. Sekali lagi, Suzuki Airwave memang dirancang sebagai harmonika diatonik untuk anak-anak. Jadi, bila anak Anda sudah mulai nampak tertarik dengan yang namanya harmonika Diatonik, tak ada salahnya membeli Suzuki Airwave untuk mereka.

Monday, April 28, 2014

ASTAGA!

Astaga!

Saya tak pernah menyangka akhirnya bisa bertemu dengan salah satu teman di Pencinta Harmonika, yang kerap kali membawakan lagu-lagu dengan harmonikanya. Salah satu  yang pernah dia bawakan secara luar biasa adalah lagu dari Ruth Sahanya, yang berjudul "Astaga".

Ya! Sobat itu adalah mas Robertus Budi, sang jagoan Folkmaster dari Semarang. Secara kebetulan, pada bulan Februari 2014 yang lalu,  saya memiliki kesempatan untuk berkunjung ke Semarang (lebih tepatnya sih, mampir...) dan segera saya membuat janji dengan beliau. Ternyata beliau menyanggupinya dan kami sepakat bertemu di hotel tempat saya menginap. Tadinya saya berharap akan ada beberapa teman dari Pencinta Harmonika wilayah Semarang yang akan ikut bergabung bersama kami, namun ternyata hanya mas Robert yang datang.

Waktu pertemuan memang sudah cukup malam, dan kamipun sempat kebingungan mencari lokasi yang pas untuk nongkrong, sekaligus tentu saja nge-jam bersama. Secara tak sengaja kami melihat di seberang hotel ada tukang jualan soto gerobak dan dia menyediakan tikar-tikar yang digelar di sepanjang trotoar. Akhirnya kami memutuskan untuk nongkrong di situ saja.

Obrolan demi obrolan dan diskusi serius tapi santai berjalan dengan seru. Sampai pada akhirnya kami sudah tak tahan untuk nge-jam. Kebetulan saya juga membawa gitar (niat banget! hahahaha...) dan kamera DSLR. Nah, akhirnya kita putuskan untuk membawakan salah satu lagu yang pernah mas Robert bawakan di Youtube, yaitu lagu "Astaga". Mas Robert sempat agak ragu karena dia mengaku sudah vakum memainkan harmonika selama 2 tahun. Percobaan demi percobaan dilakukan sampai beliau merasa siap betul. Hahaha....mirip seperti audisi saja! Nah, akhirnya kami berhasil membawakan lagu ini, dan berikut adalah rekamannya :


Dalam diskusi kami juga tersirat kerinduan mas Robert untuk bisa berkumpul dengan sesama pencinta harmonika di kota Semarang dan sekitarnya. Beberapa tahun sebelumnya sempat ada 2-3 orang yang berkumpul, kalau tak salah ketika om Iman Budi Santosa (pembuat grup Pencinta Harmonika) datang mengunjungi kota Semarang, dan mas Robert adalah salah satu pesertanya. Namun setelah itu tak pernah lagi ada pertemuan di antara mereka. Hmmmm....semoga teman-teman Pencinta Harmonika di wilayah Semarang bisa berkumpul lagi ya....!

Pertemuan malam itu sungguh sangat menyenangkan. Sempat merasa sedikit bangga juga ketika ada beberapa orang yang bertanya-tanya kepada kami soal harmonika, dan juga menonton kami saat kami membawakan lagu "Astaga". Berasa jadi artis jalanan juga ini.....hihihihihihi....

Akhir kata, saya ingin mengucapkan terima kasih banyak buat mas Robertus yang sudah bersedia meluangkan waktu untuk bertemu saya. Sukses selalu buat mas Robert, dan semoga teman-teman pencinta harmonika di Semarang juga bisa segera bergabung dengan beliau untuk melakukan kembali "kopdar" harmonika di kota ini.  Saya tunggu juga kedatangan mas Robert ke Jakarta!

Salam Sedot Sebul!

Wednesday, April 9, 2014

3rd Position!!! (Posisi Bermain Harmonika Diatonik)

Ah, satu kelegaan lagi muncul, karena akhirnya saya bisa kembali membuat satu video tutorial mengenai salah satu posisi dalam bermain harmonika diatonik.

Kali ini saya ingin berbagi mengenai posisi ke 3 (Third Position), atau  disebut posisi "Slant Harp". Dengan posisi ini kita akan mendapatkan susunan tangga nada minor, yang juga dikenal dengan nama "Dorian mode".
Pada posisi ini, root note atau nada dasarnya bisa didapat dari lubang 1 sedot, lubang 4 sedot atau lubang 8 sedot. Apabila kita menggunakan harmonika diatonik kunci C, maka ketika kita menggunakan posisi ke tiga ini, artinya kita bermain dalam nada dasar Dm (karena tangga nadanya minor). Posisi ke tiga memang sangat tepat digunakan untuk memainkan lagu-lagu minor, bahkan "Blues" pun bisa.

Nah, tanpa banyak ucap, silakan simak video tutorial berikut ini. Mohon maaf bila ada kesalahan-kesalahan yang terjadi, dan kiranya video ini bisa membantu teman-teman sekalian yang ingin belajar mengenai posisi SlantHarp tersebut.



*O iya, sebagai contoh penggunaan posisi ke Tiga ini, silakan simak salah satu video yang sudah pernah saya buat sebelumnya :

Baiklah, selamat mencoba!

Salam Sedot Sebul!

Monday, April 7, 2014

Tab Harmonika : "Indonesia Tanah Air Beta"

Kabar gembira!

Akhirnya saya dapat memenuhi janji saya kepada beberapa teman untuk membuatkan tab harmonika salah satu lagu nasional Indonesia yang pernah saya bawakan di Youtube, yaitu : "Indonesia Tanah Air Beta".

Sebagai orang yang belajar secara otodidak dan tak terbiasa menggunakan partitur lagu atau membaca notasi angka dan balok, terus terang membuat tab harmonika bukan hal yang mudah buat saya.  Selama ini saya selalu memainkan alat musik dengan mengandalkan "feeling" saya saja.....dan cenderung "Play By Ear", yaitu mencoba mendengarkan orang lain memainkan suatu lagu, lalu baru saya berusaha menirunya.

Namun akhirnya saya seleseaikan juga tab harmonika lagu "Indonesia Tanah Air Beta" ini. Silakan disimak ya, teman-teman....apabila ada yang salah, tolong beritahu saya....maklum, saya masih awam dalam hal membuat tab harmonika. Selamat mencoba!
Salam Sedot Sebul!

Monday, March 24, 2014

Suzuki Manji

Kali ini saya ingin memberikan sedikit ulasan mengenai salah satu harmonika diatonik yang diproduksi oleh Suzuki. Harmonika ini diberi nama "Manji", sesuai dengan nama depan sang pemilik perusahaan pembuatnya, yaitu Manji Suzuki, yang telah membuat harmonika sejak 70 tahun yang lalu. Rupanya pemberian nama tersebut adalah sebagai bentuk penghargaan atas dedikasi tuan Manji Suzuki dalam membuat harmonika.

Harmonika diatonik berkode M-20 ini boleh dibilang adalah salah satu harmonika kelas wahid yang diproduksi oleh Suzuki. Dibuat dengan comb yang berbahan komposit (bukan kayu, dan bukan pula plastik), Manji memiliki bentuk cover plate yang menurut saya cantik. Disainnya yang membulat, membuat Manji sangat nyaman di bibir. Untuk urusan harga, Suzuki Manji bisa Anda dapatkan dengan harga di bawah Rp. 600.000,- (lebih murah dari Hohner Crossover yah...:p).

Karakter suara Manji bisa dikatakan mendekati suara harmonika diatonik dengan comb yang terbuat dari kayu. Untuk bermain musik Blues, Manjipun tak kalah garang. Menurut saya, Manji memiliki bobot yang lumayan berat, bila dibanding Crossover misalnya. Disain cover plate Manji memiliki dua lubang kecil di samping kanan dan kiri, yang memungkinkan sang pemain mendengar suara yang dihasilkan, jadi semacam ada "monitor" bagi sang pemain tersebut.
Namun ada seorang teman yang mengatakan bahwa cover plate Manji kurang kokoh, terutama bagian belakangnya. Kalau dilihat memang betul, sih....bagian belakang cover plate Manji sangat "mangap" namun tak ada penopang di bagian tengahnya. Volume suara yang dihasilkan memang bakalan keras, tapi menurut teman saya itu, tanpa adanya penopang di bagian belakang, cover plate Manji akan mudah "penyok".

Letak baut cover plate Manji juga agak tidak lazim. Diletakkan pada posisi yang justru maju ke depan, mendekati tepian reed plate, menurut beberapa sumber, hal ini dimaksudkan untuk menambah tingkat kekedapan udaranya (airtightness).

Secara keseluruhan, Manji memberikan pengalaman yang luar biasa bagi penggunanya. Sangat responsif, lantang, memiliki ergonomi yang pas dan harganya pun terjangkau. Di Indonesia, Suzuki Manji masih termasuk mudah untuk didapatkan di toko-toko musik terkenal seperti MG Music Store.

Jadi bagi Anda yang ingin memiliki harmonika diatonik merk Suzuki yang lebih baik dari Harpmaster atau Bluesmaster, silakan mencoba tipe Manji ini.
Dijamin tak akan menyesal! Coba saja.....


Salam Sedot Sebul!

Thursday, March 6, 2014

Musafir Harmonika (bag. II)

Setelah Purwokerto, saya masih memiliki beberapa kota untuk dikunjungi dalam rangka tugas kantor. Kota berikutnya adalah Jogja. Kota yang sudah tak asing lagi buat saya. Kebetulan pada bulan Desember 2013, saya sempat bertemu dengan beberapa teman Pencinta Harmonika. Salah satunya adalah bro Satria Rifai. Pada kesempatan kali ini saya langsung mengajak beliau untuk ketemu. Gayungpun bersambut, dia menyanggupi untuk mencarikan tempat kopdar. Pengumuman pun dia buat di grup. Pada hari yang sudah disepakati, kami akhirnya bertemu di sebuah warung (besar) angkringan prasmanan di daerah Wijilan, tak jauh dari Alun-alun.

Terjadi sebuah insiden kecil yang membuat kami agak kecewa, karena ternyata tempat yang sudah disurvey oleh Rifai, memiliki peraturan khusus soal pengunjung, yaitu pengunjung tak diijinkan memainkan alat musik. Kaget juga melihat tulisan peraturan tersebut. Namun mau dikata apa lagi?

Akhirnya sembari menunggu beberapa teman datang, kami makan dulu. Tak lama ada beberapa teman datang dan mereka juga ikut makan. Karena ada peraturan tersebut, maka kami sepakat untuk ngobrol-ngobrol saja dulu. Eh, tak dinyana, ada seorang tukang sulap yang minta ijin "mengamen"...ya sudah, daripada tak ada hiburan, maka kami menonton saja pertunjukan bapak pesulap itu. Lumayan menghibur, lah....

Namun namanya Pencinta Harmonika, kalau hanya ngobrol tanpa memainkan harmonika, pasti tak seru. Maka kami sepakat untuk pindah tempat. Ada satu tempat angkringan tak jauh dari situ, yang terletak di pelataran sebuah rumah kuno besar, dan tak ada larangan soal bermain alat musik. Akhirnya kami pindah ke tempat itu, dan nafsu sedot sebul pun bisa tersalurkan. Beberapa kali jamming singkat, dan pengunjung lain segera menoleh ke arah kami..hehehehhe...

Yang seru, 4 dari 6 peserta kopdar berasal dari satu komunitas yang sama, yaitu komunitas Free Diver. Wah, dengan semangat mereka berbagi cerita soal Free Diving ini. Saya dan Rifai hanya bisa terbengong-bengong mendengarkan cerita tentang petualangan mereka. Sungguh beruntung bisa bertemu dengan mereka, karena saya secara pribadi mendapat tambahan wawasan yang menarik.

Singkat cerita, pertemuan dengan teman-teman Pencinta Harmonika di Jogja sungguh berkesan. Arus pertukaran informasi berlangsung dengan derasnya, dan mencakup banyak hal. Saya harus mengucapkan terima kasih kepada  bro Satria Rifai atas kesediaannya mencari tempat untuk kopdar. Ijinkan pula saya mengucapkan terima kasih kepada teman-teman dari komunitas Free Diver : Afri, Barid, dan pasangan spesial : Abri & Lya.......

Semoga lain waktu kita bisa bertemu lagi dan dengan jumlah peserta yang lebih banyak!

Terima kasih dan salam sedot sebul!!!


*Special Thanks goes to bro Afri Luhur buat foto yang terakhir....:)