Setelah pernah mendapatkan kesempatan untuk menyebarkan virus harmonika lewat radio, yaitu di stasiun radio D Fm dan RRI Pro 2, teman-teman Jakarta Harpist secara tidak diduga mendapatkan undangan wawancara di sebuah acara talkshow milik salah satu stasiun televisi yang sedang naik daun.
Undangan yang mendadak itu kami dapatkan setelah kami membuat acara sederhana di Pasar Santa, 3 hari sebelumnya. Salah seorang anggota grup FB Pencinta Harmonika, yang kebetulan adalah admin akun Twitter @harmonicalovers, yaitu mas Eko, memberitahu saya kalau dia dihubungi pihak NET TV tentang undangan tersebut. Dan dalam waktu singkat akhirnya teman-teman segera bergerak untuk menyiapkan diri memenuhi undangan acara talkshow "Indonesia Morning Show" di NET TV.
Andra...
Kami banyak dibantu oleh 2 orang sobat kami, yaitu Yudha "Aduy" Perdana, dan Arief "Andra" Julyandra dari komunitas Breaktime. Aduy adalah gitaris handal dan juga seorang penulis lagu, sedangkan Andra pemain bas yang ciamik. Tanpa mereka, (kalau kata teman-teman), kami hanyalah remah-remah roti...hahahaha....Jadi, terima kasih banyak buat Aduy dan Andra yang dengan luar biasa menciptakan aransemen dan iringan lagu yang super duper asyik!
Singkat kata, akhirnya setelah sempat ragu, kami memberanikan diri untuk memenuhi undangan tersebut. Total ada 5 orang perwakilan dari Jakarta Harpist, yaitu : Bagus & Sunu (admin grup FB Pencinta Harmonika), Helmy (Jakharp), Fajri "Mehonk" Aziz (anggota Bandung Harp Project yang kini tinggal di Jakarta) dan saya sendiri.
Dan......tanpa banyak ucap, inilah rekamannya....silakan disimak!
Pengen ngeBlues pake harmonika tapi pas lagi nggak punya backing track? Kalau di dekat Anda ada electric piano atau keyboard, kenapa Anda tidak membuat sendiri sendiri backing track nya? Tinggal mainkan sesuai dengan selera Anda, mau irama shuffle atau basic blues, mau tempo cepat atau lambat, mau yang singkat atau yang panjang, terserah.....
Kadang saya juga begitu. Mau streaming Youtube, koneksi sedang lelet. Sedangkan koleksi backing track di handphone saya juga nggak banyak. Maklum, isinya sudah penuh. Kalau sudah begini, biasanya saya cari keyboard atau electric piano yang bisa buat ngerekam permainan kita. Kita tinggal mainkan sesuai dengan keinginan kita, daannnn....putar ulang sambil sedot sebul.....!
Nah, di bawah ini adalah contohnya...Eh, iya, ini sekalian sambil nyanyi sedikit ya...ngarang-ngarang aja lah...hehehehhehe....biar isinya nggak cuma permainan harmonika saja. Sila disimak....dan silakan dihujani dengan kritikan atau masukan.....
Hai hai....Kali ini saya ingin mengajak teman-teman untuk belajar teknik Chugging. Pada prinsipnya teknik Chugging itu menirukan suara lokomotif kereta api, namun bisa juga dimodifikasi menjadi beberapa pola lain.
Nah, pada video saya kali ini, variasi yang ingin saya bagikan menggunakan pola "Chak-a-Chak-a". Apa itu ya?
Ya, itulah rangkaian suku kata yang diucapkan sembari kita menyedot atau meniup harmonika kita. Lidah memainkan peran penting dalam memotong aliran udara, dengan menyebutkan rangkaian suku kata tersebut.
Berikut contoh pola variasi Chugging yang saya mainkan dalam video ini :
Penerapannya sama saja saat meniup atau menyedot, bedanya, saat menyedot, kata "Chak-a" seolah diucapkan sambil menghisap udara, sementara kata "Duuu-Duuu" kita ucapkan saat meniup. Sebaliknya, saat meniup, kata "Chak-a" kita ucapkan sembari meniup, sedangkan kata "Duuu-Duuu" kita ucapkan sambil menghisap. Ini perlu dilakukan karena sebenarnya bermain harmonika pada prinsipnya sama seperti kita bernafas. Kita tak bisa terus menerus menyedot, tanpa meniup, karena paru-paru kita akan keburu penuh dengan udara. Begitu juga saat meniup, kita tak bisa melakukannya terus menerus, karena paru-paru kita akan keburu kehabisan udara. Nah, dalam contoh pola di atas, kata "Duuu-Duuu" menjadi semacam mekanisme penyeimbang. Saat kita menyedot, "Duuu-Duuu" menjadi mekanisme pembuang udara, sedangkan saat meniup, menjadi mekanisme pengambil udara.
Oke!
Sekali-sekali nyobain belajar main gitar sambil main harmonika juga. Kira-kira bisa nggak ya? Nah, karena bingung mau nyanyi lagu apa, akhirnya saya mencoba bikin lagu sendiri...
Judulnya "Woles Yang Nggak Bisa Dibawa Selow"..hhahahahaha.....biar dibilang kekinian dikit lah....
Dan, ternyata main harmonika sambil memetik gitar itu susahnya minta ampun! Mulut saya bersusah payah "mengejar" harmonika yang terpasang di holdernya. Sampai monyong-monyong pun kadang masih belum bersih single note nya...
Baiklah, tanpa banyak ucap, silakan disimak video berikut ini dan silakan hujani dengan kritikan...saya terima seikhlas-ikhlasnya...hahahahahhaa....
Seperti yang pernah saya utarakan, berkat seseorang yang sangat istimewa, saya berkesempatan untuk memiliki Suzuki Olive yang penampakannya kelihatan menggoda itu. Nah, kali ini saya ingin memberikan sedikit ulasan mengenai Olive, ketika digunakan untuk memainkan alunan melodi Blues.
Menurut saya, Suzuki Olive masih kurang "gahar" dan "nakal" untuk bermain Blues. Suaranya cenderung hangat, dan kurang kotor. Mungkin lebih cocok untuk memainkan lagu-lagu bernuansa Jazz. Cuma, suaranya yang empuk masih enak lah untuk memainkan Slow Blues. Mudah di-bending dan akurat nadanya.
Menggenggam Olive buat saya nyaman-nyaman saja. Seperti produk Suzuki yang lain, ergonomi memang sangat diperhatikan. Posisi bibir juga enak saja ketika mencumbui Olive ini...heheheheh...
Singkat kata, menurut saya Suzuki Olive masih kurang nakal untuk bermain Blues dan cenderung pas untuk memainkan lagu Jazzy. Akurasi nada yang pas, enak untuk memainkan lead melody.
Cuma yah, harganya lumayan juga buat kantong saya.....wkwkwkwkwk....
Kali ini saya sedang berbahagia menikmati cinta...Ya, cinta yang ternyata saya temui pula dalam dunia per-harmonika-an... Jadi ceritanya, seseorang yang istimewa memberikan saya kesempatan untuk boleh memiliki salah satu harmonika diatonik idaman saya, yaitu Suzuki Olive (C-20). Sampai hari ini saya belum berani memberikan ulasan tentangnya, tapi jangan kuatir, segera akan saya buat.
Namun yang menarik perhatian saya adalah tentang kisah di balik pembuatan Suzuki Olive tersebut. Kita tahu bahwa harmonika merk Suzuki dibuat oleh tuan Manji Suzuki dari Jepang sono....Nah, beberapa tahun yang lalu, untuk memperingati dedikasi tuan Manji Suzuki dalam membuat harmonika, diproduksilah sebuah harmonika diatonik yang diberi nama sesuai dengan nama beliau, yaitu Suzuki Manji (M-20). Saya sudah pernah menulis artikel tentang Manji ini, dan memang kualitasnya sangat yahud. Banyak pemain profesional yang menggunakan Suzuki Manji ini.
Ternyata, ada kisah lain di belakang itu semua. Tuan Manji Suzuki rupanya juga mengalami kehilangan yang amat mendalam akibat ditinggal oleh sang istri tercinta. Kalau tidak salah sekitar tahun 2012, sang istri meninggal dunia, dan tuan Manji Suzuki sangat terpukul. Dan demi mengabadikan cintanya pada sang istri, maka diproduksilah sebuah harmonika diatonik yang sangat mirip dengan Manji. Demi cintanya pula, maka harmonika itu diberi nama sesuai dengan nama mendiang sang istri, yaitu : OLIVE.
Nama itu mencerminkan kecantikan yang luar biasa, dan Suzuki Olive pun menunjukkan kecantikan yang tak terbantahkan. Meski sama-sama menggunakan Comb dari bahan komposit campuran kayu dan resin, seperti Suzuki Manji, namun Suzuki Olive memiliki stainless steelcover plate yang cantik, berwarna hijau metalik. Mencerminkan cinta tuan Manji Suzuki kepada sang istri.
Nah, karena saya sudah berhasil memiliki sebuah Suzuki Manji, dan kini sebuah Suzuki Olive, rasanya itu seperti memandangi sebuah dedikasi dan pernyataan cinta yang mendalam antara tuan Manji Suzuki dan istrinya itu. Kalau sudah begini, memainkan keduanya tentu akan lebih membuat saya terhanyut dalam cinta itu......hihihiiihi........sedikit lebay gapapa yah......
*special thanks goes to someone special who gave me the chance to have this baby
Suatu hari saya mendapatkan pertanyaan dari seorang teman, yang cukup menggelitik saya.
Pertanyaannya adalah seperti ini : "Kenapa hampir dalam setiap video, Papa Monique selalu menggunakan harmonika yang harganya lumayan mahal? Kenapa tidak menggunakan harmonika yang murah?"
Berdasarkan pertanyaan itu saya jadi berpikir, apa jangan-jangan banyak orang menganggap bahwa permainan harmonika yang bagus itu mutlak ditentukan dari mahal murahnya harmonika yang digunakan, atau dari bagus tidaknya harmonika itu?
Eh, tapi bukan berarti permainan saya bagus lho...hehehehe.....Dan bukan berarti pula saya mau pamer harmonika mahal. Justru ketika awal saya belajar, saya hanya punya beberapa harmonika diatonik kelas bawah. Saya hanya ingin membuktikan bahwa kualitas permainan harmonika seseorang tidak mutlak ditentukan oleh bagus tidaknya,atau mahal murahnya harmonika yang digunakan.
Oleh karena itu saya mencoba membandingkan dua merk harmonika yang beda harganya bagaikan langit dan bumi :p Harmonika yang pertama adalah Hohner MarineBand Deluxe, yang sudah pasti berharga di atas Rp. 500.000,-. Sedangkan yang berikutnya adalah Angel keluaran lama, yang ketika saya beli harganya hanya Rp. 79.000,- Keduanya memiliki kunci yang sama, yaitu kunci F, dan saya gunakan untuk jamming dengan backing track yang sama pula.
O ya, sebagai catatan, harmonika diatonik merk Angel keluaran lama masih terjaga akurasi nadanya bila dibanding dengan produksi mulai sekitar tahun 2012. Seperti yang sudah pernah saya tulis dalam artikel di blog ini, Angel keluaran baru sangatlah parah kualitasnya.
Nah, tanpa perlu berpanjang lebar lagi, saya persilakan Anda menyimak video saya ini, dan ambillah kesimpulan sendiri.....hehehehe....