Monday, November 25, 2013

Duta Besar Harmonika Indonesia

Sobat kita, Reyharp, kembali membuat gebrakan!

Beberapa minggu yang lalu (akhir Oktober sampai awal November 2013) Rey mengikuti festival harmonika bergengsi, yaitu World Harmonica Festival 2013
Yup! Festival keren ini diadakan di kota tempat lahirnya harmonika merk Hohner, yaitu di Trossingen. Reyharp, yang adalah juga seorang endorsee Hohner, adalah satu-satunya peserta dari Indonesia yang mengikuti festival ini.

Meskipun dia berangkat secara perseorangan, dan tidak mewakili suatu asosiasi tertentu, namun kalau boleh saya bilang, Reyharp adalah seorang Duta Besar Harmonika dari Indonesia, di kancah internasional!

Hasilnyapun luar biasa. Reyharp menempati posisi ke 6 pada kategori Solo Diatonic Blues/Rock/Folk/Country. Bayangkan, satu-satunya wakil dari Indonesia, masih sangat muda, tapi bisa menunjukkan taringnya di festival kelas dunia. Kalaupun posisinya masih di luar 5 besar, tak berarti kehadirannya pantas diabaikan!

Sekali lagi Reyharp membuktikan bahwa masih ada anak muda Indonesia yang bisa dan berani berkarya sampai ke dunia internasional. Satu hal yang patut dipertimbangkan, sepertinya para pencinta harmonika di Indonesia perlu memikirkan untuk membuat satu wadah resmi yang dapat menjadi wahana bagi anggotanya, bila ingin mengikuti festival-festival semacam ini. Paling tidak, bila ada organisasinya, Indonesia mulai akan dipandang oleh negara-negara lain, khususnya dalam dunia per-harmonika-an....ehehehe...

Well, saya ikut merasa bangga akan hasil yang boleh diraih Reyharp. Semoga ke depan, Reyharp dapat menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia punya pemain-pemain harmonika berbakat yang tidak kalah gaharnya dengan harpist luar negeri.

Semoga juga semangat Rey menular pada anak-anak Indonesia yang lain, supaya virus sedot sebul makin tersebar.

Semangat Rey!!!!!!

Sunday, October 27, 2013

Bengawan Solo CongHar

CongHar?

Hahahaha....ya,  CongHar itu Keroncong Harmonika....maksud saya adalah, memainkan lagu yang bernuansa Keroncong dengan menggunakan harmonika.

Saya iseng-iseng mencoba untuk memainkan lagu Bengawan Solo, yang notabene adalah sebuah lagu Keroncong ciptaan pak Gesang, dengan memakai harmonika diatonik saya, yaitu Suzuki Harpmaster.

Yah, mungkin kedengarannya kurang lazim, tapi tak apalah...namanya juga berusaha mengeksplorasi....Paling tidak, saya membuktikan bahwa lagu-lagu Indonesia bisa juga dibawakan dengan menggunakan harmonika.

Dalam video ini, backing track yang saya gunakan saya buat dengan bantuan gitar tua saya, yaitu Yamaha CG-50 dan sebuah Handycam sederhana. Tinggal cari tempat yang aman (aman dari omelan orang-orang rumah, maksudnya...hehehe...) dan sedot sebulpun bisa dimulai!

Silakan dinikmati, dan mohon maaf bila banyak terdengar salah di sana-sini...

SalamSedotSebul!

Monday, October 21, 2013

Kompor Meledug dan Harmonika!

Wanita dan harmonika = SEKSI!

Ya, demikian kata sang pembawa acara The Voice Indonesa, saat salah seorang kontestan membawakan lagu milik alm. Benyamin Sueb, yang berjudul "Kompor Meleduk" dengan gaya Blues yang sangat kental.
Yang bikin jadi lebih heboh adalah karena sang kontestan, yang kebetulan seorang "Blues Lady" manis, memainkan harmonika di beberapa bagian lagu. Sontak nuansa Blues menjadi tak tertahankan!

Sang kontestan yang saya maksud adalah mbak Dita Saferina, salah seorang rekan di grup FB Pencinta Harmonika, dan adalah seorang penyanyi yang sangat dekat dengan Blues Music. Mbak Dita yang multitalented ini membawakan lagu "Kompor Meleduk" dengan sangat energik dan luwes. Seorang wanita, yang bersuara bagus, bisa memainkan gitar, dan yang paling parah, bisa memainkan harmonika! Kurang apa lagi coba? Kombinasi maut yang sangat sukar dihindari...ahhahaha....
Lihat saja video berikut ini :




Mbak Dita, saat saya tanya, mengaku cenderung suka memainkan harmonika diatonik keluaran Lee Oskar (Tombo). Memang betul, terlihat sekilas penampakan harmonika Lee Oskar milik mbak Dita, dengan tulisan kunci nada dasar pada bagian sampingnya.

Yah, meskipun mungkin mbak Dita belum berhasil memenangkan lomba tersebut, tetapi tetap saja, mbak Dita dengan musik Blues-nya tak bisa dilihat sebelah mata. Bisa jadi karena belum banyak orang Indonesia yang mengenal musik Blues. Tapi bagi saya, mbak Dita adalah salah satu orang yang berhasil mencuri perhatian banyak orang dengan musik Bluesnya, dan (tentu saja) : harmonikanya! Saya berharap mbak Dita tetap jaya dalam bermusik, dan kiranya dapat menjadi salah satu agen penular virus sedot sebul di Indonesia.

Ngomong-ngomong, saya sih setuju dengan rumus ini :  Wanita  + Harmonika = Seksi.

Lha tapi kalau Pria + Harmonika, jadinya apa ya? Hahahahhahahahhaha..............

SalamSedotSebul!


*Sukses selalu buat mbak Dita. Terus bermusik dan (semoga) terus menyedot dan menyebul wafer diatoniknya......!!!


Monday, October 7, 2013

Jangan takut belajar harmonika!

Apakah Anda sedang mengalami stres karena menemui banyak kesulitan dalam belajar memainkan harmonika? Frustrasi karena tak kunjung menguasai teknik-teknik yang sudah diidam-idamkan sejak lama?
Anda tak sendirian. Ada banyak orang yang mengalami hal yang sama.
Tapi jangan kuatir, sulit bukan berarti tak mungkin. Bukan juga berarti Anda sudah tervonis tidak bisa memainkan harmonika.

Ada salah seorang rekan di grup PH yang mungkin dapat memberikan inspirasi bagi Anda semua. Beliau membuat sebuah video singkat yang judulnya saja sudah dapat mewakili perasaan sang pembuat video : "Belajar Harmonika Diatonic Susaaah!"

Tapi tunggu dulu, walaupun dia mengaku mengalami kesulitan dalam memainkan harmonika diatonik, pada bagian berikutnya Anda dapat melihat bagaimana dia beralih ke harmonika tremolo dan memainkan sebuah lagu yang tak asing lagi. Ya! Soundtrack film "Titanic" dia bawakan dengan penuh penghayatan, dan tak nampak sedikitpun kesulitan yang dia alami. Terlihat dia begitu menikmati setiap nada yang keluar dari harmonikanya.

Mungkin memang dia sedang "apes" karena merk harmonika diatonik yang dia gunakan adalah ANGEL! Hahaha...seperti yang sudah sering saya bahas, harmonika merk ANGEL bukanlah merk yang direkomendasikan bagi pemula saat belajar harmonika diatonik. Beliau juga membuktikan betapa nada-nada yang dihasilkan oleh harmonika ANGEL benar-benar tidak pas!

Nah, maksud saya adalah, ketika Anda frustrasi karena kerap menemui kesulitan saat belajar harmonika, cobalah untuk tenang, rileks dan enjoy! Nikmati saja prosesnya. Tumbuhkan rasa percaya diri Anda dengan mengatakan : "Ya...mungkin saat ini saya belum bisa. Tetapi suatu saat saya pasti bisa!!!"

Masbro yang muncul dalam video ini benar-benar memberi contoh nyata bagaimana dia bisa menikmati proses belajar harmonika. Bahkan kalau boleh saya bilang, masbro yang satu ini sangat percaya diri, sampai-sampai gayanyapun meyakinkan. Sentuhan humornya yang menggelitik sungguh membuat saya tertawa. Bukan karena kesulitan yang dia hadapi, tapi karena sikap dan cara pandangnya yang sungguh positif.

Jadi saya sarankan Anda untuk tetap santai dan menikmati setiap langkah belajar yang musti ditempuh. Saya yakin tahap demi tahap akan dapat Anda lalui. Nah, sekarang teruslah belajar dan jangan menyerah.

Salam Sedot Sebul!





*Terima kasih kepada masbro Pujakesuma yang telah membuat video tersebut dan memberikan inspirasi bagi saya. Saya percaya kemampuannya akan berkembang seiring waktu berjalan!

Wednesday, September 25, 2013

Reyharp & Rega Dauna : The Rising Stars

Siapa bilang Indonesia tak memiliki pemain harmonika yang mumpuni? Kalau tak banyak orang yang tahu, itu mungkin karena kurangnya publikasi. Tapi sebenarnya para pemain harmonika di Indonesiapun sudah terdengar gaungnya sampai ke luar negeri. Tak hanya pemain-pemain senior, seperti wak Hari Pochang, om Krisnablues, mas Oyo, om Benny Likumahuwa, om Iman Budi Santoso, dan yang lainnya. Tapi juga anak-anak muda yang mulai menampakkan tajinya dalam hal bermain harmonika.

Belakangan ada dua orang anak muda, sangat muda malahan, yang bintangnya mulai bersinar. Kebetulan mereka berdua adalah sahabat karib, dan sama-sama bergabung di grup FB Pencinta Harmonika. Mereka berdua punya kesamaan : belajar harmonika dari usia yang sangat muda, dan besar dalam keluarga pemusik. Uniknya meski sama-sama memilih harmonika sebagai instrumen utama mereka, masing-masing memutuskan untuk berbeda. Yang satu memainkan harmonika diatonik, sedangkan yang lain memilih untuk memainkan harmonika kromatik.

Mari kita berkenalan dengan dua orang anak muda yang luar biasa ini.

Reyharp

Reyharp besar di keluarga yang tak bisa jauh dari musik. Pamannya, adalah seorang pemain harmonik Blues terkenal dari Bandung, yaitu wak Hari Pochang. Tak heran bila Reyharp terkena "racun" diatonik dari pamannya itu. Reyharp rupanya sangat menyerap "racun" itu sehingga membuat dirinya mahir bermain harmonika diatonik...hahahaha....Kepiawaiannya memainkan harmonika diatonik membawanya melesat ke level internasional. Pada tahun 2012, hasilnya mulai nampak nyata. Reyharp mengikuti kejuaraan Asia Pacific Harmonica Festival di Kuala Lumpur, Malaysia, dan berhasil menyabet juara 1! Tambahan lagi, karena Reyharp lebih sering menggunakan harmonika diatonik merk Hohner, maka Hohnerpun menjadikannya salah satu endorsee bagi produk-produk mereka. Luar biasa bukan? Namanyapun masuk dalam daftar pemain harmonika kelas dunia, dan dapat dilihat di sini.
Reyharp terkenal dengan permainannya yang cepat dan ditaburi dengan teknik overblow dan overdraw yang sangat "ngeri". Buat dia, tak masalah bila harus memainkan beberapa lagu dengan nada dasar yang berbeda, dengan hanya 1 harmoika diatonik. Bayangkan, di usia muda, Reyharp sudah menguasai teknik overbend dengan sangat luwes. Berikut salah satu video yang menampilkan permainan maut Reyharp :


Rega Dauna

Rega Dauna juga lahir dan besar di keluarga yang "full music". Ayahnya, Glen Dauna, adalah seorang musisi jazz kenamaan negeri ini. Kakaknya juga adalah seorang pemain terompet berpengalaman. Sedangkan Rega memilih untuk memainkan harmonika kromatik. Anak muda yang energik dan ramah ini makin lama makin menunjukkan kematangannya dalam memainkan harmonika kromatik. Sejauh yang saya tahu, merk Suzuki adalah merk favoritnya, sehingga kadang terjadi sebuah adegan "cela-celaan" bila Rega dan Reyharp bertemu. Yang satu adalah endorsee Hohner, yang lain adalah pengikut setia Suzuki. Hahahahah....
O ya, pada Asia Pacific Harmonica Festival tahun 2012 yang lalu, Rega juga ikut di kategori harmonika kromatik, namun sayang belum berhasil mendapatkan juara. Meskipun menurut saya, bisa ikut di festival tersebut adalah hal yang luar biasa :)
Bersama dengan ayahnya, Rega kerap tampil memberikan sentuhan-sentuhan melodi dengan harmonika kromatiknya. Rega juga kerap terlibat dalam kolaborasi dengan banyak musisi. Salah satunya nampak pada video berikut, yang menampilkan salah satu lagu dalam album "Di Atas Rata-rata", produksi Erwin Gutawa dan Gita Gutawa.


Rega  sering tampil di Java Jazz Festival, dan juga tampil rutin di beberapa tempat di Jakarta, seperti kafe ataupun mal. Kalau tidak salah, Rega punya jadwal tetap tampil di mal Pondok Indah 1, setiap akhir pekan. Bagi Anda yang tinggal di Jakarta, sekali-sekali saksikanlah penampilan Rega di mal tersebut, dan bila Anda sedang beruntung, Anda bisa menyaksikan 2 sahabat, Rega & Reyharp, tampil bersama.

Saya beruntung dapat berteman dengan 2 orang sahabat muda ini. Selain karena mereka tak segan membagi ilmu, tingkah lakunya yang polos dan kocak, khas anak muda, sungguh membuat saya betah ngobrol
bersama mereka. Saya berharap Rega dan Reyharp dapat menunjukkan kepada dunia, bahwa Indonesiapun memiliki anak-anak muda berbakat musik, khususnya harmonika, yang layak diperhitungkan. Semoga duet maut R2 (begitulah panggilan akrab buat mereka di grup Pencinta Harmonika) makin "maut" lagi di masa depan....hehehehe...

Go forward, the Harmonica-Rising Stars of Indonesia!


Harmonika Diatonik & Gitar = Duet Maut?

Harmonika diatonik itu buat kebanyakan orang hanya dianggap sebagai sebuah pelengkap. Bahkan ada juga yang menganggap harmonika hanyalah sebuah "mainan". Tapi saya berani bilang, itu semua salah!

Harmonika diatonik, bisa menjadi sebuah instrumen musik yang luar biasa hebat dalam memberikan aksen dan nuansa melodi unik. Bahkan ketika "hanya" ditemani satu alat musik saja, harmonika sudah bisa membuat orang tersihir. Apalagi bila sang pemain harmonika bisa menyanyi dengan baik dan memiliki suara yang khas pula.

Video berikut adalah sebuah contohnya. Grup musik MuddyShoesBlues hanya berisikan 2 personil. Satu orang sebagai gitaris, yang lainnya sebagai pemain harmonika diatonik sekaligus vokalis. Namun permainan mereka sungguh luar biasa. Terlihat betapa nuansa musik Blues sangat kental, ditambah lagi suara sang vokalis yang serak-serak basah. Tapi yang membuat saya tersihir adalah permainan harmonika diatoniknya. Lolongan harmonika yang dimainkan sungguh membuat bergetar hati ini (...agak sedikit lebay, ya...? wkwkwkw..). Coba bayangkan bila instrumen musik yang digunakan hanya gitar saja. Pasti akan terdengar "kering". Namun begitu ada lolongan harmonika diatonik, maka lagu "Key to the Highway"-nya Little Walter  ini menjadi sangat ciamik!



Harmonika diatonik memang sangat pas bila ditemani oleh gitar, apalagi untuk memainkan lagu-lagu bernuansa Blues. Tanpa adanya tambahan instrumen lain pun rasanya sudah cukup. Nah, jadi bila Anda memiliki teman yang bisa bermain gitar, tak ada salahnya untuk mengajak dia duet. Mainkan saja chord I, IV dan V, lalu tiup sedotlah harmonika Anda...bila "soul"nya dapat, saya yakin permainan Anda berdua tak kalah bagusnya dari Duet Maut yang ada di video ini. Tak percaya? Coba saja! 

Thursday, September 12, 2013

Hohner Bluesband : Amazing Grace cover

Bluesband, seperti yang sudah pernah saya tulis dalam artikel saya sebelumnya, memang dapat dianggap sebagai tipe harmonika entry level dari Hohner. Namun tak berarti suaranya jelek. Saya mencoba membuktikannya sendiri saat saya memainkan sebuah lagu (covering) spiritual yang berjudul "Amazing Grace". Dengan menggunakan backing track hasil rekaman di sebuah piano elektrik, saya mencoba menggunakan Hohner Bluesband tersebut.

Rekamannya dapat didengarkan di sini.

Kalau Anda dengarkan secara teliti, terdengar bahwa beberapa kali ada suara "ngempos". Ya, itulah karakter Hohner Bluesband, yang  menurut saya itu disebabkan karena airtightness-nya  kurang. O ya, mohon maaf bila sempat terdengar ada suara klakson mobil. Maklum, saya tidak merekam permainan ini di studio musik, alias, banyak "suara-suara misteri" yang masuk di rekaman....hehehehe....

Silakan disimak...:)