Saya yakin setiap orang yang jatuh cinta dengan harmonika, khususnya jenis diatonik, pasti tak asing lagi dengan musik Blues. Ya! Harmonika diatonik itu memang dekat sekali dengan musik Blues, maka dari itu tak heran bila instrumen tersebut kerap disebut dengan istilah Blues Harp.
Di Indonesiapun, musik Blues mempunyai tempat tersendiri, dengan jumlah penggemar yang tak bisa dibilang sedikit. Nah, ada salah satu penggemar Blues di Indonesia yang menunjukkan kecintaannya pada musik Blues dengan satu cara yang unik.
Kang Hadi Pramono, itulah namanya. Beliau, yang adalah orang yang sangat dekat dengan musik, membuat sebuah situs, atau blog yang bernama Onestopblues.com. Sesuai dengan judulnya, situs ini memuat berbagai berita yang berkaitan dengan perkembangan musik Blues di Indonesia, lengkap dengan informasi mengenai aktivitas musik tersebut. Kecintaan beliau terhadap musik Blues memang tak diragukan lagi. Berdasarkan penuturan beliau di situsnya, kang Hadi Pramono ini pernah menjadi Ketua Komunitas Blues Bandung dan penasihat di Blues Bandung Society. Mantap, kan? hehehehe...
Bila Anda adalah seorang penggemar musik Blues dan sekaligus harmonika Blues, jangan ragu untuk mengunjungi situs ini. Saya yakin Anda tak akan merasa rugi. Komplit dan Lengkap! Luar Biasa! Kira-kira demikian yang bisa saya katakan untuk menggambarkan betapa situs ini memberi manfaat yang tak sedikit bagi penggemar musik Blues di Indonesia.
Jadi, ayo...jangan diam saja! Klik link ini untuk segera masuk ke situs yang asyik tersebut!
O ya, meskipun secara pribadi saya belum pernah bertemu langsung dengan kang Hadi Pramono ini, saya ingin mengucapkan : Sukses selalu untuk Onestopblues.com !!!!
Salam Sedot Sebul
Wednesday, April 24, 2013
Saturday, April 20, 2013
Pake Easy Rider? Siapa takut!
Siapa bilang kalau kita hanya punya harmonika murah, lantas tak boleh duet jamming dengan pemain harmonika lain, yang notabene mempunyai harmonika berharga lebih mahal dibanding milik kita?
Yang penting sih, enjoy aja...dan tetap bisa mengikuti pola yang dimainkan. Dalam klip berikut ini saya melakukan duet (bukan duel) dengan salah seorang teman sesama anggota grup Pencinta Harmonika : bro Sunu.
Sebenarnya sih, kami iseng saja saat sama-sama nongkrong makan malam. Lalu karena ada handycam, kami sepakat mencoba jamming. Waktu itu bro Sunu ingin mencoba Hohner Marine Band Classic (kunci D) yang baru dia beli. Nah, karena jamming dilakukan dengan harp kunci D, maka mau tak mau saya menggunakan Suzuki Easy Rider saya...Mengapa? Yah, simpel saja, untuk harmonika kunci D, saya hanya punya EZR itu saja! :D
Maka itu, karena tak akan imbang bila disebut duel, saya memilih untuk memainkan rhytm saja.Perhatikan betapa suara MB Classic mendominasi, dan EZR hanya terdengar sebagai latar belakang saja..hahaha...Yah, paling tidak, EZR masih bisa mengiringi MB Classic yang sudah terkenal di jagat harmonika blues itu!
Silakan disimak...:)
Yang penting sih, enjoy aja...dan tetap bisa mengikuti pola yang dimainkan. Dalam klip berikut ini saya melakukan duet (bukan duel) dengan salah seorang teman sesama anggota grup Pencinta Harmonika : bro Sunu.
Sebenarnya sih, kami iseng saja saat sama-sama nongkrong makan malam. Lalu karena ada handycam, kami sepakat mencoba jamming. Waktu itu bro Sunu ingin mencoba Hohner Marine Band Classic (kunci D) yang baru dia beli. Nah, karena jamming dilakukan dengan harp kunci D, maka mau tak mau saya menggunakan Suzuki Easy Rider saya...Mengapa? Yah, simpel saja, untuk harmonika kunci D, saya hanya punya EZR itu saja! :D
Maka itu, karena tak akan imbang bila disebut duel, saya memilih untuk memainkan rhytm saja.Perhatikan betapa suara MB Classic mendominasi, dan EZR hanya terdengar sebagai latar belakang saja..hahaha...Yah, paling tidak, EZR masih bisa mengiringi MB Classic yang sudah terkenal di jagat harmonika blues itu!
Silakan disimak...:)
Suzuki Easy Rider
Satu lagi harmonika diatonik buatan Suzuki yang masuk dalam kategori "entry level" adalah Suzuki Easy Rider (kode : EZR20). Harmonika tipe ini sangat mudah dikenali karena warna cover plate nya yang menyolok, yaitu warna merah. Entah kenapa, di website resmi Suzuki Music, warna cover plate yang nampak pada gambar Suzuki Easy Rider adalah abu-abu (atau perak?). Tetapi selama ini setiap harmonika Suzuki tipe Easy Rider yang saya temui, selalu memiliki cover plate yang berwarna merah.
Dari namanya, sudah dapat ditebak bila harmonika tipe ini ditujukan bagi pemula yang baru ingin belajar cara bermain harmonika diatonik. Tapi jangan salah, berdasarkan pengalaman saya, harmonika tipe ini tak bisa dianggap remeh seperti harmonika mainan biasa, lho...
Desain comb dan reed plate nya berbeda dengan saudaranya, yaitu tipe Folkmaster (1072). Pada Easy Rider, reed plate "tertanam" secara rapi di dalam comb yang terbuat dari plastik, sehingga tepiannya tak "nongol" seperti pada Folkmaster. Konsekuensinya, bibir tak mudah merasa sakit. Tetapi entah mengapa, dari beberapa Easy Rider yang saya miliki, saya menemui beberapa kesamaan : bagian comb yang memiliki lubang (yang bersinggungan langsung dengan bibir pemain) cenderung mempunyai permukaan yang kesat. Hal ini kadang membuat saya kesulitan untuk berpindah dari satu lubang ke lubang yang lain. Tapi, sekali lagi, ini hanya menurut saya lho...
Untuk airtightness, menurut penilaian subyektif saya, boleh dibilang Easy Rider lebih baik daripada Folkmaster. Mungkin karena desain dan susunan comb dan reed plate yang berbeda dibanding dengan Folkmaster, sehingga gejala "ngempos" tak terlalu banyak ditemui pada harmonika ini. Efeknya, teknik Bending dapat lebih nyaman dilakukan, apalagi bila sebelumnya, kita lakukan "reed gapping" pada beberapa reed yang ada. (Untuk teknik "reed gapping" ini akan saya bahas pada tulisan yang lain).
Sayang, volume suara yang dihasilkan, tak sekeras Folkmaster. Mungkin karena bagian belakang cover plate kurang "mangap" jika dibanding dengan Folkmaster. Namun untuk kerapian dan akurasi pemasangan reed yang ada pada reed plate, Easy Rider juga tak kalah dengan Folkmaster. Sekali lagi, ini bukti bahwa pihak Suzuki Music memang sangat konsisten menjaga kualitas setiap produknya, bahkan untuk produk entry level seperti Easy Rider tersebut.
Suzuki Easy Rider dijual lengkap dengan kotak yang terbuat dari karton, berbeda dengan saudaranya, Folkmaster, yang dijual lengkap dengan kotak plastik. Harga Easy Rider di bawah Folkmaster, yaitu sekitar Rp. 65.000,00. Harmonika ini juga tak sulit dicari. Cukup kunjungi gerai MG di toko buku Gramedia, dan biasanya Anda akan dapat menemukannya.
Ya....sekali lagi, bila memang Anda terbentur masalah dana, tetapi "ngebet" untuk belajar harmonika diatonik, tak ada salahnya membeli harmonika Suzuki Easy Rider. Selamat mencoba!
Dari namanya, sudah dapat ditebak bila harmonika tipe ini ditujukan bagi pemula yang baru ingin belajar cara bermain harmonika diatonik. Tapi jangan salah, berdasarkan pengalaman saya, harmonika tipe ini tak bisa dianggap remeh seperti harmonika mainan biasa, lho...
Desain comb dan reed plate nya berbeda dengan saudaranya, yaitu tipe Folkmaster (1072). Pada Easy Rider, reed plate "tertanam" secara rapi di dalam comb yang terbuat dari plastik, sehingga tepiannya tak "nongol" seperti pada Folkmaster. Konsekuensinya, bibir tak mudah merasa sakit. Tetapi entah mengapa, dari beberapa Easy Rider yang saya miliki, saya menemui beberapa kesamaan : bagian comb yang memiliki lubang (yang bersinggungan langsung dengan bibir pemain) cenderung mempunyai permukaan yang kesat. Hal ini kadang membuat saya kesulitan untuk berpindah dari satu lubang ke lubang yang lain. Tapi, sekali lagi, ini hanya menurut saya lho...
Untuk airtightness, menurut penilaian subyektif saya, boleh dibilang Easy Rider lebih baik daripada Folkmaster. Mungkin karena desain dan susunan comb dan reed plate yang berbeda dibanding dengan Folkmaster, sehingga gejala "ngempos" tak terlalu banyak ditemui pada harmonika ini. Efeknya, teknik Bending dapat lebih nyaman dilakukan, apalagi bila sebelumnya, kita lakukan "reed gapping" pada beberapa reed yang ada. (Untuk teknik "reed gapping" ini akan saya bahas pada tulisan yang lain).
Sayang, volume suara yang dihasilkan, tak sekeras Folkmaster. Mungkin karena bagian belakang cover plate kurang "mangap" jika dibanding dengan Folkmaster. Namun untuk kerapian dan akurasi pemasangan reed yang ada pada reed plate, Easy Rider juga tak kalah dengan Folkmaster. Sekali lagi, ini bukti bahwa pihak Suzuki Music memang sangat konsisten menjaga kualitas setiap produknya, bahkan untuk produk entry level seperti Easy Rider tersebut.Suzuki Easy Rider dijual lengkap dengan kotak yang terbuat dari karton, berbeda dengan saudaranya, Folkmaster, yang dijual lengkap dengan kotak plastik. Harga Easy Rider di bawah Folkmaster, yaitu sekitar Rp. 65.000,00. Harmonika ini juga tak sulit dicari. Cukup kunjungi gerai MG di toko buku Gramedia, dan biasanya Anda akan dapat menemukannya.
Ya....sekali lagi, bila memang Anda terbentur masalah dana, tetapi "ngebet" untuk belajar harmonika diatonik, tak ada salahnya membeli harmonika Suzuki Easy Rider. Selamat mencoba!
Suzuki Folkmaster
Anda ingin mulai belajar bermain harmonika diatonik, dan
sedang mencari harmonika untuk pemula, tetapi terbentur masalah dana?
Katakanlah, Anda hanya mempunyai dana maksimal sejumlah Rp. 100.00,00…
Kembali kepada desain dan struktur reed plate, bagi saya
Suzuki Folkmaster mempunyai airtightness yang kurang baik. Kalau Anda bongkar
dalamnya, dapat Anda lihat bahwa comb nya sangat mirip dengan bentuk sisir,
alias bagian depannya memang terbuka. Ditambah lagi reed plate yang terpasang
diatas comb dan tepiannya cenderung keluar, membuat udara masih bisa menerobos.
Akibatnya, bila Anda adalah seorang pemula dan sedang mempelajari teknik
Bending, menurut saya Suzuki Folkmaster akan
membuat Anda cukup kerepotan. Tetapi itu juga tergantung kemampuan dan
keteguhan hati si pemain…hehehehe….Jadi jangan lantas menyerah!
Pada akhirnya, Suzuki Folkmaster, sebagai harmonika berharga di bawah Rp. 100.000,00, tak serta merta mengecewakan. Yang pasti, Suzuki sebagai salah satu produsen harmonika terkemuka di dunia, tak perlu diragukan lagi konsistensinya dalam menjaga kualitas, kerapian dan tingkat akurasi dari setiap produknya. Tak terkecuali tipe Folkmaster. Kerapian dan akurasi pemasangan setiap reed sangat terjamin. Jadi, tak ada salahnya juga bila Anda berniat mulai belajar harmonika diatonik dengan menggunakan Suzuki Folkmaster tersebut.
Jangan cuma dengarkan apa yang saya katakan! Silakan coba sendiri...xixixix....
Selamat mencoba!
Nah, mungkin ada satu jenis harmonika yang layak Anda coba.
Namanya adalah : Suzuki Folkmaster (kode : 1072).
Folkmaster adalah tipe harmonika keluaran Suzuki yang termasuk dalam
kelas “entry level”. Harmonika tipe ini relatif
mudah ditemukan. Kalau di kota Anda ada
toko buku Gramedia, biasanya di toko tersebut juga terdapat gerai MG Sport
& Music, yang menyediakan alat-alat olah raga dan musik. Biasanya, Suzuki
Folkmaster dijual di gerai semacam itu. Harga terakhir yang saya tahu (sekitar
awal tahun 2013) adalah Rp. 75.000,00. Berikut ini saya ingin berbagi mengenai harmonika tipe ini,
berdasarkan pengalaman saya memiliki dan memainkannya selama ini.
Suzuki Folkmaster
dijual lengkap dengan kotak penyimpan yang terbuat dari plastik berwarna
coklat. Harmonika ini memiliki bentuk yang mengacu pada harmonika-harmonika diatonik klasik. Comb nya terbuat dari plastik, dan cover plate nya dihiasi dengan
ukir-ukiran yang semakin mempertegas kesan klasik tersebut. Reed plate yang
dimiliki oleh Folkmaster tidak tertutup penuh oleh cover plate dan comb nya. Tepian
bagian depan dibiarkan “nongol” keluar. Bagi Anda yang baru pertama kali
memainkan harmonika, mungkin akan merasakan sebuah sensasi aneh saat mulut Anda
bersinggungan dengan harmonika tersebut. Sensasi yang saya maksud adalah, rasa
dan aroma logam yang sangat kentara di mulut Anda. Yah, menurut pengalaman saya
sih, begitu. Mungkin karena tepian reed plate yang terbuat dari kuningan itu
cenderung menjorok keluar. .Menurut saya juga, struktur dan desain seperti itu
akan mudah membuat bibir Anda terasa kurang nyaman, atau kalau boleh dikatakan
secara humor, harmonika ini mudah membuat bibir Anda menjadi “jontor”…hahahahha….
Soal kualitas suara, desain cover plate bagian belakang yang
cenderung membuka, lumayan dapat menghasilkan volume suara yang keras. Yah, tergantung cara memainkannya juga sih...! Tetapi dengan teknik yang benar,
harmonika ini dapat menghasilkan suara yang keras.
Kembali kepada desain dan struktur reed plate, bagi saya
Suzuki Folkmaster mempunyai airtightness yang kurang baik. Kalau Anda bongkar
dalamnya, dapat Anda lihat bahwa comb nya sangat mirip dengan bentuk sisir,
alias bagian depannya memang terbuka. Ditambah lagi reed plate yang terpasang
diatas comb dan tepiannya cenderung keluar, membuat udara masih bisa menerobos.
Akibatnya, bila Anda adalah seorang pemula dan sedang mempelajari teknik
Bending, menurut saya Suzuki Folkmaster akan
membuat Anda cukup kerepotan. Tetapi itu juga tergantung kemampuan dan
keteguhan hati si pemain…hehehehe….Jadi jangan lantas menyerah!Pada akhirnya, Suzuki Folkmaster, sebagai harmonika berharga di bawah Rp. 100.000,00, tak serta merta mengecewakan. Yang pasti, Suzuki sebagai salah satu produsen harmonika terkemuka di dunia, tak perlu diragukan lagi konsistensinya dalam menjaga kualitas, kerapian dan tingkat akurasi dari setiap produknya. Tak terkecuali tipe Folkmaster. Kerapian dan akurasi pemasangan setiap reed sangat terjamin. Jadi, tak ada salahnya juga bila Anda berniat mulai belajar harmonika diatonik dengan menggunakan Suzuki Folkmaster tersebut.
Jangan cuma dengarkan apa yang saya katakan! Silakan coba sendiri...xixixix....
Selamat mencoba!
Tuesday, April 16, 2013
Komponen Penyusun Harmonika Kromatik
Pada tulisan saya sebelumnya, pernah diulas mengenai
komponen penyusun harmonika jenis diatonik. Kali ini saya ingin mengulas
tentang komponen penyusun harmonika jenis kromatik. Kebetulan saya memiliki
sebuah harmonika kromatik yang saya beli dari seorang teman di grup Pencinta
Harmonika.
Bagian yang paling penting dari sebuah harmonika adalah reed
plate dan reed. Namun berbeda dengan harmonika jenis diatonik, harmonika
kromatik memiliki lebih banyak reed, karena dituntut untuk dapat menghasilkan
nada diatonik dan kromatik sekaligus. Pada harmonika kromatik milik saya, setiap
lembar reed plate, memiliki 20 reed, sehingga total reed yang ada pada
harmonika ini berjumlah 40 reed (20 reed pada reed plate atas, dan 20 reed pada
reed plate bawah). Jumlah ini tergantung pada tipe harmonika kromatik. Bila
sebuah harmonika kromatik memiliki 12 lubang atau 14 lubang, tentunya reed yang
dimiliki lebih banyak pula.
Komponen ini berupa batang yang dipasang sejajar dengan mouthpiece, dan juga memiliki lubang-lubang yang diatur sesuai lubang-lubang pada mouthpiece harmonika. Batang ini bertugas untuk mengarahkan aliran udara menuju ke reed tertentu yang ada dalam sebuah harmonika kromatik.Cara kerjanya cukup ditekan saja. Dalam posisi normal atau tanpa ditekan, slider akan mengarahkan aliran udara menuju ke reed-reed yang menghasilkan nada-nada diatonik. Bila ditekan, maka udara akan dialirkan melalui reed-reed yang menghasilkan nada-nada kromatis.
Kerja slider dibantu oleh sebuah pegas yang akan mengembalikannya ke posisi semula bila tak ditekan. Pegas tersebut terpasang di dalam comb, seperti yang bisa Anda lihat pada gambar.
Secara garis besar, demikianlah penjelasan tentang komponen penyusun sebuah harmonika kromatik. Semoga bermanfaat bagi Anda yang penasaran dengan harmonika kromatik.
Salam sedot sebul!
Harmonika kromatik milik saya bermerk Hohner, tipe Chrometta10. Angka 10 menunjukkan jumlah lubang yang ada pada harmonika itu. Tak seperti
harmonika jenis diatonik, jenis kromatik dapat menghasilkan semua nada,
termasuk nada-nada kromatis (*mudahnya adalah seperti ini : nada kromatis adalah nada-nada yang dihasilkan ketika Anda menekan tuts berwarna hitam pada sebuah piano. Sedangkan nada diatonik adalah nada yang dihasilkan saat Anda menekan tuts warna putih).
Oleh karena itu, strukturnya pun lebih rumit. Namun kali
ini saya hanya ingin membahas secara garis besarnya saja. Detail dan karakter Hohner
Chrometta 10 akan saya bahas pada tulisan yang lain. Mari kita bedah satu per
satu.
>> Cover Plate
Pelat penutup ini memiliki bentuk dasar dan fungsi yang sama
dengan yang dimiliki oleh harmonika jenis lainnya.
>> Comb
Seperti yang pernah saya ulas pada tulisan saya sebelumnya,
harmonika kromatik juga memiliki comb yang tak jauh berbeda dengan yang
dimiliki oleh harmonika jenis diatonik.
>> Mouthpiece
Bagian ini adalah bagian harmonika yang bersinggungan
langsung dengan mulut sang pemain. Pada beberapa jenis harmonika, komponen ini
tak menjadi satu bagian dengan comb, namun pada harmonika milik saya, komponen
mouthpiece dibuat menyatu dengan comb. Bentuk dan kontur mouthpiece akan sangat
menentukan kenyamanan pemain dalam memainkan nada. Tentu saja! Karena bila permukaan mouthpiece tak rapi, maka pemain
akan merasa kesulitan untuk berpindah dari satu lubang ke lubang yang lain.
>> Reed Plates dan Reed
Bagian yang paling penting dari sebuah harmonika adalah reed
plate dan reed. Namun berbeda dengan harmonika jenis diatonik, harmonika
kromatik memiliki lebih banyak reed, karena dituntut untuk dapat menghasilkan
nada diatonik dan kromatik sekaligus. Pada harmonika kromatik milik saya, setiap
lembar reed plate, memiliki 20 reed, sehingga total reed yang ada pada
harmonika ini berjumlah 40 reed (20 reed pada reed plate atas, dan 20 reed pada
reed plate bawah). Jumlah ini tergantung pada tipe harmonika kromatik. Bila
sebuah harmonika kromatik memiliki 12 lubang atau 14 lubang, tentunya reed yang
dimiliki lebih banyak pula.
>> Wind saver
Bila Anda melihat pada gambar, di setiap reed plate terdapat
lembaran-lembaran putih atau coklat yang seukuran dengan reed. Bagian itulah yang disebut
sebagai wind saver. Bagian ini berfungsi sebagai katup yang mengurangi
kebocoran udara, karena sebagaimana kita lihat, dengan jumlah reed yang lebih
banyak, maka jumlah rongga (reed slot) yang terdapat pada reed plate tentunya juga lebih
banyak. Itu berarti kemungkinan terjadinya kebocoran udara sangat besar. Nah,
karena pada harmonika kromatik, 1 lubang dapat berisi 4 reed (reed nada-nada diatonis dan kromatis), maka dengan adanya wind saver tersebut maka
2 reed yang berhimpitan tidak berbunyi semuanya secara bersamaan (hanya salah
satu yang berbunyi). Bila tak ada wind saver, udara dapat menerobos melalui
celah-celah reed slot, yang akibatnya dapat menggetarkan reed yang tidak kita kehendaki untuk bergetar.
>> Slider
Secara garis besar, demikianlah penjelasan tentang komponen penyusun sebuah harmonika kromatik. Semoga bermanfaat bagi Anda yang penasaran dengan harmonika kromatik.
Salam sedot sebul!
Sunday, April 14, 2013
Wafer Sedot Sebul
Entah kenapa saya suka sekali menyebut harmonika-harmonika saya dengan panggilan “Wafer”.
Mungkin karena bentuknya yang mirip dengan salah satu jenis makanan ringan itu. Bentuknya yang
persegi panjang dan memiliki pola kotak-kotak sebagai akibat adanya
lubang-lubang pada comb-nya membuat saya merasa nyaman dengan sebutan itu.
Apalagi harmonika jenis tremolo, yang menurut saya lebih menyerupai bentuk
wafer, dibanding dengan jenis diatonik.
Tapi bagi saya yang lebih menarik adalah, untuk menikmati wafer
dan harmonika, mau tak mau bibir kita sama-sama melakukan “kontak fisik” dengan
ke dua benda tersebut Hanya bedanya,
yang satu bisa dikunyah dan ditelan langsung, sedangkan yang lainnya hanya
tertahan di luar sambil disedot dan disebul…hahahahah…!
Ah, bagaimanapun
juga, ini opini saya sendiri. Bagi saya, panggilan sayang tersebut membuat saya
makin cinta dengan instrumen musik yang satu ini. Menurut Anda aneh…? Hehehe…tak
mengapa…bebas-bebas saja, kok..!
Jadi, kalau Anda sendiri juga punya panggilan sayang terhadap
harmonika Anda, jangan ragu untuk berbagi cerita Anda di sini…
Sementara, saya…uhm…saya cium-cium wafer diatonik saya dulu ya? Xixixxixi……:)
Sementara, saya…uhm…saya cium-cium wafer diatonik saya dulu ya? Xixixxixi……:)
Sunday, April 7, 2013
Tak usah buru-buru...
Hey...
Saya yakin semua orang yang sedang belajar harmonika, terutama jenis diatonik, pasti ingin segera bisa memainkan harmonika dengan teknik bending, pada posisi 2, atau 3, dan sebagainya, demi mengejar nuansa musik "Blues" yang memang dapat dihasilkan secara unik oleh alat musik ini.
Tapi kebanyakan pemula justru seringkali merasa frustrasi ketika harus belajar teknik bending tersebut, atau ketika mereka harus memahami pola nada yang digunakan pada posisi 2.
Nah, menurut saya, bagi Anda yang sedang belajar tentang alat musik ini, tak usahlah terburu-buru untuk melesat ke tahap berikutnya, yaitu tahap penggunaan teknik bending, dan sebagainya. Nikmati saja dulu proses belajar tahap dasarnya. Sekali lagi, kuasailah dahulu cara mendapatkan nada tunggal (single note) secara bersih, rapi dan dengan kondisi rileks (jangan tegang). Gunakanlah dahulu posisi 1, yaitu posisi memainkan lagu dengan nada dasar lagu adalah sama dengan kunci yang tercetak pada harmonika.
Lancarkanlah dahulu teknik bernafas Anda. Gunakan diafragma dan maksimalkan ruang dalam rongga mulut Anda, supaya suara yang dihasilkan menjadi lebih sempurna.
O ya, ada sebuah video tutorial yang dibuat oleh seorang pemain harmonika handal (atau kalau boleh saya bilang : Maestro Harmonika Diatonik se-dunia) yang bernama Howard Levy. Beliau memberi contoh penggunaan 1 lagu yang dapat dimainkan secara mudah oleh pemula, tanpa harus pusing dengan teknik bending dan sebagainya. Pemula dapat berlatih memainkan lagu ini untuk membiasakan diri bermain secara bersih, rapi dan rileks. Intinya, tak perlu tergesa-gesa untuk "naik kelas". Nikmati dulu saja prosesnya, hehehe....
Nah, maka dari itu silakan simak video berikut ini...
Saya yakin semua orang yang sedang belajar harmonika, terutama jenis diatonik, pasti ingin segera bisa memainkan harmonika dengan teknik bending, pada posisi 2, atau 3, dan sebagainya, demi mengejar nuansa musik "Blues" yang memang dapat dihasilkan secara unik oleh alat musik ini.
Tapi kebanyakan pemula justru seringkali merasa frustrasi ketika harus belajar teknik bending tersebut, atau ketika mereka harus memahami pola nada yang digunakan pada posisi 2.
Nah, menurut saya, bagi Anda yang sedang belajar tentang alat musik ini, tak usahlah terburu-buru untuk melesat ke tahap berikutnya, yaitu tahap penggunaan teknik bending, dan sebagainya. Nikmati saja dulu proses belajar tahap dasarnya. Sekali lagi, kuasailah dahulu cara mendapatkan nada tunggal (single note) secara bersih, rapi dan dengan kondisi rileks (jangan tegang). Gunakanlah dahulu posisi 1, yaitu posisi memainkan lagu dengan nada dasar lagu adalah sama dengan kunci yang tercetak pada harmonika.
Lancarkanlah dahulu teknik bernafas Anda. Gunakan diafragma dan maksimalkan ruang dalam rongga mulut Anda, supaya suara yang dihasilkan menjadi lebih sempurna.
O ya, ada sebuah video tutorial yang dibuat oleh seorang pemain harmonika handal (atau kalau boleh saya bilang : Maestro Harmonika Diatonik se-dunia) yang bernama Howard Levy. Beliau memberi contoh penggunaan 1 lagu yang dapat dimainkan secara mudah oleh pemula, tanpa harus pusing dengan teknik bending dan sebagainya. Pemula dapat berlatih memainkan lagu ini untuk membiasakan diri bermain secara bersih, rapi dan rileks. Intinya, tak perlu tergesa-gesa untuk "naik kelas". Nikmati dulu saja prosesnya, hehehe....
Nah, maka dari itu silakan simak video berikut ini...
Uhm...sebelumnya saya perlu memberitahu, untuk teknik bending, dan posisi bermain dalam harmonika, akan saya bagikan pada tulisan-tulisan saya berikutnya. Jadi jangan dulu terburu-buru, sobat! :)
Subscribe to:
Posts (Atom)







